<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278</id><updated>2011-12-19T15:13:21.867+07:00</updated><category term='gaib'/><category term='dunia gaib'/><category term='dunia misteri'/><category term='uang'/><category term='pesugihan'/><category term='dunia artis'/><category term='dunia heboh'/><category term='lokasi'/><category term='dunia pesugihan'/><category term='pesugihan gaib'/><title type='text'>Dunia Lain</title><subtitle type='html'>Misteri , Harta, Kekayaan, Kudaya, Terkenal, Dunia pesugihan, Harta gaib,Tumbal Pesugihan,Terkini, Updte .</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mbahgundul.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>133</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-6023506175899175158</id><published>2011-08-12T09:15:00.000+07:00</published><updated>2011-08-12T09:15:04.727+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Pesugihan Tukar Guling Nyawa</title><content type='html'> &lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Jual Musuh ( JM ) &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesugihan   Tukar Guling ini yang paling banyak diminati orang, karena  wadal/tumbal  bisa orang yang dibenci alias musuh bebuyutan sipelaku.  Karena yang  dijadikan anggunan itu musuh maka dikenal dengan JM (Jual  Musuh),  prosesi ritualnya setelah pelaku menjalankan penayuhan/mendapat  petunjuk  ghaib maka dia wajib ritual pati geni sehari semalam untuk  transaksi  dengan ghaibnya Sang Penguasa&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   Ritual ini sebenarnya paling simpel namun butuh nyali yang besar,  karena  star mulai dari awal sampai akhir itu dijalani sendiri, jadi  tidak ada  namanya rekayasa sebab tugas kuncen hanya membukakan gerbang  untuk  menghubungkan antara pelaku dan ghaibnya. Asal pelaku menuruti  tuntunan  kuncen dan menjalankan dengan sungguh-sungguh tentunya  kesuksesan yang  bakal dia raih. Banyak orang mundur lantaran nyalinya  ciut, namun jika  orang kepepet dan dendam dengan orang yang menyakiti  tentunya keberanian  akan timbul. Mau jalani ritual balas dendam dapat  duit? Keterangan  lengkapnya silahkan hubungi: "dukunkugaul@gmail.com"&amp;nbsp;  ingat ini bukan  untuk main-main!!! banyak orang yang gagal pesugihan  kesana kemari  rata-rata disinilah tempat persinggahan terakhir, tak  heran ada juga  jutru dukun penipunya yang dijadikan tumbalnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tukar Bojo "TG"(Tutup Garwo)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak   orang yang salah artian bahwa Tukar Guling itu sama dengan Tukar Bojo,   sebenarnya cuma beda artian bahwa Tukar Bojo yang ditumbalkan adalah   suami/istri yang menyeleweng mengkianatinya, maka disebut pula Tutup   Garwo (Tutup=Mati dan Garwo=Sigarane Nyowo). Pelaku ini biasanya   menjalankan karena jengkel dengan tindakan pasangannya yang menyeleweng   bahkan tidak bertanggung jawab dengan keluarganya, tega menyakiti   /menyiksa /dsb. Karena sudah mentok biasanya si pelaku tega menutup   (menumbalkan) bojonya, cerai mati tapi meninggalkan harta buat keluarga   dengan ditumbalkan dengan bangsa jin. Ritual ini juga lagi marak   akhir-akhir ini lantaran banyaknya perselingkuhan!!! Bagi anda yang lagi   selingkuh harap sadar!!! Jangan sampai suami/istri anda nekat jalani   ritual Tukar Bojo di Sini .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Tukar Janin "MT"(Meteng Tembean)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah   satu metode pesugihan yang  sangat langka, bukan menumbalkan janin   seperti anggapan banyak orang!  bukan aborsi yang membahayakan nyawa!   Tukar janin adalah suatu prosesi  pemindahan janin tersebut untuk   diberikan kebangsa jin perempuan yang  menginginkan keturunan. Ada pula   yang menyebut ritual MT karena  persyaratannya hanya bisa dilakukan  oleh  perempuan yang hamil pertama  maka dikenal dengan Meteng Tembean.   Dengan cacatan pelaku harus ikhlas  melepas janinnya,biasanya ini  korban  dari hasil hubungan diluar nikah,  dan kebanyakan pelaku ritual  ini  kekasih yang menghamili tidak  bertanggung jawab. Dalam prosesinya  jika  wanita itu berhasil negosiasi  dan anaknya di ikhlaskan untuk   mereka(bangsa jin) rawat sebagai anaknya  dengan catatan pantangannya   tidak boleh diharap-harap lagi, maka bangsa  jin tersebut akan   memberikan imbalan berupa uang/perhiasan sebagai tanda  keikhlasan   pelaku ritual tersebut. Mengenai nominalnya itu juga  tergantung   rezekinya si jabang bayinya,mungkin diukur besar/kecilnya  berdasarkan   weton si pelaku ritual. Prosesi Ritual Pesugihan ini dengan  tujuan   menolong dan tidak adanya resiko asal perjanjian tersebut    ditepati,untuk informasi jelasnya silahkan konsultasikan ke    Kuncennya,silahkan hubungi:"&lt;a href="http://mbahgundul.blogspot.com/"&gt;dukunkugaul@gmail.com"&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-6023506175899175158?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6023506175899175158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6023506175899175158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/08/pesugihan-tukar-guling-nyawa.html' title='Pesugihan Tukar Guling Nyawa'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-4407895498867112591</id><published>2011-02-22T21:13:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T21:13:43.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Terdampar Di Keraton Pantai Selatan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcThTStQTm6IaT2JuhTLpEzQqxaJzghyt6LKjQBf6CNbCVC57FasmNvAdCw" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcThTStQTm6IaT2JuhTLpEzQqxaJzghyt6LKjQBf6CNbCVC57FasmNvAdCw" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Petualangan di pantai Bandealit yang angker itu benar-benar membuatnya  jera. Dia terjebak di sebuah kerajaan gaib yang dihuni oleh  wanita-wanita sangat cantik. Siapa mereka sebenarnya…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku  Hengki, usia 25 tahun. Salah satu kegemaranku adalah jalan-jalan  menikmati keindahan alam, baik itu pegunungan maupun pantai. Sudah  banyak tempat yang kukunjungi. Bahkan, sejumlah gunung di Jawa, seperti  Gunung Semeru dan Bromo telah aku jelajahi. Demikian pula beberapa  kawasan pantai yang legendaris pernah kujamah dengan tanganku.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rasanya  ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.  Dengan kegemaranku bertravelling telah banyak memberiku pengalaman baru,  teman-teman baru, dan harapan-harapan baru. Tapi, aku tidak sendirian  melakukan semua itu. Ada 8 orang teman yang selalu bersama dan kompak  dalam mewujudkan kegemaran tersebut.&lt;br /&gt;Umumnya, kami melakukan  pendakian ke gunung, atau berkemah di sekitar pantai. Kegiatan ini  terutama sekali kami lakukan saat kami liburan kuliah. Maklum, semua  gengku adalah mahasiswa yang kuliah di berbagai perguruan tinggi. Ada  yang kuliah di ITN Malang, ITS Surabaya, UMM Malang, Unesa Surabaya, dan  aku sendiri di STIE Mandala Jember.&lt;br /&gt;Suatu kali, kami mengadakan  plesir ke pantai Bandealit. Hampir semua orang tahu, kalau pantai yang  satu ini masih perawan dan penuh dengan misteri. Disamping jarang  dirambah orang, pantai Bandealit beserta hutannya dihuni oleh  manusia-manusia kerdil yang sulit dilacak keberadaannya, juga binatang  buas masih banyak yang berkeliaran.&lt;br /&gt;Sebagai orang-orang yang masih  berjiwa muda, kami tertantang untuk menaklukkan keganasan pantai  Bandealit. Dengan diantar beberapa petugas dari Perum Perhutani, kami  menelusuri hutan yang masih perawan lewat jalan setapak. Hutan lindung  ini ternyata memang benar-benar sangat lebat dan belum terjamah oleh  tangan-tangan kotor.&lt;br /&gt;Bunga anggrek banyak bertebaran di atas batu,  pohon, dan di lereng-lereng bukit dengan berbagai aroma dan warna yang  sangat indah sekali. Sayang, petugas Perhutani dan Pelindung Alam  melarang kami memetik anggrek tersebut. &lt;br /&gt;Hampir setengah hari kami  berjalan naik turun bukit. Karena saking lebatnya pepohonan, sinar  matahari tidak bisa menerobos tubuh kami.&lt;br /&gt;Sesampainya di bibir  pantai, kami segera memasang tenda, karena hari memang telah petang.  Setelah itu, kami santai menikmati petang dengan minum kopi hangat dan  makan mie instant. Tiga jam kemudian, malam tiba. Anak-anak ada yang  main kartu di dalam tenda, ada juga yang memancing sambil duduk-duduk di  atas batu karang.&lt;br /&gt;Kebetulan sekali, malam itu purnama bersinar sempurna. Rasanya damai sekali berada di tengah-tengah alam yang masih asri. &lt;br /&gt;Karena  keadaan alamnya yang demikian permai, kami betah berkemah di lokasi  pantai ini. Namun, sewaktu memasuki malam ketiga, aku mengalami suatu  keanehan yang sulit diterima nalar. &lt;br /&gt;Malam itu, sekitar pukul 12  malam, aku tidak bisa tidur. Kulihat di sisi kiriku Arman, tertidur  dengan pulas. Kulihat pula di sisi kananku Andi juga tertidur ngorok.&lt;br /&gt;Karena  kesal sendirian, perlahan-lahan aku keluar dari tenda. Entah kenapa,  betapa takjubnya aku melihat pemandangan alam dan air laut yang  mengkilat diterpa sinar rembulan. &lt;br /&gt;Ya, malam itu aku berdiri  sendirian menghadap laut lepas. Angin malam benar-benar terasa segar dan  tenang. Ombak pun berdebur ramah, menghadirkan irama alam yang  menyegarkan pikiran.&lt;br /&gt;Namun, laut yang semula tenang, tiba-tiba  berubah seperti mengamuk. Ombak datang bergulung-gulung menjilati pantai  Bandealit, disertai gemuruh angin semula ramah namun kini berhembus tak  tentu arah. &lt;br /&gt;Tapi yang jauh lebih aneh adalah diriku. Entah  bagaimana, aku tidak merasa takut atau panic dengan perubahan alam yang  sepertinya marah itu. Malahan, aku tetap saja asyik duduk-duduk  menikmati kebesaran Sang Pencipta Alam.&lt;br /&gt;Dari jarak sekitar 100 meter,  kulihat tenda yang dihuni teman-teman tidak ada yang terbuka, pertanda  semua penghuninya masih tetap tertidur pulas. Sementara itu, gulungan  ombak yang menghempas pantai semakin mengganas. Bahkan, tiba-tiba  suasana pantai jadi mendung dan gelap. Tak ada sinar purnama yang semula  permai. Sementara, cahaya yang nampak di pantai itu hanya lampu listrik  baterai dari dalam tenda teman-teman yang terlihat berkelap-kelip di  kejauhan. &lt;br /&gt;Aku sendiri tidak tahu siapa saja yang masih di pantai  selain diriku. Namun aku sendiri, saat itu tidak memperdulikan hal itu.  Yang terpikirkan hanya menikmati malam.&lt;br /&gt;Deburan ombak pantai masih  terus bergulung-gulung seperti alunan musik memecah kesunyian malam.  Ketika asyik menikmati suasana sekitar, mendadak aku dikejutkan oleh  suara yang sangat asing di telingaku. Ya, suara itu seperti langkah kuda  yang menarik kereta diiringi gemerincing klintingan yang biasanya  menghiasi leher kuda.&lt;br /&gt;Secara reflek, aku memalingkan wajah ke arah  laut lepas tempat asal suara aneh itu muncul. Kembali aku merasakan  keanehan. Wujud kereta dan kuda tidak ada. Yang kulihat hanya deburan  ombak yang menyapu pantai.&lt;br /&gt;Setelah itu, kembali suasana menjadi sunyi dan sepi. Keheningan menyelimuti pantai Bandealit. &lt;br /&gt;Merasa  tidak ada sesuatu yang terjadi, aku kembali bermain air dengan  jari-jari kakiku. Namun, belum sempat aku memanjakan kakiku dengan air  laut, lagi-lagi aku dikejutkan dengan suara yang sama. Bahkan kali ini,  suara tersebut semakin jelas. Suara gemerincing klintingan sampai terasa  memekakkan telingaku. &lt;br /&gt;Dengan perasaan berdebar-debar, kuarahkan  pandanganku pada sumber suara itu datang. Darahku seketika berdesir  diiringi detak jantung berdegup cepat. Bagaimana tidak, kulihat ada  suatu keanehan yang sepertinya muncul dari dasar laut. Seberkas sinar  yang sangat menyilaukan mata menyemubul di antara gelombang. Dan yang  lebih aneh, seperti ada sesuatu di balik cahaya kemilau itu. &lt;br /&gt;Sayangnya,  belum sempat aku melihat wujud apa sebenarnya yang ada di balik sinar  itu, aku sudah jatuh pingsan. Yang kulihat setelah itu, aku merasa  berada di atas kereta kuda dengan pengendalinya seorang wanita cantik,  sementara itu disamping kiri dan kananya ada beberapa wanita yang  sepertinya turut menjagaku.&lt;br /&gt;Aku berusaha berontak dan berteriak, tapi aku tidak bisa mengeluarkan suara. Hingga akhirnya aku pasrah. &lt;br /&gt;Tidak  lama kemudian, pemandangan yang kulihat benar-benar membuatku terpesona  dan keheranan. Kereta berhenti di suatu tempat yang sangat terang dan  indah. Orang di sekelilingku hampir semuanya wanita dengan pakaian ala  kerajaan. Ada juga kaum lelaki, tetapi mereka selalu di belakang para  wanita itu, dan mereka selalu siap menunggu perintah.&lt;br /&gt;Setelah lama  berada di ruangan yang sangat indah dan sulit digambarkan itu, tiba-tiba  muncul seorang wanita bermahkota. Sepetinya wanita ini adalah pemimpin  dari para wanita yang membawaku. Dengan tatapan matanya yang tajam,  namun kurasakan sejuk saat beradu pandang, wanita itu angkat bicara  memberi tawaran padaku.&lt;br /&gt;“Cah bagus, maukah kamu menjadi suami dari  anak-anakku yang cantik-cantik itu? Kalau kamu mau, aku siap memberikan  harta kekayaan yang melimpah padamu.”&lt;br /&gt;Aku tdiak segera menjawabnya.  Memang, kulihat ada sekitar 10 wanita cantik yang duduk berjajar di  belakang wanita bermahkota itu. Dan rasanya aku tidak mungkin menikahi  wanita-wanita cantik itu sekaligus. Dengan halus aku menolak  mentah-mentah permintaan konyol itu.&lt;br /&gt;Dalam benakku berkecamuk,  pikiran yang susah diterjemahkan, karena aku masih merasa sangat aneh.  Meski beberapa kali aku dibujuk agar mau mengawani 10 wanita cantik  tersebut, aku tetap bersikukuh dengan pendirianku. Walaupun aku  diiming-imingi harta yang tiada tara jumlahnya.&lt;br /&gt;Karena aku tetap  menolak, tiba-tiba aku ditendang, bahkan kemudian dicambuk oleh  wanita-wanita cantik tadi. Yang tak kalah aneh, kecantikan yang semula  terpancar di wajahnya berubah seram. Tiba-tiba wajah wanita-wanita  cantik itu mengeluarkan taring dan sekujur tubuhnya bersisik seperti  ular.&lt;br /&gt;Bau anyir dan tubuh berlendir benar-benar membuatku mual. Ya,  wanita-wanita tadi telah berubah menjadi ular berbisa yang kemudian  melilit sekujur tubuhku. Pemimpin wanita tadi juga telah berubah menjadi  ular bermahkota.&lt;br /&gt;Aku berusaha untuk menguatkan diri. Tidak lupa aku  berdoa dan menyebut asma Allah SWT berkali-kali agar aku bisa selamat  dari marabahaya, dan kembali pada keluargaku. Hingga akhirnya aku jatuh  pingsan lagi.&lt;br /&gt;Kejadian berikutnya, aku ditemukan seorang nelayan  mengapung di tengah lautan dengan pakaian yang sudah compang-camping.  Tapi, anehnya sekujur tubuhku masih utuh dan segar. Nelayan yang  belakangan aku ketahui bernama Pak Dirjo ini rupanya segera membawaku ke  darat dan menyerahkan jasadku pada sesepuh Desa Bandealit.&lt;br /&gt;Kabar  tentang penemuan jasadku benar-benar membuat penduduk Desa Bandealit  yang hanya beberapa KK jumlahnya itu jadi gempar. Begitu juga dengan  kedua orang tuaku yang segera dihubungi oleh Polisi setempat.  Teman-teman yang ikut pergi bertravelling juga turut serta datang satu  mobil dengan kedua orangtuaku.&lt;br /&gt;Kejadian ini benar-benar luar biasa  sekali. Sebab, bagaimana mungkin jasadku tetap utuh bila mengapung di  tengah laut selama satu minggu. &lt;br /&gt;Ketika aku siuman dari tidur panjang  yang aneh itu, aku pun benar-benar merasa takjub atas kejadian ini.   Bagaimana mungkin aku bisa hidup mengapung di atas air laut selama  seminggu, dan perasaan aku hanya sebentar tertidur. &lt;br /&gt;“Kamu tidak usah  bingung. Dunia gaib dan alam nyata memang sangat berbeda. Yang patut  kita syukuri sekarang, kamu bisa kembali ke dunia ini dengan selamat.  Dan itulah kebesaran Allah yang patut kita syukuri,” kata sesepuh desa  Bandealit.&lt;br /&gt;“Lalu siapakah mereka yang telah menyanderaku?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah penguasa laut selatan, dan kamu telah terdampar di kerajaan laut selatan tersebut.”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah,  sekarang kamu telah kembali ke dunia nyata. Padahal Ibu dan ayahmu,  juga semua keluarga kita, telah mengadakan tahlillan hari ke tujuh,”  ucap Ibuku dengan linangan air mata. &lt;br /&gt;Aku tertegun dan menatap  kesedihan Ibu. Lalu aku memeluk Ibu dengan hangat dan erat. Aku berjanji  dalam hati, tak akan membuatnya was-was dan khawatir lagi. &lt;br /&gt;Sejak  peristiwa itu, aku tidak lagi senang pergi ke tempat yang aneh-aneh.  Apalagi, kini di sampingku sudah ada wanita cantik yang menjadi isteri  syahku, dan telah memberiku seorang anak. Yang jelas, wanita satu ini  bukan wanita siluman seperti di kerajaan laut selatan dulu. Jadi, karena  itulah aku sangat mencintainya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-4407895498867112591?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/4407895498867112591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/4407895498867112591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/terdampar-di-keraton-pantai-selatan.html' title='Terdampar Di Keraton Pantai Selatan'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-191086308869657679</id><published>2011-02-22T21:10:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T21:10:41.178+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Kisah pemilik Uang balik</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSybafKHP6L6BaeWYx6S8BNEmUE_RacFMkGkAXci3nGSMrx7YgrkgQ5Fv4" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSybafKHP6L6BaeWYx6S8BNEmUE_RacFMkGkAXci3nGSMrx7YgrkgQ5Fv4" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seorang wanita cantik memberinya  selembar uang Rp. 50.000. Ternyata, ini adalah uang siluman, atau yang  kemudian dikenal dengan nama Uang Balik. Uang inilah yang pada akhirnya  membuatnya kaya raya. Lantas, apa yang kemudian terjadi….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut  saja lelaki yang sejatinya berwajah tampan itu dengan nama Danu.  Penulis mengenalnya berkat jasa seorang teman, yang kebetulan juga  temannya Danu. Seperti penuturan sohib Penulis itu, Danu memiliki kisah  perjalanan hidup yang sangat mencekam. Seperti apa? Danu membeberkan  kesaksiannya. Berikut ini kami jalinkan kisahnya untuk Anda…:&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Malam  itu, entah malam yang ke berapa kalinya aku dan isteriku harus tidur  dengan menahan lapar. Maklumlah, pekerjaanku yang hanya sebagai pengepul  barang rongsokan kelas teri, yang setiap hari keliling dari kampung ke  kampung dengan sepeda butut, memang tidak menentu pendapatannya. Hampir  setiap hari, kami hanya bisa makan dua piring nasi dengan sayur bening  dan secobek sambal terasi. Kalau kebetulan dapat rezeki agak lumayan,  barulah kami bisa makan dengan ikan goreng atau telur asin. &lt;br /&gt;Kebetulan,  siang hari tadi hujan turun lebat sekali, sehingga aku tidak bisa  leluasa melakukan aktivitasku keliling kampung membeli koran atau  botol-botol bekas. Alhasil, tak ada kelebihan uang yang bisa kubawa  pulang, kecuali rasa letih dan kepala yang pusing akibat kehujanan  hampir seharian. &lt;br /&gt;Selepas sholat Isya, aku dan isteriku hanya makan  sisa sayur asam yang tinggal airnya saja. Nasi pun hanya tinggal  sepiring, dan kami makan bersama. Walau begitu, aku masih tetap merasa  beruntung. Meski kehidupan ekonomiku carut-marut, isteriku tetap setia  mendampingku. Dia juga termasuk seorang yang tekun dalam beribadah. &lt;br /&gt;Ternyata  aku tidak salah memilih Kartika sebagai pendamping hidupku. Dia tak  hanya cantik dan salehah, namun dia juga isteri yang sangat sabar dalam  menghadapi segala cobaan. Namun, cintanya yang tulus ini membuatku  merasa bersalah, sebab aku tdak bisa membahagiakan Kartika. Jangankan  memberinya harta yang berlimpah, untuk memberi  kehidupan yang layak  saja aku tidak bisa melakukannya. &lt;br /&gt;Sungguh, bila ingat semua itu, tak  terasa air mataku menetes. Aku merasa telah menjadi lelaki tak berguna.  Nasib buruk sepertinya telah menjadi bagian dalam hidupku. Bukannya aku  pemalas atau tidak mau bekerja keras. Aku sudah berusaha dengan  sungguh-sungguh dalam mencari rezeki. Tapi tetap saja hasilnya  pas-pasan.&lt;br /&gt;“Tika, sampai kapan hidup kita akan begini terus?” cetusku sambil memandangi wajahnya yang ayu.&lt;br /&gt;“Sabar ya, Mas. Mungkin ini cobaan dari Allah!” jawabnya singkat.&lt;br /&gt;“Coba kalau dulu aku sekolah sampai sarjana, pasti hidup kita tidak akan susah begini,” kataku, menggerutu.&lt;br /&gt;“Sudahlah, jangan menyalahkan keadaan, tidak baik terus-menerus mengeluh!” timpalnya dengan bijak.&lt;br /&gt;Kartika,  atau biasa aku memanggilnya Tika, memang selalu menjadi sumber  pencerahan batin bagiku. Dia adalah apu semangat hidupku dalam  mengarungi kehidupan di dunia ini. Setiap kali aku merasa putus asa,  setiap kali aku terjatuh, maka dia selalu ada dan menjadi malaikat yang  seolah tak pernah bosan mengulurkan tangannya untukku. Rasanya berdosa  sekali bila aku menyatikinya.&lt;br /&gt;Suatu malam, aku duduk menyendiri di  bibir sumur tua yang sudah tak terpakai lagi. Jaraknya sekitar 50 meter  dari belakang rumahku. Waktu itu, hatiku memang sedang galau memikirkan  kenyataan hidup yang kualami. Sambil membiarkan lamunanku berkelana  entah kemana, mataku seakan tak berkedip memandang langit yang penuh  dengan taburan bintang. Apalagi, malam itu bulan sedang purnama.  Sinarnya yang terang menjadi mahkota di malam nan sunyi itu. &lt;br /&gt;Entah  pukul berapa, aku tak tahu, sebab aku memang tak pernah memiliki jam  tangan yang bagiku adalah sebuah barang mewah. Yang pasti, malam itu  suasana sudah sangat sepi. Tak ada suara pun orang lewat. Bahkan suara  jangkrik pun seolah tidak terdengar. Ya, malam yang hening. Rasa dingin  mulai menyelimuti tubuhku.&lt;br /&gt;Ketika menyadari kesendirianku yang  sedemikian sempurna, tiba-tiba aku merasa takut sekali. Entah kenapa?  Bulu kudukku mendadak merinding. Aku bergegas bangkit dari tempat itu.  Namun, tiba-tiba aku tersentak kaget. &lt;br /&gt;“Jangan pergi dari sini, kalau kamu ingin hidup kaya!” &lt;br /&gt;Demikian kata satu suara yang tidak berwujud, yang membuatku kaget setengah mati.&lt;br /&gt;Aku celingukkan, mencoba mencari sumber siapa pemilik suara itu. Tapi, jangankan orangnya, bayangannya pun aku tidak melihatnya.&lt;br /&gt;“Siapa kau ini?” tanyaku, dengan bulu kuduk semakin berdiri meremang. &lt;br /&gt;“Kembalilah  duduk di bibir sumur ini, Sayang!” suara iu kembali terdengar. Astaga!  Aku baru menyadari kalau suadara itu terdengar lembut sekali. Ya, suara  seorang wanita. Tapi, siapa dia? Mengapa ada wanita tengah malam begini?  &lt;br /&gt;“Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Duduklah kembali di bibir sumur ini, Sayang!” katanya lagi.&lt;br /&gt;Entah mengapa, sekali ini aku menuruti perintahnya.&lt;br /&gt;“Lihatlah ke dalam sumur dan tolong keluarkan aku dari dalam sumur ini,” pinta suara itu dengan nada lembut penuh permohonan.&lt;br /&gt;Seperti  terhipnotis, aku langsung melolong ke dalam sumur. Aneh bin ajaib! Di  dalam sumur yang sudah tidak terpakai selama bertahun-tahun ternyata  memang ada seorang perempuan. Dengan sigap aku kemudian berusaha  mengeluarkan wanita cantik itu. Anehnya, saat itu, entah mengapa rasa  takut yang tadi menyergap batinku telah hilang entah kemana. Bahkan,  demi melihat kecantikan wanita itu, rasa takutku malah berubah menjadi  rasa cinta dan sayang. Padahal, jelas aku tidak pernah mengenal, atau  melihat wanita itu sebelumnya.&lt;br /&gt;Kejadian selanjutnya sungguh terjadi  di luar akal sehat. Nafsu birahiku tiba-tiba bergejolak saat melihat  paha wanita itu tersingkap karena tertitup angin malam. Dan entah siapa  yang memulai, tiba-tiba aku sudah bergumulnya. Ya, kami bercinta seperti  laiknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara setelah sekian lama tidak  saling bersua. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi detik selanjutnya? &lt;br /&gt;Aku terkulai  lemas setelah menyemprotkan magma kenikmatan pada sesosok wanita cnatik  tersebut. Entah berapa lama kami bercumbu. Yang pasti, sebelum pergi,  wanita cantk itu memberikan selembar uang lima puluh ribuan rupiah  padaku sambil berkata, “Uang ini sebagai awal dari kekayaanmu, Sayang!”  Setelah itu dia pergi, dan bayangannya pun lenyap di telan gelap malam  di ambang subuh.&lt;br /&gt;Aku tertegun dan bingung. Aku sulit mempercayai apa  yang barusan terjadi. Kuraba saku bajuku, ternyata selembar uang lima  puluh ribuan rupiah itu benar-benar ada….&lt;br /&gt;Pagi hari setelah kejadian  ini, kepada Kartika aku pamit mencari rongsokan seperti biasanya. Tapi  sebenarnya aku tidak mencari rongsokan. Aku masih bingung dan cemas bila  teringat kejadian semalam.&lt;br /&gt;“Apa sebenarnya maksud uang ini?” batinku sambil memegang uang Rp. 50.000 pemberi wanita misterius itu. &lt;br /&gt;Meski  pada awalnya sekedar mencoba-coba, akhirnya kubelanjarkan uang itu ke  sebuah warung. Aku membeli beras, minyak goreng, telur dan beberapa  makanan ringan untuk camilan isteriku. Setelah dihitung, jumlah  belanjaanku Rp. 42.000. Jadi, aku masih menerima kembalian Rp. 8000&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, bukan main senangnya isteriku. Dia menyambutku dengan rasa syukur.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, akhirnya Mas Danu dapat rezeki kan?” ycap Kartika, memanjatkan rasa syukurnya.&lt;br /&gt;Aku tersenyum, pura-pura ikut mengucapkan syukur. Dalam hati aku tetap berniat akan berusaha untuk menjaga rahasia ini. &lt;br /&gt;Setelah  menyerahkan belanjaan itu kepada Kartika, aku bergegas mandi. Saat  kulepas bajuku, tiba-tiba uang Rp. 50.000 ribuan jatuh dari saku saku  bajuku. Aku terpana dibuatnya. Aneh, bukankah uang itu sudah habis  kubelanjakan? Lantas, kenapa bisa balik lagi ke saku bajuku? &lt;br /&gt;Lambat  laun akhirnya aku mulai menyadari bahwa uang Rp. 50.000 pemberian  makhluk misterius itu memang bukanlah sembarang uang. Mungkin, ini  adalah uang siluman? Atau mungkin pula ini yang dinakaman Uang Balik?&lt;br /&gt;Pada  awalnya, batinku gelisah karena kenyataan ini. Namun celakanya, lambat  laun aku malah menikmati keanehan ini. Mungkin, karena semakin hari  uangku semakin banyak. Bayangkan saja, setiap kali aku belanja uangku  pasti kembali utuh. Bukan hanya barang yang kubeli yang kuterima, tapi  sekaligus juga uang kembaliannya. &lt;br /&gt;Untuk menghindari kecurigaan  isteriku, aku berdalih bisnis barang antik dengan orang kaya. Karena  ketulusan cintanya, isteriku percaya saja dengan kebohonganku.&lt;br /&gt;Berkat  Uang Balik itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku mampu membeli  rumah, sawah, dan beberapa areal tanah yang cukup luas. Pekarangan yang  luas tersebut aku kapling-kapling menjadi rumah, kemudian aku jual  perunit. Maka jangan heran bila akhirnya aku mampu membeli mobil, juga  rumah mewah beserta isinya.&lt;br /&gt;Tahukah, ada satu hal yang harus  kulakukan untuk mempertahankan kekayaan yang kumiliki. Setiap malam  Jum’at Legi, aku harus melayani isteri gaibku yang bersemayam di sumur  tua belakang rumah kami. Isteri gelapku ini bernama Puteri Sanca. Dia  berasal dari bangsa lelembut. Dari Puteri Sanca tersebut kekayaanku  bersumber. &lt;br /&gt;Sampai sejauh ini Kartika, isteriku, tidak pernah tahu  sepak terjangku. Dalam hati, sebenarnya aku merasa berdosa. Tapi biarlah  semua ini menjadi rahasia hidupku.&lt;br /&gt;Terlepas dari semua itu, setiap  toko atau warung  yang baru aku beli, entah itu beli semen, emas atau  apa saja, uang dariku pasti hilang tak berbekas. Dan uang itu sebenarnya  tidak hilang, tapi uang itu kembali padaku. Memang, banyak orang yang  curiga padaku, tapi mereka tidak bisa membuktikan kecurigaannya itu.  Apalagi aku selalu berbuat amal baik dengan membagi-bagikan sembako.  Terutama  setiap menjelang lebaran dan menjelang Ramadhan. &lt;br /&gt;Aku juga  selalu menyantuni anak-anak yatim piatu. Jadi, sepertinya aku bersih di  mata masyarakat sekitar. Seiring dengan itu, kekayaanku semakin melimpah  ruah. Dan yang membuatku bahagia Kartika, isteriku, bisa tersenyum  senang dan hidup mewah.&lt;br /&gt;Di luar sepengetahuanku, rupanya secara  diam-diam ada orang yang merasa tertipu oleh ulahku mencari orang  pintarl Akhirnya, orang itu menemukan penangkalnya. Dan orang ini  memberikan rahasia penangkal ini kepada pemilik warung atau toko yang  lainnya.&lt;br /&gt;Apa yang kemudian terjadi?&lt;br /&gt;Entah bagaimana, setiap aku  membeli sesuatu, uangku tidak kembali lagi seperti biasanya. Bahkan  uangku yang kusimpan dibrangkas, tiba-tiba lenyap tanpa sebab. Karena  itulah, dalam waktu singkat, hartaku mulai menipis. Aku benar-benar  shock dengan kenyataan ini. &lt;br /&gt;Sementara itu, tanpa kuduga isteriku  juga mulai curiga dengan sepak terjangku. Dia berusaha menyadarkanku,  tapi aku menangkisnya dengan kera.&lt;br /&gt;“Aku tidak sudi Mas mencari harta  dengan bersekutu dengan setan. Itu namanya murtad, Mas!” kata isteriku,  suatu malam. Baru kali ini kulihat dia berkata keras seperti itu  kepadaku.&lt;br /&gt;Bukannya insyaf, aku malah menendang dan menamparnya. Aku  benar-benar berubah beringas, terlebih setelah tahu kalau isteriku  ternyata mencari orang pintar dan menyuruh orang untuk menguburkan  uangku di kuburan.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui perbuatan Kartika ini, dengan  kejam kuinjak-injak tubuhnya. Untung para tetangga segera menolongnya.  Kalau tidak, mungkin aku telah membunuh isteriku sendiri. &lt;br /&gt;Dengan  kalap aku berlari menuju sumur tua tempat puteri Sanca. Aku  berteriak-teriak memanggil namanya. “Keluar puteri Sanca! Tolong aku.  Beri aku uang. Aku tidak ingin jatuh miskin, aku tidak ingin jadi kere!”  Pintaku menghiba.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari dalam sumur tua tersebut keluar  seorang nenek renta berbaju compang-camping dan berbau anyir.  Orang-orang yang melihatnya pada muntah dan menutup hidungnya. &lt;br /&gt;“Pergi kamu nenek busuk! Aku mau puteri Sanca, bukan kamu!” bentakku setelah meludah karena rasa jijik. &lt;br /&gt;Nenek  itu tertawa menyeramkan. “Puteri Sanca itu ya aku. Ayo sini. Kamu telah  melanggar kesepakatan, sudah dua malam Jum’at, kamu tidak memenuhi  hasrat birahiku!” ucapnya sambil berusaha menyeretku ke dalam sumur tua.&lt;br /&gt;Melihat itu, isteriku berusaha meraih tanganku. Aku sendiri terus meronta melakukan perlawanan. &lt;br /&gt;“Kartika  toloong aku…tolong aku!” pintaku setengah putus asa. Percuma saja,  puteri Sanca yang ternyata siluman tua renta berhasil menyeretku masuk  ke dalam sumur.&lt;br /&gt;Kudengar saat-saat terakhir isteri berteriak pilu  memanggil namaku. Dan suara isteriku itu rasanya begitu nyeri terdengar  di  telingaku. Selanjutnya aku tidak mendengar apa-apa lagi. Pandanganku  jadi gelap dan pekat….&lt;br /&gt;Saat siuman, kudapati diriku berada di ruang  perawatan sebuah rumah sakit. Sekujur tubuhku terasa nyeri. Namun, rasa  nyeri itu seakan lenyap saat kulihat Kartika menatapku dengan senyum,  walau kulihat matanya bengkak dan merah.&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi denganku, Tika?” tanyaku.&lt;br /&gt;Kartika  tak menjawab. Dia berusaha menenangkanku,. Di saat yang sama, baru  kusadari kalau di dalam ruangan itu ada juga ayah dan ibuku, kedua  mertuaku, juga seorang lelaki tua bersorban putih, yang belakangan  kuketahui namanya sebagai Kyai Abdullah (samaran).&lt;br /&gt;Nah, Kyai Abdullah  inilah yang kini membimbing pertobatanku. Belakangan aku tahu kalau  pada hari itu, aku benar-benar jatuh ke dalam sumur tua tersebut.  Untunglah para tetangga menyelamatkanku, walau beberapa persendianku  dinyatakan patah oleh dokter.&lt;br /&gt;Kini, aku telah sembuh dan sehat  wal’afiat. Satu hal yang paling kusyukuri, Allah SWT masih memberiku  panjang umur, sehingga aku bisa melakukan tobatan nasuha. Walau  kekayaanku telah habis, namun aku bersyukur sebab masih memiliki Iman  Islam. Dan, aku juga masih bisa merasa bangga sebab memiliki isteri  salehah seperti Kartika.&lt;br /&gt;Dengan sedikit sisa uang yang ada, Kartika  kini membuka sebuah warung kecil-kecilan, sedangkan aku tinggal di  pesentran milik Kyai Abdullah. Entah untuk berapa lama lagi….&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-191086308869657679?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/191086308869657679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/191086308869657679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/kisah-pemilik-uang-balik.html' title='Kisah pemilik Uang balik'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-7793900230393710659</id><published>2011-02-22T21:08:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T21:08:46.452+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Kaya Dengan Pelihara Jin Pesugihan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTnv1Wc0WTmnaK5ISkMMoeu_athG-bS_owiWghu8ajQnQK46UeyEor8eBwcOQ" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="288" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTnv1Wc0WTmnaK5ISkMMoeu_athG-bS_owiWghu8ajQnQK46UeyEor8eBwcOQ" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesaksian ini dituturkan oleh seseorang  yang enggan disebut identitasnya. Dia berkisah tentang sepenggal  pengalaman yang sangat menyeramkan, yakni bekerja di sebuah perusahaan  garmen dengan seorang bos yang ternyata memuja setan. Seperti apa kisah  lengkapnya…?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama menumpang di rumah  kerabat tanpa ada penghasilan, akhirnya sebuah perusahaan besar skala  internasional (kata iklan yang mereka cantumkan di koran), berkenan  menerimaku sebagai karyawan di bagian produksi. Wah senang sekali, sebab  aku punya sedikit uang untuk memanjakan diri. &lt;br /&gt;Pintu besi gerbang  besar perusahaan itu telah menyambutku kedatanganku di hari pertama  masuk.  Sambil menunggu waktu, kukelilingi area bangunan besar itu,  sekalian melihat-lihat suasana gedung, pelataran parkir, gudang, serta  satu bangunan tua yang menjadi bangunan induk tempat perusahaan besar  ini menjalankan aktivitas bisnisnya.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di  mataku, bangunan tua yang kumaksudkan tadi merupakan satu bangunan  bergaya lama yang terletak di daerah kota tua, namun  masih  memperlihatkan sisi megah yang menyiratkan kejayaan masa lalu  pemiliknya. &lt;br /&gt;“Pemiliknya pasti sangat kaya hingga dapat memiliki  gedung besar yang hampir semegah museum ini. Aku yakin bangunan ini bisa  menjadi satu warisan bersejarah yang telah dipakai secara  temurun-temurun dari pemilik lama perusahaan ini kepada orang yang  sekarang yang mewarisinya,” pikirku. &lt;br /&gt;Menurutku, bangunan bergaya  klasik ini pastilah banyak menyimpan cerita. Atau bahkan peristiwa atas  jatuh bangunnya bisnis keluarga kaya raya tersebut.  Dan dalam suasana  pagi yang cerah, aku sangat menikmati panorama bangunan tua ini. Namun  aneh, tiba tiba sepertinya ada satu kekuatan lain yang menyergapku.  Kirasakan seperti ada suara angin yang berhembus lembut, seolah-olah  meniup daun telingaku. Sayup-sayup terdengar seperti suara desahan  binatang buas di kejauhan yang terbawa angin. &lt;br /&gt;“Ada apa  sesungguhnya?” batinku. Kedua mataku, masih terus asik menikmati  bangunan tua yang pasti adalah karya Bangsa Belanda itu, sebab  arsitekturnya memang bergaya Eropa. &lt;br /&gt;Sekilas, tampak gedung megah ini  kurang terawatt. Jendela besar berkaca buram, kotor, begitu juga dengan  koridor panjang yang melingkarinya. Semuanya terkesan kumuh serta  sedikit agak angker. Bahkan, tangga ke lantai atas pun hanya disinari  sebuah lampu neon yang cahanya mulai temaram.&lt;br /&gt;Tak sengaja,  pandanganku tertuju pada salah satu jendela yang paling kusam di lantai  empat. Entah ruangan apa di atas sana. Sepertinya, ruangan itu hanya  disinari oleh cahaya redup lampu 10 watt. Seketika itu juga semua  pandanganku seakan diselimuti oleh hal yang berbau mistis, seolah-olah  ada sepasang mata yang sedang bergerak mengawasiku dari atas sana. &lt;br /&gt;“Mungkinkah penunggu gedung tua ini sedang mengawasi gerak-geriku,” bisiku dalam hati. &lt;br /&gt;Lalu, segera kuabaikan pikiran itu. Kumantapkan tekadku yang ingin bekerja untuk mendapatkan uang demi kebutuhan hidupku. &lt;br /&gt;“Tunggu sebentar lagi ya, Mas. Bos masih ada urusan. Mohon maaf agak lama menunggu.” &lt;br /&gt;Suara  merdu wanita muda mengagetkanku. Rupanya, tidak terasa aku sudah satu  jam lebih menunggu untuk mendapat giliran masuk wawancara. &lt;br /&gt;Ketika  giliranku masuk, ternyata bos besar itu sedang menyantap makan siang  dengan sangat rakusnya. Mulutnya dipenuhi makanan, kedua pipinya  belepotan bumbu lauk-pauk, sementara kedua tangannya sibuk menyendok  makanan dan memilah buah-buahan pencuci mulut yang ada di atas meja,  seolah tak mempedulikan kehadiranku. &lt;br /&gt;Aku kembali terpana melihat  caranya makan. Hampir menyerupai seekor binatang buas yang baru saja  mendapat mangsa. Aneh, bukankah dia seorang bos besar yang memiliki  perusahaan bertaraf internasional? Tapi mengapa cara makannya seperti  orang kelaparan?&lt;br /&gt;“Ayo, silahkan duduk!” katanya menawariku. Lamunanku pun terputus. Dengan sungkan, aku segera duduk  di depan meja kerjanya.   &lt;br /&gt;Sambil  mencuri-curi pandang, kucoba amati keadaan ruang kerja sang bos.  Sungguh aneh, ruangan besar itu hampir dipenuhi oleh umbo rampe (sesaji)  yang sudah kering. Bahkan, nampak buah-buahan sesaji yang mulai  membusuk hingga airnya menetes mengotori dinding serta karpet lantai.  Aneka kue jajanan menjamur diatas meja. Tampak juga beberapa dupa yang  masih menyala hingga asapnya memenuhi tiap sudut ruangan. Tak hanya itu,  pada dinding serta langit-langit ruangan bergelantungan aneka jimat  hingga menambah keunikan ruang kerja ini.&lt;br /&gt;Kembali aku dibuat semakin  takjub, manakala pandanganku mengarah pada sebuah patung besar setinggi  hampir 2 meter yang dikelilingi banyak sesaji. Patung ini berdiri tegak  disudut ruangan yang agak gelap. Aneh, siapakah laki-laki di depanku ini  sebenarnya?&lt;br /&gt;Saat bertanya jawab denganku, ternyata si bos ini  memiliki sebentuk wajah yang agak aneh.  Matanya menyerupai mata iblis  seperti di film film animasi, sementara kedua alisnya naik ke atas bak  alis para pendekar silat. Saat tersenyum pun dia lebih mirip menyeringai  daripada senyuman, sembari memperlihatkan deretan giginya yang kotor  serta tidak terawatt, bahkan masih dipenuhi sisa sisa makanan. &lt;br /&gt;Sekalipun  sangat aneh dan mengganggu pikiranku, namun aku terpaksa harus  mengabaikan semua ini. Ya, demi mendapatkan sebuah pekerjaan!&lt;br /&gt;Singkat cerita, aku memang diterima bekerja di kantor tersebut….&lt;br /&gt;Setelah  beberapa lama bekerja, baru kusadari kalau aku sebenarnya cuma jadi  umpan kawan-kawan sekantor yang enggan lembur pada setiap kamis malam  atau malam Jum’at. Ada apa sebenarnya? &lt;br /&gt;“Hati hati dengan yang ada dilantai empat, Man!” bisik Larno, salah seorang teman sejawat yang baik padaku. &lt;br /&gt;Aneh,  peringatan ini bukan hanya datang dari Larno. Bahkan Pak Ishak, penjaga  malam di gedung ini juga telah memperingatkanku agar tidak mencoba-coba  naik ke lantai empat sendirian apabila hari telah gelap. &lt;br /&gt;“Kamu  pasti celaka, Nak!” tegasnya ketika aku meminta alasan larangan itu.   Dia menambahkan, “Aku saja yang sudah 18 tahun bekerja disini tidak  berani pergi kelantai empat sendirian, terlebih lagi malam hari.&lt;br /&gt;Mulanya, aku tak serius menanggapi cerita-cerita itu. Hingga suatu malam, terjadilah peristiwa itu….&lt;br /&gt;Malam  itu, jarum jam telah menunjukan pukul 19.30. Hampir seluruh  ruangan  telah kosong.  Suasana mendadak senyap, bahkan kemudian berganti angker.  Di luar sana angin berhembus kencang disertai deru hujan. &lt;br /&gt;Sendirian  aku duduk terpaku di meja kerja ditemani dengan setumpuk tugas yang  belum rampung. Aneh, tiba-tiba pikiranku melayang ke ruang sepi di  lantai empat. Kulirik ruang sepi yang bersinar redup itu. Sepertinya,  dari arah sana akan memunculkan satu bayangan, bahkan mungkin sesuatu  yang mengerikan. &lt;br /&gt;Aneh, tiba tiba sekelebat bayangan wanita tua  melintas. Aku segera bangkit mengejarnya. Kucoba berjalan menuju  munculnya bayangan tadi. Tapi, aku tak menumukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;Aku  yakin telah melihat bayangan seorang nenek. Perempuan renta itu jalan  tertatih tatih. Anehnya, dia menghilang di lorong gelap menuju lantai  empat? Siapa gerangan perempuan tua berbaju kumal itu? &lt;br /&gt;Bukannya  merasa takut, kejadian ini justeru membuatku semakin penasaran. Segera  saja kutelusuri lorong sepi yang terbentang panjang di depanku, sambil  berharap sesosok nenek itu muncul lagi. Anehnya, tiba tiba terdengar  suara perempuan sedang bercakap cakap di ujung koridor gelap ini. Siapa  gerangan? Apa mungkin masih ada seorang staf wanita yang sedang   menerima telepon?  &lt;br /&gt;Ketika aku dalam kebingungan, jantungku nyaris  copot sebab tiba tiba ada sebuah tangan yang merengkuh bahuku. Ketika  aku menoleh, di hadapanku telah berdiri seorang wanita muda. Dia  tersenyum dingin sambil menyodorkan segenggam kertas.&lt;br /&gt;“Mencari siapa, Mas?” tanyanya datar, disertai raut wajah dingin tanpa ekspresi.&lt;br /&gt;Aku diam tergugu. Wanita itu kembali berkata, “Tolong fotocopy semua dokumen ini. Bisa kan?”&lt;br /&gt;“Oh, tentu bisa!” jawabku pendek.  Bulu kudukku meremang. Dalam hati  aku bertanya, “Perempuan ini staff di bagian apa? Kok aku belum pernah  melihatnya.” &lt;br /&gt;“Ini dokumen penting, tidak semua orang bisa tahu!” katanya lagi.&lt;br /&gt;Sambil berusaha menenangkan diri, aku menyahut, “Wah, kalau begitu saya jadi tahu dong, Mbak. Kan saya yang bantu fotocopynya!” &lt;br /&gt;“Ini cuma daftar nama orang yang disuruh berkorban di sini, sekalipun mereka menolak. Ah,  kasihan sekali mereka!” katanya lagi.&lt;br /&gt;“Berkorban? Maksudnya untuk apa?” tanyaku, penasaran, sembari terus membolak balikan dokumen itu.&lt;br /&gt;“Darah mereka!” jawabnya dengan suara yang agak tertahan. &lt;br /&gt;Aku  kaget bukan kepalang. Seketika pandanganku berubah gelap. Dan, ketika  terang kembali, kulihat dia sudah menghilang. Lalu, sama-samar terdengar  suara alunan pendek perempuan menyanyi dari arah lorong sepi ini.  &lt;br /&gt;Segera  kuambil langkah seribu, setelah lebih dulu melemparkan kertas yang  disebut dokumen tadi. Kubanting pintu dengan kencang. Aku lalu terduduk  di depan meja kerjaku sambil mengatur nafas yang memburu tak karuan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara  peristiwa ganjil itu, rasa penasaranku semakin bertambah. Apalagi, pagi  setelah malamnya aku bertemu dengan sosok perempuan misterius itu  ternyata ada karyawan yang meninggal. Apakah ini ada hubungannya dengan  statemen perempuan misteruis itu?&lt;br /&gt;Belakangan, aku memang melihat ada  kejanggalan. Bila dihitung, hampir setiap minggu, satu persatu rekan  kerja atau sanak saudara mereka ada saja yang meninggal. Menurut  beberapa pegawai senior, setiap yang meninggal raut wajah  mereka  menyiratkan ada satu hal yang tidak wajar.  Kabarnya, wajah jenazah  tampak menghitam, punggung, tangan serta kakinya terdapat memar  kebiruan, dan mata mereka terbuka, dengan rona wajah mereka seolah habis  melihat sesuatu yang amat menakutkan. &lt;br /&gt;Pernah juga terjadi sebuah  peristiwa lucu namun menyeramkan. Suatu hari, ada salah seorang menejer  di kantor ini yang kerasukan roh seorang perempuan muda. Sang roh  mengaku bernama Karissa. Dia telah mati karena bunuh diri 100 tahun  silam.  &lt;br /&gt;Lucunya, sang menejar yang bertubuh tambun dan galak itu,  tiba tiba dapat berjalan sangat gemulai laksana perempuan. Tak hanya  itu, suaranya juga berubah lembut khas wanita muda. &lt;br /&gt;Nah, dari celoteh Karissa-lah cerita yang sebenarnya bergulir. Termasuk tentang para korban mahluk di lantai empat. &lt;br /&gt;Karisasa  yang meminjam mulut Pak Wahono, sang menejer itu, bercerita bahwa bos  besar kami yang bernama Pak Paulus itu telah meminjam arwahnya sebagai  budak suruhan untuk mendapatkan harta. Bahkan, untuk mengikat jiwa  sesorang yang dia kehendaki untuk ditaklukan. &lt;br /&gt;Arwah Karissa juga  mengaku bahwa pada hari-hari tertentu dia akan diberi “suguhan khusus”  oleh majikannya. Selain umbo rampe dan dupa wangi, dia juga menghisap  sari makanan langsung dari perut Pak Paulus. Syaratnya, Pak Paulus harus  memakan tiga jenis makan kesukaan Karissa dalam jumlah amat banyak.  Mungkin, inilah yang menyebabkan kenapa Pak Paulus pernah kulihat makan  dalam jumlah banyak dan nampak sangat rakus. &lt;br /&gt;Aku juga pernah melihat   dukun kepercayaan Pak Paulus datang ke lantai empat untuk mengadakan  ritual semalam suntuk. Setelah itu, beredarlah cerita dari mulut orang  dekatnya, bahwa Pak Paulus segera akan memecat beberapa orang karyawan,  sebab menurut sang dukun mereka tidak cocok dan harus dienyahkan.  &lt;br /&gt;Yang  terjadi selanjutnya, setelah kedatangan dukun itu, suasana di dalam  kantor jadi makin kacau. Seringkali terjadi keributan diantara staff dan  karyawan. Sejumlah peristiwa aneh juga terjadi. Mulai staff kerasukan,  mengalami kecelakaan fatal hingga cacat, bahkan yang meninggal pun ada. &lt;br /&gt;Selain  itu, bisnis di perusahaan yang bergerak dalam industri garmen ini  menjadi tersendat-sendat. Banyak hasil produksi yang tidak laku dijual  bahkan dikembalikan karena rusak. Padahal, semua barang produksi yang  dikirim ke costumer dalam keadaan baik tanpa cacat.  &lt;br /&gt;Kondisi semacam  ini membuat pikiranku jadi tidak karuan. Hingga, pada suatu malam,  ketika semua staff dan karyawan telah meninggalkan ruang kerjanya  masing-masing, tinggalah aku sendiri tercenung di meja kerjaku. Ketika  aku sedang membereskan dokumen yang masih tercecer, tiba tiba saja ada  angin dingin menyapu pundakku. &lt;br /&gt;Tidak berapa lama, samara-samar  terdenar suara perempuan yang seolah sedang merapal doa. Seketika itu  rasa takut di dalam hatiku muncul. Terlebih lagi, lama kelamaan suara  itu semakin keras terdengar, meski tidak jelas mantra apa yang sedang  dilantunkannya. Walau begitu, kucoba memberanikan diri bangkit lalu  berjalan ke arah datangnya suara itu. &lt;br /&gt;Kubuka pintu koridor ke lantai  tiga, yang kuduga menjadi sumber suara. Seketika tercium semerbak wangi  bunga sedap malam, serta aroma rokok klobot. Kuhentikan langkah untuk  sekedar mengatur nafas, sambil menenangkan hatiku yang mulai dihantui  rasa takut.&lt;br /&gt;Hatiku pun kecut bukan main ketika sadar bahwa langkah  ini telah sampai di trap tangga terakhir dari sepuluh anak tangga menuju  ruangan laknat di lantai empat itu. &lt;br /&gt;Sementara itu, suara rapalan  mantera si perempuan semakin keras terdengar, diselingi oleh  aroma  semerbak bunga sedap malam, kemenyan serta anyir darah yang semakin  menyengat hidungku. &lt;br /&gt;Sejenak, aku berdiri terpaku di depan pintu kaca  kusam yang membatasi pandanganku ke ruangan bagian dalam. Kaca patri  bermotif burung elang membingkai sehelai pintu ruang laknat penuh  misteri ini. Tanganku bergetar tak sabar ingin membuka pintunya.&lt;br /&gt;Kudorong  perlahan. Suara berderit engselnya seolah genderang perang yang memukul  jantungku. Saat aku melangkah tertatih di dalam suasana temaram, aku  mengenali gerak gerik sesosok mahluk besar kehitaman di bawah temaram  lampu 5 watt. Kakiku pun terasa lemas! Sungguh, aku benar-benar melihat  bagaimana makhluk itu sambil menggeram terus menggerogoti mangsanya  dengan rakus. &lt;br /&gt;Dalam keadaan sangat takut, aku mengenali kalau  ternyata mahluk itu wujudnya separuh srigala separuh manusia. Dia sedang  mengoyak-ngoyak sepotong daging merah dengan kuku hitam tajamnya .&lt;br /&gt;Pes!  Aneh, tiba tiba lampu di dalam ruangan itu padam. Aku terkejut dan  hampir tidak bisa menguasai diri lagi. Bau anyir darah busuk itu sangat  menyesakkan dada, hingga kepalaku pusing. Suara dengusan srigala besar  yang menggeram dengan marah menghentak jantungku! &lt;br /&gt;Dalam ruangan  gelap itu aku tidak dapat berbuat apa-apa, selain membalikan badan  menghambur keluar ruangan. Tapi binatang iblis itu tidak tinggal diam.  Dia berusaha menangkpuku. Akupun terdorong keluar dari ruangan itu. Di  ruangan yang lebar terang ini, aku cukup jelas melihat wajah serigala  aneh itu, dengan seringai gigi tajamnya yang belumuran darah. &lt;br /&gt;Akupun  berteriak sekuat tenaga. Tidak sadar, kakiku terpeleset. Tubuhku  terpelanting jatuh berguling guling menuruni anak tangga sampai ke  lantai. Tak ayal lagi seluruh sendi di badanku terasa patah. Kepala ku  pusing berat, Bersamaan dengan itu, di telingaku kembali terngiang suara  perempuan pembaca mantera tadi. Sambil menahan sakit, aku segera  berlari meninggalkan ruangan….&lt;br /&gt;Seminggu setelah kejadian itu, suatu  siang aku sedang merapikan beberapa barang yang tertumpuk di koridor  gelap depan ruangan. Pak Paulus muncul dengan tiba tiba. Dia berjalan ke  arahku dengan rona wajah yang tidak bersahabat. Aku segera aku bangkit  untuk memberi salam. Tidak diduga dia malah mengancamku dengan kata-kata  yang tidak mengenakan hati.&lt;br /&gt;“Hei you!” katanya sambil menunjuk  wajahku. “Gua orang kaya raya, gua ada uang banyak, ribuan setan, arwah  leluhur bahkan jin manapun sudah gua panggil dan gua tundukkan, apalagi  cuma you manusia kecil!” cecarnya dengan nada sinis. &lt;br /&gt;“Gua, kasih you  peringatan!  Mahluk besar di lantai empat adalah pelindung gua, seluruh  harta gua dia yang jaga, dia amat kuat luar biasa, tidak akan ada yang  bisa kalahkan dia punya kekuatan!” bentaknya lagi.&lt;br /&gt;“Karena mahluk  mahluk itu gua jadi punya kekuatan besar lebih dari orang lain! Asal you  tahu aja ya, gua gak bisa mati!!” lanjutnya dengan jumawa.&lt;br /&gt;“So, jadi you jangan coba-coba ganggu dia punya tempat, apalagi you mau jadi pahlawan kesiangan di sini!” hardiknya pula. &lt;br /&gt;“Kalau  you masih butuh makan, you duduk en kerja baik baik seperti si bego  lainnya atau you out saja dari sini!” kejarnya lagi sambil telunjuknya   terus mendorong keningku keras-keras. Setelah itu dia pergi sambil masih  terus mengumpat dengan kata-kata yang sangat kasar.&lt;br /&gt;Penghinaan Pak  Paulus memang sungguh menyakiti perasaanku. Harga diriku telah  diinjak-injak olehnya. Namun, bukan ini alasan utamaku untuk berhenti  bekerja. Demi Tuhan, sejak peristiwa malam itu, bayangan menyeramkan  sosok srigala berbadan manusia itu selalu menghantuiku. Bahkan, dengus  nafasnya yang berbau busuk itu serasa begitu dekat dengan hidung dan  telingaku.&lt;br /&gt;Walau aku sangat membutuhkan pekerjaan, namun kuputskan  untuk segera hengkang dari kantor itu. Dan hari itu, aku kembali duduk  di sofa depan ruangan Pak Paulus, menunggu giliran masuk seperti tempo  hari. Tapi kali ini bukan untuk mengemis minda dipekerjaan, namun aku  akan menyerahkan surat pengunduran diri resmi.  &lt;br /&gt;Tak lama kemudian  aku diizinkan masuk. Ketika berhadapan dengannya, sedikitpun aku tidak  mau melihat wajahnya yang amat serupa dengan iblis srigala di lantai  empat itu.  Sembari mejawab pertanyaannya, dalam hati kupanjatkan  doa-doa pendek, serta berusaha tetap menjaga kesadaran pikiranku, agar  tidak terpengaruh jampi-jampi lewat tatapan matanya yang tajam menusuk  itu.&lt;br /&gt;Sambil disertai dengan sumpah serapah dari mulut Pak Paulus, aku  segera keluar meninggalkan ruangannya. Dengan nama Tuhan, aku segera  tinggalkan kerajaan setan itu untuk kembali ke kehidupanku yang normal.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-7793900230393710659?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7793900230393710659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7793900230393710659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/kaya-dengan-pelihara-jin-pesugihan.html' title='Kaya Dengan Pelihara Jin Pesugihan'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-4129038708579284847</id><published>2011-02-22T21:05:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T21:05:37.579+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>Gara-Gara makan Sesaji untuk Raja Jin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i.ehow.com/images/a04/g2/so/do-money-magic-800X800.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://i.ehow.com/images/a04/g2/so/do-money-magic-800X800.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah yang amat menegangkan ini terjadi sekitar dua bulan yang lalu.  Ketika itu aku pergi ke kawasan Gunung Semeru di Jawa Timur, yang kata  orang merupakan gunung paling angker di seantoro Tanah Jawa. &lt;br /&gt;Bagiku,  perjalanan  ke puncak gunung merupakan suatu tantangan yang tidak bisa  dinilai dengan uang. Bagiku, kegiatan traveling adalah suatu kebahagiaan  batin yang tiada tara, karena aku memang tidak punya banyak waktu untuk  melakukan kegiatan yang menjadi hobiku sejak masih SMU ini. Karena  kesibukan kerja, sudah lama aku tidak bisa &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;melakukan hobiku yang satu  ini.&lt;br /&gt;Karena perjalanan ke puncak Gunung Semeru ini dibumbui pula  dengan suatu kejadian yang berlangsung di luar nalar, maka hal ini  benar-benar menjadikan sebuah pengalaman yang tak akan pernah bisa aku  lupakan seumur hidupku. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya, peristiwa itu  benar-benar menyeramkan dan penuh misteri. Dengan mengalaminya sendiri,  aku akhirnya kian menyadari bahwa selain dunia manusia ternyata ada  dunia lain yang mungkin juga mempunyai peradaban dengan bentuk dan  hokum-hukum tersendiri. Aku juga benar-benar bisa membuktikan semua  cerita tentang keangkeran Gunung Semuru setelah aku mengalaminya  sendiri.&lt;br /&gt;Saat itu, aku dan keempat orang temanku telah sampai di  sebuah titik ketinggian, namun belum sampai pada puncak Semuru. Untuk  sekedar melepas lelah, kami istirahat di dalam sebuah goa yang sangat  besar dan gelap. Kebetulan sekali kami menemukan goa itu, sebab tak lama  kemudian tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Padahal,  sebelumnya tidak ada tanda-tanda alam, seperti mendung, yang selalu  mengiringi datangnya hujan.&lt;br /&gt;Kami merasa sangat beruntung sebab dengan  berada di dalam goa itu tubuh kami tidak kehujanan. Untuk mengusir hawa  dingin sekaligus mengatasi kegelapan ruang goa, kami menyalakan lampu  yang telah kami desain sedemikian rupa hingga mudah kami bawa. Tak hanya  itu, kami juga membuat api unggun dengan menggunakan ranting-ranting  kering yang ada di dalam goa. Setelah itu kami pun membakar roti dan  bermain gitar sambil bernyanyi riang. Pokoknya kami benar-benar happy  saat itu.&lt;br /&gt;Satu jam kemudian, hujan mulai reda. Rasa letih, lapar dan  dahaga pun telah terobati. Karena itu kami putuskan untuk bergegas  melanjutkan perjalanan yang tinggal setengah hari lagi. Kami takut  kemalaman sebelum sampai ke puncak gunung tersebut. &lt;br /&gt;Sebelum aku  meninggalkan goa tersebut, keempat temanku sudah berada di luar goa.  Jadi, hanya tinggal aku yang masih berada di dalam. Maklum, aku memang  agak lamban memberesi perbekalan yang kuwaba. &lt;br /&gt;Setelah semua  perbekalanku terbungkus dalam tas rangsel kesayanganku, tiba-tiba aku  menemukan setandang pisang raja tergeletak di bawah sebongkah batu besar  tak jauh dari tempat kami membuat api unggun tadi. Tanpa perasaan  curiga walau sedikitpun, dengan cekatan aku mengambilnya. Bahkan aku  juga memetik satu kemudian dengan nikmatnya kumakan oisah itu.&lt;br /&gt;Setelah  menghabiskan satu pisang itu, keanehan tiba-tiba saja terjadi.  Pandangaku jadi kabur, dan detik berikutnya aku tidak bisa melihat sama  sekali. Dengan panic aku berteriak memanggil teman-temanku. Untunglah,  tidak lama kemudian mereka bergegas datang. &lt;br /&gt;“Ada apa, apa yang terjadi denganmu?” Tanya salah seorang temanku.&lt;br /&gt;Dengan gugup aku menjawabnya, “Entahlah! Ti…tiba-tiba saja mataku jadi buta. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi!”&lt;br /&gt;Keempat  temanku pun sepertinya mulai panik. Setidaknya ini kurasakan dengan  ketergesa-gesaan mereka yang menuntunku ke luar dari goa tersebut. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi kemudian? Benarkah yang datang dan menuntunku ke luar dari dalam goa itu adalah keempat orang teman-temanku?&lt;br /&gt;Tidak!  Ketika pandanganku kembali normal, maka betapa terperanjatnya aku. Yang  menuntunku keluar dari goa itu ternyata bukanlah teman-temanku. Mereka  adalah manusia-manusia bertampang seram, dengan wajah rusak dan hancur.  Baju mereka memang sama dengan baju-baju temanku, tapi tampang mereka,  benar-benar asing dan sangat menyeramkan. Aku berusaha lepas dari  cengkraman tangan mereka. Ya, aku berusaha secepatnya kabur.&lt;br /&gt;Tapi  tangan mereka yang berbulu lebat dan kokoh itu benar-benar membuatku tak  berkutik. Bahkan yang terjadi kemudian, aku tak punya nyali lagi untuk  melanjutkan pemberontakanku. &lt;br /&gt;“Kumohon, jangan sakiti aku!” Aku mereng seperti anak kecil.&lt;br /&gt;Tapi mereka mana mau peduli. Dengan sangat kasarnya mereka memaksaku untuk mengikutinya berjalan. &lt;br /&gt;Sebelum  mereka lebih jauh membawaku pergi, sulit kuceritakan bagaimana awalnya,  yang pasti tiba-tiba saja nyaliku kembali muncul. Niatku untuk kabur  dan lepas dari mereka seketika bangkit. Dengan sekuat tenaga kutendang  salah satu dari mereka. &lt;br /&gt;Usahaku ini berhasil. Karena begitu kuatnya  tendanganku, salah satu dari mereka jatuh terguling. Saat itulah aku  berhasil berlari sekuat tenaga. Tanpa peduli halangan yang menghadang di  hadapanku, aku terus berlari dan berlari. &lt;br /&gt;Setelah beberapa saat lamanya berlari, aku memberanikan diri menoleh ke belakang. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;Astaghfirullah!  Mereka telah lenyap dari pandangan mataku. Mereka benar-benar tidak  ada. Lalu aku memberanikan diri untuk berhenti dan beristirahat, tapi  tiba-tiba dadaku berdetak sangat kencang. Bagaimana tidak! Dalam waktu  sekedipan mata, keempat makhluk menyeramkan itu telah berdiri di depanku  dengan senyum menyeringai mirip srigala yang kelaparan.&lt;br /&gt;Aku  menggigil ketakutan. Melihatku seakan-akan tak berdaya lagi, salah satu  dari mereka berkata, “Kamu telah memakan pisang kami, jadi kamu harus  ikut kami untuk mempertanggungjawabkan perbautanmu!”&lt;br /&gt;“Jadi pisang itu pisang kalian? Kalau begitu maafkanlah aku, ya!” Ujarku dengan memberanikan diri.&lt;br /&gt;“Enak  saja minta maaf. Pisang itu adalah pisang persembahan buat raja kami.  Jadi kamu harus minta maaf pada raja kami!” Tegas yang seorang lagi.&lt;br /&gt;Sepertinya,  mereka tak memberikan kesempatan padaku untuk membela diri. Buktinya,  sekejap kemudian, mereka bertepuk tangan tiga kali. Dan sungguh ajaib,  tiba-tiba di depan kami telah berdiri kereta kencana dengan enam kuda  putih yang sangat gagah. Tanpa banyak bicara, mereka memaksaku untuk  menaiki kereta kencana tersebut. Dan sulit bagiku untuk menolak ajakan  mereka, sebab mereka jelas bukanlah lawan yang sepadan denganku.&lt;br /&gt;Segalanya  terjadi dengan begitu cepat. Dalam beberapa kedipan mata saja, kami  sudah sampai di depan sebuah istana kerajaan yang sangat mewah dengan  beberapa pengawal yang juga bertampang menyeramkan. Tidak lama kemudian,  muncul seorang raja yang tampan dan permaisuri yang sangat cantik  jelita. Raja dan permaisurinya kelihatan begitu anggun dan berwibawa.&lt;br /&gt;“Hai,  Kisanak! Kamu telah memasuki kerajaan kami…kamu telah berani memakan  pisang persembahan buatku. Untuk itu kamu harus aku hukum!” Kata sang  raja.&lt;br /&gt;“Tapi saya tidak sengaja memakannya. Saya kira itu milik teman-temanku!” Ujarku dengan  suara gemetar.&lt;br /&gt;“Manusia memang pintar mencari alasan. Seret dia dan gantung di atas pohon cemara!” Perintah sang raja dengan marah.&lt;br /&gt;Empat  orang prajurit langsung menyergap dan menyeretku ke suatu tempat mirip  alun-alun. Sungguh menegangkan, tidak lama kemudian, aku benar-benar  digantung di atas pohon cemara. Kedua tanganku diikat. Hujan dan angin  kencang menampar sekujur tubuhku. Kadang-kadang panas matahari yang  menyengat membakar sekujur tubuhku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku  benar-benar takluk dan tidak berkutik dengan ikatan yang teramat kuat  itu.&lt;br /&gt;Yang bisa kulakukan hanya menangis dan memendam kesedihan dalam  hati. Sungguh tak pernah kubayangkan sebelumnya akan mengalami kejadian  seperti ini. Aku meratapi kerapuhan hatiku, yang sama sekali tidak  pernah ada dalam pikiranku. Di alam nyata aku adalah seorang kuat dan  tabah dalam menghadapi keadaan walau seburuk apa pun juga. Didepan  teman-temanku sesama pecinta alam dulu aku dikenal paling jago, aku juga  paling pemberani. Tapi sekarang, aku benar-benar rapuh. Aku benar-benar  lemah dan tak berdaya.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah keputusasaanku, lambat-lamat  terdengar suara-suara yang memanggil-manggil namuku. Anehnya, aku sama  sekali tak menemukan siapa gerangan orang yang memanggil-manggil namaku  itu. Bahkan bayangan orang seditik pun sama sekali tak terlihat olehku. &lt;br /&gt;Lambat laun, suara-suara itu semakin lama semakin keras terdengar, “Galih pulang. Galih…kami di sini mencarimu!” &lt;br /&gt;“Baca ayat-ayat Al-Qur’aan…baca ayat Qursyi dengan sepenuh hatimu, teman!” Kata suara yang lain.&lt;br /&gt;Aku  mulai yakin, suara-suara itu sebagian tak lain adalah suara  teman-temanku. Dan benar, kata mereka bahwa aku harus membaca ayat-ayat  Al-Qur’an jika aku tersesat ke dunia lain. Hal itulah yang kemudian  kulakukan.&lt;br /&gt;Dengan hati yang khusyuk, aku mencoba berdoa kepada Allah.  Seterusnya aku membaca ayat Qursyi. Berulang-ulang dan  sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;Demi Allah, keajaiban tiba-tiba datang di depan  mataku. Sesaat setelah aku membaca ayat Qursyi pada hitungan yang ke  125, tiba-tiba petir datang menyambar dadaku. Seketika sekujur tubuhku  panas, dan aku terus mencoba membaca ayat Qursyi. Selanjutnya aku tidak  ingat apa-apa lagi.&lt;br /&gt;Setelah aku siuman, tahu-tahu aku sudah berada di  atas tempat tidur. Papa dan mama menangisiku dengan penuh haru. Namun,  mereka bahagia melihat aku telah sadarkan diri. &lt;br /&gt;Aku juga melihat  keempat teman-temanku yang ikut serta dalam acara pendakian ke Gunung  Semeru itu. Sama seperti kedua orang tuaku, mereka juga ikut tersenyum  lega melihat aku telah siuman. Kepada Alul, salah seorang sahabatku, aku  bermaksud bertanya tentang apa yang telah terjadi terhadap diriku. Tapi  sungguh aneh, aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara. Suaraku  yang tegas dan lantang, sama sekali tidak keluar. Ya, Allah, aku  sepertinya telah berubah jadi bisu. &lt;br /&gt;Hanya air mata yang  menganaksungai di atas wajahku meratapi kenyataan itu. Untunglah Alul  segera berinisiatif untuk memanggil seorang Ustadz. Setelah aku meminum  segelas air putih pemberian Ustadz Hady, pelan-pelan suaraku mulai  muncul kembali. Alhamdulillah!&lt;br /&gt;Lantas, apa sebenarnya yang telah terjadi menimpa diriku?&lt;br /&gt;Menurut  cerita teman-teman, ketika itu aku ditemukan tergeletak di atas sebuah  bukit yang oleh warga sekitar dikenal dengan nama Bukit Batu Hitam.  Bayangkan, bukit tersebut sangat curam dan dalam sekali. Dan ini sungguh  suatu keberuntungan yang sangat langka, sebab aku masih bisa selamat.  Diperkirakan, jarak dari tempat asalku berteduh didalam goa dengan  lokasi Bukit Batu Hitam sekitar satu kilo meter. Anehkan? Padahal, aku  sepertinya hanya bergerak dari goa itu beberapa meter saja.&lt;br /&gt;Kemudian  aku bertanya pada teman-teman, bagaimana mereka bisa menemukanku? Kata  mereka, setelah ditunggu beberapa saat, aku tidak keluar dari goa,  mereka masuk ke dalam goa. Tapi, ternyata aku tidak ada di sana. Mereka  semua jadi bingung dan ketakutan. Akhirnya, mereka menghubungi sesepuh  desa di sekitar lereng gunung. Mereka bertemu dengan Ustadz Hady.  Setelah dilakukan penerawangan oleh Ustadz, keberadaanku bisa  terdeteksi. Akhirnya mereka bersama Ustadz melakukan ritual pemanggilan  arwahku.&lt;br /&gt;Setelah Ustadz Hady melempar seekor kambing jantan warna  hitam pekat ke lereng Bukit Batu Hitam yang curam dan dalam, beberapa  menit kemudian tubuhku terbang ke atas dan dengan sangat tangkas Ustadz  Hady menangkap tubuhku. Sekali lagi, ini suatu keanehan yang sulit  dicerna akal sehat. &lt;br /&gt;Jujur, mulanya aku ragu dengan semua cerita  tersebut. Tapi setelah kurenungi peristiwa demi peristiwa yang kualami,  hingga akhirnya aku tergeletak di atas tempat tidur, satu hal yang  kuperoleh adalah aku jadi semakin yakin dengan segala kebesaran Allah  SWT.&lt;br /&gt;Sungguh, kejadian ini telah memberiku suatu pelajaran yang  sangat berharga. Setidaknya aku kian meyakini, bahwa di manapun kita  berada, kita jangan suka main serobot seenaknya, sebab sekali kita  lancang berani mengambil yang bukan haknya, kita akan mendapatkan  celaka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-4129038708579284847?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/4129038708579284847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/4129038708579284847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/gara-gara-makan-sesaji-untuk-raja-jin.html' title='Gara-Gara makan Sesaji untuk Raja Jin'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-536937921153080349</id><published>2011-02-22T21:03:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T21:03:58.234+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>11 Tahun Brtapa Demi Jadi dukun</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRKUzxSRFKuqVrcJB7J9uFaO_N-nto9jzRkLtYc0qXCvQFx29rueo8fOs5y" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRKUzxSRFKuqVrcJB7J9uFaO_N-nto9jzRkLtYc0qXCvQFx29rueo8fOs5y" width="226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebelas tahun lamanya dia tinggal di  kerajaan Bunian dan membina kehidupan rumah tangga di sana. Saat  memutuskan kembali pulang ke dunia nyata, dia pun menjelma menjadi  seorang dukun yang andal….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nek Juhai adalah seorang dukun  kampung yang sangat terkenal kemampuan ilmunya. Penyakit atau hal apa  saja yang disebabkan oleh gangguan non medis, Insya Allah bisa sembuh  berkat tangan dingin perempuan yang telah uzur ini.  &lt;br /&gt;Kabarnya, ilmu  perdukunan diperoleh Nek Juhai dari saudara suaminya yang berasal dari  kerajaan Bunian. Memang, semasa muda dia telah menikah dengan bangsa  bunian. Dari pernikahannya dengan orang Bunian ini, Nek Juhai memperoleh  empat orang anak, dua laki-laki dan dua orang perempuan. Semua anaknya  tinggal bersama mertuanya di kerajaan Bunian. Tidak seorangpun anaknya  mau tinggal bersamanya. Meski demikian, pada waktu-waktu tertentu, anak  cucunya berkumpul di rumahnya. Kedatangan mereka itu tidak dapat dilihat  orang biasa, kecuali oleh mereka yang memiliki kemampuan indera ke  enam.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan sebelum Nek Juhai  meninggal dunia, persisnya di akhir tahun 2007 silam, beliau telah  mengobati penyakit salah seorang Bibi Penulis. Penyakit yang diderita  sang Bibi sudah diobati melalui medis, tapi tidak juga sembuh. Bahkan,  beberapa orang dukun atau paranormal yang mengobatinya, juga tidak  berhasil. &lt;br /&gt;Suatu hari, ada orang yang mengatakan pada Bibi, bahwa ada  seorang dukun yang dapat menyembuhkan penyakit apa saja, termasuk  penyakit yang diderita Bibiku. Orang itu memberikan alamatnya. &lt;br /&gt;Karena  Bibi ingin sembuh dari penyakit yang sudah hampir selama tujuh itu,  maka  Bibi meminta Penulis untuk menemaninya pergi berobat ke rumah Nek  Juhai. Maka berangkatlah Penulis bersama Bibi ke rumah sang nenek. Tidak  sulit untuk menemukan alamatnya. Semua orang di Kecamatan Babalan,  Kabupaten Langkat, Sumut, pasti mengenalnya. Nek Juhai tinggal di rumah  yang cukup sederhana dan masih sangat asri lingkungannya. &lt;br /&gt;Saat itu,  Nek Juhai menyambut kedatangan kami dengan sangat ramah. Beberapa orang  pasiennya terlihat antri menunggu giliran untuk diobati penyakitnya.  Umumnya yang berobat padanya pasien yang tidak dapat disembuhkan melalui  pengobatan medis di rumah sakit. Seperti penyakit yang diderita Bibiku,  yang memang diduga kuat termasuk penyakit non medis. Hasil tes darah di  laboratorium menunjukkan Bibi tidak menderita penyakit. Fungsi darah,  lever, ginjal, paru-paru dan jantungnya normal. Anehnya, setiap pukul 12  siang dan pukul 24 malam, rasa sakit menyerang hampir di seluruh bagian  tubuhnya.&lt;br /&gt;Bila malam, sebelum penyakit itu datang, Bibi mendengar  suara lolongan anjing di kejauhan. Suaranya sayup-sayup, hingga sang  anjing itu berada di samping rumah. Gonggongannya membuat bibi  meraung-raung ketakutan. Perut bibi seketika terasa seperti ditusuk  ribuan jarum, dan kepalanya seperti dipalu.&lt;br /&gt;Yang tak kalah aneh,  hanya bibi seorang yang mendengar suara lolongan anjing itu, sedangkan  orang lain yang berada di sekitarnya tidak mendengarnya.&lt;br /&gt;“Kau diguna-gunai orang, Nak?” Kata Nek Juhai setelah memeriksa keadaan Bibi. &lt;br /&gt;“Siapa yang melakukannya, Nek?” Tanya Bibi. &lt;br /&gt;Nek Juhai menggelengkan wajahnya. Kabarnya, dia memang tidak pernah mau menyebutkan orang yang melakukan serangan ilmu gaib.&lt;br /&gt;“Tak penting kau ketahui siapa orangnya. Yang penting adalah kau bisa sembuh!” Katanya, setengah berbisik.&lt;br /&gt;Nek  Juhai kemudian menyiapkan mangkok kaca berisi air putih, bunga rampai  dan jeruk purut. Setelah membaca mantera, jeruk purut dia belah menjadi  dua bagian sama besar. Salah satu belahan jeruk dia letakkan di telinga  kanannya. Aneh, potongan jeruk ini sepertinya dia pergunakan persis tak  ubahnya seperti HP. Rupanya, dia berkomunikasi dengan keluarga suaminya  yang berada di alam bunian. Misteri hanya mendengar kata-kata yang  diucapkan Nek Juhai saja.&lt;br /&gt;Sesaat setelah selesai berhubungan dengan  alam gaib, tiba-tiba ada benda berbentuk bundelan di bungkus kain putih  jatuh ke dalam mangkok. Sejenak Penulis terperangah melihatnya. Jelas  sekali, bundelan kain itu jatuh dari atas, padahal rumah Nek Juhai  atapnya terbuat dari seng dan tidak ada orang yang menjatuhkannya.&lt;br /&gt;Perlahan,  Nek Juhai membuka bundelan itu dengan sangat berhati-hati. Setelah  terbuka, isinya boneka terbuat dari kayu. Seluruh tubuh boneka ditusuk  dengan puluhan jarum dari kepala hingga kaki.&lt;br /&gt;“Boneka ini diumpamakan seperti tubuhmu, Nak!” Kata Nek Juhai menjelaskan.&lt;br /&gt;“Pantaslah jika penyakit Bibi kambuh perut dan kepalanya seperti ditusuk seribu jarum,” gumam Penulis dalam hati. &lt;br /&gt;Nek Juhai lalu membungkus boneka kayu itu dan membakarnya hingga hangus. &lt;br /&gt;“Sebaiknya  kau menginap beberapa malam di rumah Nenek. Ada pengobatan lanjutan  yang harus kau jalani. Besok pagi sebelum berkumandang suara adzan  Subuh, kau harus mandi air bunga rampai,” tutur Nek Juhai. Tentu saja  Bibi dan Penulis menyetujuinya.&lt;br /&gt;Malam itu, sengaja Penulis mencarai  kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Nek Juhai. Untunglah, dia  punya waktu untuk bercerita karena setelah pukul 8 malam, dia memang  tidak lagi menerima pasien.&lt;br /&gt;“Kata orang-orang, Nenek bersuamikan  orang bunian. Bagaimana ceritanya Nenek bisa bersuamikan orang bunian?”  Tanya Penulis. Mendengar pertanyaan ini, Nek Juhai hanya tersenyum.&lt;br /&gt;“Kau mau mengetahui kisah Nenek bersuamikan orang bunian?” Nek Juhai malah balik bertanya. &lt;br /&gt;Penulis  tersenyum. “Ya, itulah yang saya dengar dari banyak orang. Saya harap  Nenek sudi menceritakannya pada saya,” ujar Penulis.&lt;br /&gt;Nek Juhai  menarik nafas berat. Sorot matanya yang teduh itu berubah kosong,  seperti menerawang jauh. Lalu, pelan-pelan dia bertutur. Beginilah  ringkasan kisahnya…:&lt;br /&gt;Saat aku baru berusia 5 tahun, ayahku meninggal  dunia. Setelah ayah meninggal, Ibu memutuskan tetap menjadi janda. Untuk  menghidupiku, Ibu bekerja mengambil upahan merumput di sawah tetangga. &lt;br /&gt;Memang,  setelah kepergian Ayah, hidupku semakin miskin dan penuh dengan  penderitaan. Sehari kadang makan hanya sekali. Paman dan bibiku juga  hidupnya miskin. Untuk menghidupi keluarganya saja sulit, apalagi untuk  membantu aku dan Ibuku. &lt;br /&gt;Setelah lama mengidap penyakit asma, Ibuku  akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Perasaan hatiku sangat sedih,  bahkan sampai ada niat untuk bunuh diri. Tapi untunglah hal itu tidak  aku lakukan. &lt;br /&gt;Selama berhari-hari aku larut dalam kesedihan.  Kepergian Ibu rasanya begitu cepat, Kepada siapa lagi aku harus  menggantungkan hidupku?&lt;br /&gt;Suatu hari di suatu pagi, saat hujan  gerimis, aku pergi berziarah ke kuburan Ibu. Lama aku duduk termenung di  tengah hujan gerimis. Waktu itu,  tiba-tiba terdengar suara seorang Ibu  menegurku.&lt;br /&gt;“Sudahlah, jangan lagi bersedih. Jika Ibumu tahu kau  seperti ini, dia pasti sangat bersedih juga di alam sana!” Kata ibu-ibu  itu. &lt;br /&gt;Mendengar ada suara, maka aku sangat terkejut dibuatnya.&lt;br /&gt;“Ibu  siapa, mengapa Ibu tiba-tiba ada di sini?” Tanyaku merasa heran. Maklum  saja, selama ini aku belum pernah melihat sosok perempuan paruh baya  ini. Aku begitu terkesima melihat kecantikan wajahnya. Di desaku  sepertinya tidak ada perempuan secantik dia.&lt;br /&gt;“Nama Ibu Habibah,” sahutnya dengan ramah.&lt;br /&gt;Dia  lalu tersenyum sambil memandang wajahku. Sorot matanya tajam menyejukan  perasaan hatiku. Dari busana yang dipakainya Ibu Habibah, jelas isteri  orang kaya. Ini terlihat dari perhiasan emas yang menghiasi leher dan  pergelangan tangannya, serta cincin dijari manisnya. Aku kian  terkagum-kagum melihatnya.&lt;br /&gt;“Semua yang hidup akan merasakan mati.  Beberapa hari lalu Ibumu meninggal dunia, suatu saat kita juga akan  mengalami peristiwa yang sama. Kau harus tabah dan ikhlas menerimanya,”  kata Ibu Habibah menasehatiku.&lt;br /&gt;“Tapi sekarang aku udah tidak punya  siapa-siapa lagi. Hidupku sebatang kara di dunia ini. Rasanya lebih baik  aku mati saja,” jawabku berkeluh kesah. Air mataku seketika kembali  deras mengalir.&lt;br /&gt;“Siapa bilang kau tidak punya siapa-siapa. Jika kau  mau kau bisa tinggal bersama Ibu!” Katanya sambil mengusap rambutku.  Hangat kurasakan menjalar ke sekujur tubuhku. &lt;br /&gt;Mendengar Ibu Habibah berkata demikian, aku merasa tidak percaya. Apakah aku sedang bermimpi?&lt;br /&gt;“Benarkah Ibu mau memberiku tumpangan hidup?” Tanyaku sambil menyusut air mata.&lt;br /&gt;Ibu  Habibah tersenyum menyejukan. “Percayalah, Ibu pasti akan menganggapmu  seperti anak Ibu sendiri. Mari ikut Ibu!” Ajaknya. Dia lalu menuntunku  keluar dari areal kuburan.&lt;br /&gt;Di depan tanah pemakaman sudah menunggu  mobil sedan mewah. Bagai terhipnotis, aku mengikuti saja ajakan Ibu  Habibah, yang menyetir sendiri mobil sedannya. &lt;br /&gt;Sekitar seperempat  jam mobil yang dikemudikan Ibu Habibah meninggalkan desaku, ada keanehan  yang kurasakan. Semula di kiri kanan jalan aku hanya melihat hamparan  persaawhan dan rumah-rumah gedek dan semi permanen milik penduduk. Tapi  pemandangan yang kulihat kemudian bertukar menjadi perumahan mewah dan  jalan beraspal yang sangat licin. Mobil-mobil mewah hilir mudik di jalan  raya. Penduduk yang tinggal di sepanjang jalan sepertinya semua  keluarga kaya. Mereka tinggal di perumahan elite lengkap dengan  fasilitas kemegahannya. Ada kolam renang dan halaman yang asri.&lt;br /&gt;“Bu,  kita sekarang berada di mana?” Tanyaku terheran-heran. Maklum saja,  selama ini aku memang tidak pernah melihat rumah-rumah mewah seperti  yang ada di depan mataku.&lt;br /&gt;“Juhai, ketahuilah, kau kini berada di alam gaib. Bangsamu menyebut kami orang bunian,” kata Ibu Habibah menjelaskan.&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan Ibu Habibah, jantungku berdebar-debar ketakutan.&lt;br /&gt;“Juhai,  jangan cemas dan merasa takut. Ibu akan melindungimu dan menjaga  keselamatanmu. Ibu beragama Islam dan sudah berulangkali pergi  menunaikan ibadah Haji ke tanah suci Mekkah. Kita ini sesungguhnya  bersaudara dan persaudaraan sesama muslim itu digambarkan oleh baginda  Rasulullah SAW seperti bangunan tubuh kita. Jika ada salah satu anggota  tubuh kita sakit, maka anggota tubuh yang lain juga ikut merasakannya,”  jawab Ibu Habibah dengan tutur kata lemah lembut. Dia seolah-olah dapat  membaca kegelisahan hatiku. &lt;br /&gt;Mendengar Ibu Habibah berkata begitu, perasaan hatiku menjadi tenang kembali. &lt;br /&gt;Mobil  pun terus bergerak di atas jalan yang amat licin. Tak berapa lama  kemudian, mobil berbelok ke sebuah rumah paling mewah di antara  perumahan yang berada di sekitarnya.&lt;br /&gt;“Apakah ini rumah Ibu Habibah?” Bisik hatiku, heran dan kagum.&lt;br /&gt;Halaman  rumah itu sangat luas dan tertata rapih dengan bunga-bunga yang indah.  Ada juga kolam renang yang berair sangat jernih. Menurut hematku, rumah  dinas gubernur saja yang pernah kulihat tidak sebagus dan semewah rumah  Ibu Habibah.&lt;br /&gt;“Kita sudah sampai. Ini rumah Ibu!” Kata ibu Habibah. Aku bengong seperti seekor rusa masuk kampung. &lt;br /&gt;Ibu  Habibah lalu mengajakku turun dan menuntunku masuk ke beranda rumah. Di  depan pintu, seorang pemuda menyambut kedatangan kami. &lt;br /&gt;“Ibu membawa  siapa?” Tanya pemuda itu yang sepertinya adalah putera Ibu Habibah.  Wajahnya sangat tampan. Di kampungku pasti tidak ada remaja setampan  dia.&lt;br /&gt;“Dia bernama Juhai. Ibu temukan dia menangis di pusara kedua  orangtuanya,” jawabnya. Lalu sambil melirik ke arahku, Ibu Habibah  menyambung, “Juhai, ini anak Ibu. Namanya Haikal!” &lt;br /&gt;Aku dan Haikal  kemudian saling berjabat tangan. Ketika itu muncul juga seorang anak  berusia 10 yang kemudian kuketahui bernama Haidar. Dia adiknya Haikal.&lt;br /&gt;Saat  masuk ke dalam rumah, kulihat ruang tamu rumah Ibu Habibah sungguh  megah. Semua perabotan rumahtangga di ruangan itu terbuat dari kayu  pilihan dan berukir indah. Aku terkagum-kagum melihatnya. &lt;br /&gt;Ibu  Habibah lalu mengajakku ke kamar yang diperuntukkan buatku. Interior  dalam kamar ini tak ubahnya seperti kamar tidur puteri raja. Ranjangnya  terbuat dari kayu jati dan dilapisi emas, meja rias berukir sangat indah  dan bingkai kacanya dilapisi emas. Dalam kamar tidur ini terdapat juga  toilet yang harum dan bersih. &lt;br /&gt;Aku juga diperlihatkan baju yang  disimpan dalam lemari, yang sepertinya juga telah dipersiapkan buatku.  Aku terbelalak melihat baju-baju yang semuanya baru dan terbuat dari  sutera itu. &lt;br /&gt;Setelah aku berganti pakaian dan tak lagi terlihat  seperti gadis kampung, namun telah menjelma bak seorang puteri, aku  diminta menghadap di ruang keluarga.  Di ruang ini Ibu Habibah duduk  bersama seluruh anggota keluarganya. Disebelahnya duduk Pak Abu Bakar,  suaminya.&lt;br /&gt;“Ibu sudah bercerita pada Bapak tentang dirimu. Bapak  sangat terharu mendengarnya. Tinggallah bersama kami di sini beberapa  waktu yang kau kehendaki. Kami akan mengajarimu ilmu pengobatan berbagai  penyakit. Di istana ada beberapa orang tabib. Nanti Bapak akan meminta  mereka mengajarimu ilmu pengobatan berbagai penyakit.&lt;br /&gt;Ilmu pengobatan  itu penting bagimu sebagai bekal hidupmu di duniamu nanti, jika kau  memutuskan untuk tinggal di sana.” Papar Ibu Habibah. &lt;br /&gt;“Bapak mohon  tinggallah bersama kami beberapa tahun di sini. Bapak dan Ibu telah  sepakat mengangkatmu sebagai anak angkat kami. Kami berdua akan  menyayangimu seperti menyayangi anak kandung kami sendiri. Kebetulan  kami memang tidak dikarunai anak perempuan. Besok kami akan mengadakan  acara pengangkatanmu sebagai anak angkat kami agar warga di sini  mengetahuinya,” tambah Pak Abu Bakar suami ibu Habibah.&lt;br /&gt;Pak Abu Bakar  ini ternyata salah seorang menteri di kerajaan Bunian. Setiap hari, dia  keluar masuk istana raja. Ibu Habibah juga masih kerabat raja. Ketika  aku dinobatkan sebagai anak angkat, semua pembesar istana datang  menghadirinya, termasuk juga rakyat jelata. Yang sangat membanggakan  perasaanku, raja dan permaisurinya turut datang memberikan ucapan  selamat.&lt;br /&gt;Pak Abu Bakar mengadakan pesta rakyat, berlangsung selama  tiga hari tiga malam. Aku benar-benar merasa menjadi puteri di negeri  kayangan. Aku dikenalkan pada kelaurga besar Pak Abu Bakar dan Ibu  Habibah. Mereka semuanya baik-baik dan sangat ramah.&lt;br /&gt;Begitulah!  Hari-hari kulalui dengan tinggal di dunia orang Bunian. Kehidupan disana  seperti kehidupan kita di dunia ini. Hanya, di dunia orang Bunian,  matahari selalu bersinar cerah, dan udara dingin sepanjang siang dan  malam. Disana tidak ada polusi udara, karena pepohonan tumbur subur.  Lingkungan hidup tertata rapi. &lt;br /&gt;Tinggal bersama keluarga Pak Abu  Bakar, selain bermain, menikmati masa remaja bersama Haikal dan  gadis-gadis sebayaku, pagi hari aku juga belajar ilmu pengobatan dari  tabib istana yang datang ke rumah. &lt;br /&gt;Di sana juga terdapat tempat  rekreasi yang berada di luar kota. Aku bersama Haikal sering mengunjungi  tempat rekreasi tersebut, hingga akhirnya tumbuh benih cinta di hati  kami berdua. Rupanya, Pak Abu Bakar dan Ibu Habibah mengetahui hal ini.  Sampai suatu malam, aku dan Haikal dipanggil untuk menghadap mereka.  Duduk di hadapan Ibu Habibah dan Pak Abu Bakar, aku menundukkan wajah  sebagai orang yang bersalah. Denyut jantungku berdebar-debar tidak  beraturan.&lt;br /&gt;“Haikal, Ayah ingin bertanya kepadamu. Mohon dijawab dengan jujur. Apakah kau mencintai Juhai?” Tanya Pak Abu Bakar tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Benar, Ayah! Haikal sangat mencintainya,” jawab Haikal.&lt;br /&gt;“Bagaimana denganmu Juhai? Apakah kau mencintai Haikal?” Tanya Ibu Habibah. Aku hanya mengangguk malu-malu.&lt;br /&gt;“Karena kalian sudah saling mencintai, Ayah dan Ibu akan menikahkan kalian besok pagi,” kata Pak Abu Bakar memutuskan.&lt;br /&gt;Aku terkejut mendengar keputusan Pak Abu Bakar. “Mengapa pernikahan itu dilangsungkan mendadak?” Bisik hatiku.&lt;br /&gt;Pernikahan  itu benar-benar terjadi. Saat aku membuka jendela kamar, di halaman  rumah sudah siap perlengkapan pesta. Bahkan, kamar tidurku sudah dihias  seperti laiknya kamar pengantin. “Kapan mereka melakukannya?” Bisik  hatiku terheran-heran.&lt;br /&gt;Singkat cerita, akad nikah telah siap. Saat  itu aku teringat pada almarhum Ayah dan Ibu. Aku menangis terharu dan  bahagia, lalu memeluk Ibu Habibah yang sebentar lagi akan menjadi  mertuaku.&lt;br /&gt;Resepsi pernikahan berlangsung selama tujuh hari tujuh  malam. Raja dan permaisuri kerajaan Bunian datang bersama semua pembesar  istana. Mereka mengucapkan selamat berbahagia dan mendoakan agar  perkawinan kami langgeng. Rakyat di kerajaan Bunian larut dalam  kegembiraan menikmati makanan dan hiburan selama tujuh hari tujuh malam.&lt;br /&gt;Demikianlah  kisah yang kujalani di negeri Bunian. Setelah sepuluh tahun membina  rumah tangga, aku dikarunai dua orang putera dan dua orang puteri.  Hingga, suatu malam, nenek bermimpi bertemu dengan almarhum ayah dan  ibu. Dalam mimpi ini mereka menangis karena kuburnya tidak pernah aku  ziarahi. Aku sampai menangis dan berjanji pada mereka akan datang  berziarah.&lt;br /&gt;“Juhai, kau mimpi apa?” Tanya Mas Haikal. Kuceritakan mimpi yang barusan kualami.&lt;br /&gt;“Besok kita pergi berziarah. Bawa anak-anak,” kata suamiku. Mendengar suami berkata begitu, aku merasa bahagia.&lt;br /&gt;Ketika  kami berziarah di kuburan kedua orangtua, ternyata ada beberapa warga  melihat kehadiranku. Mereka tidak percaya. Tapi setelah kuyakinkan,  mereka baru percaya bahwa aku adalah Juhai. Rupanya, aku telah  menghilang selama 11 tahun lebih. &lt;br /&gt;Berita kepulanganku setelah 11  tahun menghilang dari desa, menghebohkan warga. Bibiku, anak-anak  keponakanku, semua menangis dan menyambutku dengan penuh haru. Mereka  sampai mengadakan kenduri selamatan dan meminta agar aku tinggal di  desa. Berat rasanya untuk menolak permintaan mereka, juga berat  meninggalkan suami dan anak-anak yang tinggal di alam berbeda. &lt;br /&gt;“Keluargamu  memintamu agar kau tinggal bersama mereka. Sebaiknya kau penuhi  keinginan mereka,” kata suamiku menjelang tidur di dalam kamar rumah  Bibi. Tentu saja tak ada seorang pun yang bisa melihat kehadiran suami  dan anak-anakku kecuali aku sendiri. &lt;br /&gt;“Bagaimana dengan dirimu dan anak-anak kita?” Tanyaku.&lt;br /&gt;“Anak-anak  biarlah tinggal bersama neneknya. Karena kehidupan mereka ada di sana  bukan disini. Sedangkan aku bisa setiap saat berada di sisimu, dan kau  bisa datang menjenguk anak-anak kita setiap saat,” jawab suamiku.&lt;br /&gt;Tapi  aku tidak dapat mengambil keputusan saat itu. Kepada keluarga di desa,  aku bilang akan bermusyawarah dahulu dengan suami dan mertua. Semoga  mereka mengizinkanku tinggal di desa kelahiranku. &lt;br /&gt;Syukur  Alhamdulillah, 11 tahun setelah aku pergi meninggalkan desa, kehidupan  ekonomi Paman dan Bibi membaik. Mereka sudah bisa membangun rumah  gedung. Keponakanku juga bisa sekolah sampai meraih gelar sarjana. Tak  hanya itu, jalan-jalan dikampungku juga sudah dibangun aspal. Bahkan,  Paman juga berjanji akan membuatkan rumah buatku di tanah pusaka  peninggalan almarhum ayahku jika memang aku tinggal menetap di desa\.&lt;br /&gt;Ketika kuutarakan niat kembali ke desa kelahiranku, Ayah dan Ibu mertuaku merestuinya. &lt;br /&gt;“Jika  itu sudah menjadi keputusanmu dan suami merestuinya, kami tidak bisa  bilang apa-apa kecuali mendukung rencanamu. Di desamu kau bisa mengobati  berbagai penyakit yang diderita warga disana,” kata Ayah mertuaku.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Pak!” Jawabku sambil sujud di kakinya.&lt;br /&gt;Setelah  berpamitan, aku diantar mobil sedan yang dikemudikan suamiku. Ya, aku  memilih pulang ke kampung halamanku yang pernah aku tinggalkan belasan  tahun lamanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-536937921153080349?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/536937921153080349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/536937921153080349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/11-tahun-brtapa-demi-jadi-dukun.html' title='11 Tahun Brtapa Demi Jadi dukun'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-8035316489763336324</id><published>2011-02-22T20:57:00.000+07:00</published><updated>2011-02-22T20:57:42.810+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>Demi Uang , Rela Piara Raja Jin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sirensays.files.wordpress.com/2010/10/money_magic.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://sirensays.files.wordpress.com/2010/10/money_magic.jpg" width="162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 2004 penulis mempunyai seorang teman dari Purworejo. Sebut saja namanya F.Malik. Sang teman adalah salah satu contoh seseorang yang belajar ilmu gaib, tetapi mempunyai keimanan yang tipis sehingga terjerumus bujuk rayu setan yang menyesatkan. Berikut kisahnya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan tahun 2004 itu aku (Penulis) bergabung dengan salah satu perguruan ilmu gaib yang ada di Solo. Pada waktu itu, ilmu gaib memang sedang ramai diperbincangkan orang, sehingga banyak sekali bermunculan perguruan-perguruan ilmu gaib. Aku memilih perguruan di Solo itu, karena waktu itu aku sendiri membacanya di salah satu majalah.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mereka, maksudnya anggota perguruan ini, menginap di padepokan sampai berminggu-minggu lamanya untuk mengikuti pelatihan fisik berupa olah kanuragan maupun mental. Salah satu bentuk latihan tersebut adalah pada malam hari mereka pergi ke kuburan atau tempat-tempat angker untuk latihan terawangan.&lt;br /&gt;Penasaran dengan cerita di majalah, aku pun menyambangi pedepokan perguruan ilmu gaib tersebut. Ternyata benar, apa yang telah diceritakan dalam majalah yang sempat kubaca. Di perguruan ini, aku memang bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah. Ada yang baru datang, ada yang sudah beberapa hari, beberapa minggu bahkan ada yang sudah sebulan, namun mereka mengaku masih kerasan tinggal di padepokan yang terletak di luar kota Solo itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang murid lama di perguruan tersebut adalah F.Malik. Dia mengaku berasal dari&amp;nbsp; Purworejo. F.Malik adalah sosok lelaki muda, berusia sekitar 30 tahun, bertubuh Kurus pendek, kepala sedikit botak. Namun yang paling menarik, lelaki ini sosok yang sangat pemberani, sekaligus pula ambisius.&lt;br /&gt;Mungkin karena sifatnya yang ambisius itu, maka Fahrullah termasuk pula sebagai seorang yang sangat rajin wirid. Wirid utamanya adalah surat Al-Fatihah. Menurut pengakuannya, dia sudah mewiridkan surah Al-Fatihah sebanyak 100.000 kali. Prestasi yang menurutku sangat luar biasa. Hal ini bisa dimaklumi karena memang kalau dia wirid, maka bisa sampai lima atau enam jam.&lt;br /&gt;Untuk urusan terawangan, Farullah termasuk jempolan. Hingga pada suatu malam, sewaktu terawangan di Taman Pramuka Solo, Fahrullah bertemu dengan sosok bangsa halus yang mengaku bernama Siti. Dia adalah penghuni alam gaib Taman Pramuka yang wajahnya cantik jelita (Hal ini pernah penulis ceritakan dalam; “Penghuni Gaib Kota Solo”).&lt;br /&gt;Melihat kecantikan Siti, sang penunggu alam gaib Taman Pramuka tersebut, Fahrullah tergoda imannya. Hingga tanpa sadar, dia melakukan hubungan biologis dengan makhluk halus tersebut. Anehnya, setela hubungan perzinahan itu, F.Malik di datangi orang tua Siti, yang bermaksud meminta pertanggungjawaban darinya. F.Malik mau bertanggungjawab, tapi harus di depan gurunya.&lt;br /&gt;“Siapa gurumu itu?” Tanya orang tua Siti.&lt;br /&gt;F.Malik menyebutkan nama gurunya.&lt;br /&gt;Setelah mendengar nama guru Malik, orang tua Siti yang sudah tentu juga makhluk halus itu akhirnya bingung. Sepertinya dia tidak berani meneruskan perkaranya lagi.&lt;br /&gt;Pada malam berikutnya, ditemani Penulis dan di tempat yang sama, Malik kembali melakukan terawangan. Waktu itu, Malik bertemu dengan apa yang disebutnya sebagai Raja Demit. Dia sangat ketakutan dan berniat mau lari, tetapi dicegah oleh si Raja Demit.&lt;br /&gt;“Jangan takut. Saya akan membantu kesulitanmu,” kata Raja Demit.&lt;br /&gt;Mendengar perkataan mahluk gaib tersebut mau membantu kesulitannya, Fahrullah tidak jadi lari. Bahkan, mereka kemudian berdialog.&lt;br /&gt;Setelah dialog dengan makhluk itu, akhirnya Malik bersedia bersekutu dengannya dengan syarat, apabila Malik minta sesuatu ada syaratnya dan syarat itu harus dipenuhi.&lt;br /&gt;Menurut cerita Fahrullah, pernah pada suatu malam, dia pulang ke purworejo menumpang bus, tetapi tidak mempunyai uang. Di tengah perjalanan, dia diturunkan oleh kondektur karena tidak punya tiket dan tidak punya uang buat bayar ongkos. Setelah itu, dia minta bantuan Raja Demit agar bisa mengantarnya pulang.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Oleh Raja Demit, Fahrullah diminta mencari tempat yang gelap dan tidak ada orang. Perintah tersebut diikuti oleh Malik. Di tempat yang gelap dan sepi tersebut, Malik disuruh memejamkan mata dan jangan sesekali membukanya, kecuali diperintahkan buka oleh si Raja Demit.&lt;br /&gt;Suatu keajaiban memang terjadi. Setelah diperintah membuka mata, dan Fahrullah pun membuka matanya, maka dia sudah ada di belakang rumahnya di Sidoarjo.&lt;br /&gt;Kejadian yang Penulis dan teman-teman lainnya sering saksikan adalah, ketika Fahrullah membutuhkan uang. Setelah dia berkomunikasi dengan Raja Demit dan menyanggupi syarat yang diajukan oleh si Raja Demit, maka dalam waktu kurang dari lima menit, uang lima puluh ribu atau seratus ribu sudah ada di tangan Malik.&lt;br /&gt;Pada mulanya, syarat yang diminta oleh Raja Demit itu hanya hal-hal biasa saja, seperti harus mandi di WC, tidak boleh mandi di kamar mandi. Namun, lama-kelamaan syarat yang diajukan oleh si Raja Demit mulai menyalahi aturan-aturan agama. Misalkan saja, Fahrullah harus kencing di depan teman-teman yang sedang santai di lapangan olah raga, atau tindakan lain yang cenderung melanggar adapt dan etika kesopanan.&lt;br /&gt;Menurut pengamatan Penulis, uang yang dibuat oleh Fahrullah lewat bantuan Raja Demit adalah sihir makhluk gaib. Karena uang tersebut tidak bisa bertahan lama. Setelah Fahrullah membelanjakannya, tidak berapa lama kemudian, uang tersebut kembali ke ujud semula. Ya, kalau semula F.Malik memegang kertas atau daun, kemudian berubah menjadi uang, maka setelah uang tersebut dibelanjakan maka beberapa menit kemudian, uang tersebut berubah lagi menjadi kertas atau daun.&lt;br /&gt;Salah seorang teman Penulis dari Lampung, pernah diajak oleh Fahrullah nonton bioskop dengan memakai uang yang disulap dari bungkus permen. Seusai pertunjukan, Fahrullah beli satu bungkus rokok dengan menggunakan sobekan karcis bioskop. Terus langsung naik taxi dengan uang yang juga hasil sihir si Raja Demit.&lt;br /&gt;Ketika di tengah perjalanan, ada warung sate kambing, tiba-tiba Fahrullah minta berhenti. Mereka masuk warung itu, namun anehnya, Fahrullah memesan buat dia sate kambing mentah. Sedangkan untuk teman penulis sate kambing bakar.&lt;br /&gt;Pada mulanya tukang sate menganggap pesanan Malik hanya bercanda, namun Malik meyakinkan bahwa memang dia memesan sate kambing mentah. Tentu saja tukang sate kambing menjadi terheran-heran setelah sate kambing mentah disediakan Malik dengan lahap menyantapnya.&lt;br /&gt;Anehnya lagi, setelah sampai di Padepokan, Fahrullah langsung menuju dapur kemudian makan nasi sama lauk pauk seadanya. Teman penulis dari Lampung ini karuan heran melihat F.Malik makan lagi. Namun Malik&amp;nbsp; bilang, yang makan sate kambing mentah tadi bukan dia, tapi si Raja Demit sahabatnya, sedangkan yang sekarang makan nasi dan sayur, adalah Malik sendiri.&lt;br /&gt;Kisah unik lainnya seperti ini….&lt;br /&gt;Kalau biasanya uang bikinan Fahrullah hanya bertahan beberapa menit setelah dibelanjakan, maka lain lagi halnya jika Fahrullah butuh uang banyak dan agar tahan lama. Caranya yaitu dengan memakai satu uang asli ditambah beberapa lembar kertas atau daun sesuai kebutuhannya.&lt;br /&gt;Waktu itu, Malik tertarik dengan iklan di salah satu koran yang menyatakan bahwa ada satu cara agar uang di ATM bertambah dengan sendirinya. Kemudian F.Malik meminjam uang lima puluh ribu pada salah seorang teman Penulis.&lt;br /&gt;Setelah itu, uang tersebut digabung dengan sobekan-sobekan koran. Aneh, tidak lama kemudian di tangannya sudah tergenggam sejumlah uang lima puluh ribuan, sama persis dengan uang lima puluh ribuan yang asli. Uang yang asli dikembalikan sedangkan uang sihir Raja Demit dibawa ke bank untuk ditansfer ke rekening orang yang pasang iklan.&lt;br /&gt;Menurut Malik, uang tersebut bisa bertahan sampai tiga hari, setelah itu baru berubah seperti semula.&lt;br /&gt;Kisah lain yang aneh bin ajaib seperti ini….&lt;br /&gt;Fahrullah bukan hanya bisa bikin uang dari kertas atau daun untuk dirinya saja, tetapi dia juga bisa menurunkan ilmunya pada orang lain. Hal ini pernah dia lakukan pada teman-teman Penulis. Sebut saja seperti kepada Fahri dari Sintang dan Fahran dari Pontianak, Kalimantan Barat, Ferdi dari Bandung, Jawa Barat, dan Gunawan dari Negara Ratu, Lampung.&lt;br /&gt;Caranya, tiap orang teman Penulis itu diberi 7 biji gotri kecil yang sudah dimanterai oleh si Malik. Gotri tersebut harus ditelan dengan air putih yang sudah dicampuri dengan setetes darah Malik Hanya Fery yang bersedia meminum air bercampur setetes darah Fahrullah itu, sedangkan Fahran, Ferdi dan Gunawan tidak mau meminum air yang bercampur darah, mereka hanya minta minum dengan air biasa.&lt;br /&gt;Akhirnya, hanya Fery yang berhasil. Katanya, yang ikut Fahry bukan Raja Demit, tetapi anak bajang, yang permintaannya juga tidak aneh-aneh seperti permintaan Raja Demit jiak dia memberikan sesuatu sebagai imbalan.&lt;br /&gt;Memang, persekutuan antara Fahrullah dengan Raja Demit berlangsung cukup lama dan tidak terkontrol oleh guru Penulis, yang waktu itu memang sedang tidak ada di Solo. Karena beliau sedang menunaikan ibadah haji. Sepulang beliau dari ibadah haji, maka Fahrullah dipanggil olehnya agar jangan lagi melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dengan cara membuat uang sihir atas bantuan Raja Demit.&lt;br /&gt;Di depan guru kami, Malik berjanji untuk tidak berbuat seperti itu lagi. Namun, setelah dia pulang ke Sidoarjo, perbuatan tersebut diulangi lagi. Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali.&lt;br /&gt;Setelah peringatan ketiga tidak diindahkan, maka guru kami akhirnya bertindak tegas. Dengan paksa, Raja Demit teman Malik dipasung kemudian ditanam di gunung Galunggung.&lt;br /&gt;Setelah Raja Demit tidak mendampingi Fahrullah, maka hilanglah kesaktiannya. Dia tidak bisa lagi membikin uang dari kertas atau daun.&lt;br /&gt;Demikianlah salah satu contoh orang yang belajar ilmu gaib tetapi tidak mempunyai iman yang kuat. Oleh sebab itu, pesan kami kepada semua Pembaca, kalau ingin belajar ilmu gaib terlebih dahulu harus belajar ilmu-ilmu Fiqh, Tauhid, Akhlaq dan lain-lainnya agar jangan sampai tersesat dijalan yang tidak dibenarkan oleh agama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-8035316489763336324?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8035316489763336324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8035316489763336324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/demi-uang-rela-piara-raja-jin.html' title='Demi Uang , Rela Piara Raja Jin'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-588632182326249250</id><published>2011-02-19T16:36:00.000+07:00</published><updated>2011-02-19T16:36:10.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>SYARAT DIBAYAR,  UANG TUNAI LANGSUNG DIDAPAT</title><content type='html'>Bank Gaib Boja merupakan salah satu wahana pesugihan dari bnyak tempat untuk mencari pesugihan lainnya yang tersebar di tanah Jawa. Baik itu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta serta Jawa Timur. Sebut saja misalnya wahana pesugihan Tuyul Ketos di Klaten, Jawa Tengah. Ada lagi pesugihan Sendang Balong, Magetan, Jawa Timur, serta pesugihan Tuyul Sendang Pepe di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun pada umumnya, tempat-tempat pesugihan selain tiga yang disebutkan di atas, tak satupun yang menghasilkan uang tuani ke hadapan para pelaku ritualnya. Bahkan, tempat seperti itu, lebih tepatnya sebagai wahana untuk mencari pelarisan. Bukan pesugihan. Kecuali pesugihan Tuyul yang harus memelihara tuyul jika ingin mendapatkan uang tunai. Tapi syaratnya tentu tidak mudah. Termasuk sarana yang harus disediakan oleh pelaku di rumah jika memelihara tuyul. Bahkan tak jarang, tuyul yang dipeliraha, tidak mau “bekerja” karena sesaji kurang atau sebab lain. Konon, tuyul memang makhluk yang senang ngambek atau mutung.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang disebut sebagai Bank Gaib Boja memang sangat berbeda dengan tempat pesugihan sesat lainnya. Di tempat ini pelaku bisa langsung mendapatkan uang tunai dalam jumlah milyaran rupiah. Tentu dengan catatan dia sukses dalam melakukan ritual.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bank Gaib Boja persisnya berupa pepunden yang sudah sangat kuno. Jika dilihat dari fisiknya, tempat pesugihan ini hanyalah berbentuk sebuah pohon kamboja yang sudah tua. Mungkin karena itulah masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Bank Gaib Boja, atau ada juga yang menyebut sebagai Bank Gaib Punden Boja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara administratif, Bank Gaib Punden Boja berada di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Menurut informasi yang berhasil dihimpun Misteri, Bank Gaib Boja ini sudah banyak memiliki nasabah yang tersebar di berbagai tempat. Konon, mereka yang berhasil melakukan peminjaman uang di tempat ini bisa membawa pulang uang dalam jumlah amat besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ini bukan dongeng, Mas! Salah seorang sahabat saya sudah membuktikannya. Dia dapat pinjaman uang satu milyar lebih, dan sekarang sudah jadi juragan bakso yang kaya raya. Makanya saya dating kemari untuk mengadu nasib,” kata Sadiman, salah seorang pengunjung yang berkata tanpa ragu dan malu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika ditanya apakah dia tidak takut dengan akibatnya di kelak kemudian hari, maka jawabnya, “Saya tidak peduli, Mas! Kalau sudah mati, biarlah apapun jadinya. Yang penting saya ingin kaya. Capek jadi kere terus-terusan. Saya juga ingin membahagiakan anak dan isteri. Biarlah saya berkorban untuk mereka.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangkali, memang banyak orang-orang yang berpikiran pendek dan nekad seperti Sadiman. Apalagi di tengah situasi zaman yang serba sulit seperti sekarang ini.  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut keterangan juru kunci Bank Gaib, untuk mendapatkan pesugihan di tempat ini, pelaku harus melakukan ritual khusus di bawah punden pohon kamboja tersebut. Adapun syarat sesaji yang harus dipenuhi oleh pelaku yakni,  minyak jafaron, kembang tiga macam atau yang lazim disebut kembang telon, kemenyan atau yosua, nasi tumpeng serta ayam panggang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah semua sesaji lengkap, dengan dipandu oleh juru kunci atau penjaga punden, pelaku dapat langsung melakukan ritual. Dan ritual ini harus dilakukan pada malam Jum’at. Akan lebih afdol, jika ritual dilakukan pada malam Jum’at yang keramat, yakni malam Jum’at Legi atau Kliwon.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Syarat-syaratnya harus dipenuhi. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Dan akan lebih baik. Kalau kurang, pasti tidak akan ada respon dari alam sana,” tutur juru kunci, yakni seorang kakek berusia 70-an tahun yang akrab disapa Mbah Miran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila semua persyaratan sudah dilengkapi, dan si pelaku sudah mantap lahir dan batin, maka Mbah Miran akan membeberkan tata cara ritualnya. Setelah prosesi ritual yang dipandu juru kunci usai, pelaku dapat langsung pulang ke rumah. Karena memang, uang tunai yang didapat oleh pelaku dari mencari pesugihan di tempat ini, tidak cair saat itu juga. Namun pelaku harus menyediakan kamar khusus dirumahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Asal sesaji yang dipersembahkan diterima oleh sang penguasa gaib, dalam kurun waktu antara 40-90 hari, maka uang tunai akan secepatnya dikirim,” tandas Mbah Miran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih lanjut dijelaskan olehnya, di Bank Gaib Punden Boja, sesungguhnya ada dua pilihan bagi pelaku yang ingin mendapatkan uang tunai. Pilihan pertama adalah dengan cara meminjam, dan yang kedua adalah dengan cara meminta. Jika meminta, biasanya maka yang didapat oleh pelaku cuma sekedarnya saja. Suatu missal, pelaku betul-betul kepepet karena ditagih utang dan harus segera membayar. Jika seperti ini dan mengatakan hanya ingin meminta pada saat ritual, maka pelaku akan diberi oleh sang penguasa gaib sebatas besarnya utang si pelaku. Konon, hal ini tanpa tumbal apapun. Yang penting, si pelaku benar-benar tengah dikejar utang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau berbohong, jangan harap akan diberi. Malahan bisa saja dia celaka!” Tandas Mbah Miran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika saat ritual pelaku mengatakan ingin mendapat pinjaman, maka akan lain lagi nilai yang diperoleh. “Pelaku tingal menyebut angka nominal yang diinginkannya,” tambah si kakek. Dia lalu menyebutkan bahwa penguasa gaib tempat itu hanya bisa memberikan pinjaman uang tak lebih dari tiga milyar rupiah jumlahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau saat meminjam pelaku menyebut angka nominal lebih dari itu, maka dapat dipastikan tidak akan dipenuhi. Masalah besar pencairannya, Eyang yang mengira-ngira. Tapi yang jelas, pasti lebih satu milyar,” cerita Mbah Miran kepada Misteri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika lebih lanjut ditanyakan tentang para pencari pesugian di tempat itu yang telah sukses, juru kunci dengan blak-blakan menyebut beberapa nama. Di antaranya, Margono warga Bodak, Purwodadi, Jawa Tengah, Adji Saputro dari Jakarta serta seorang berinisial SHD yang menurut Mbah Miran, berprofesi sebagai wartawan di Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Itu hanya sebagian yang saya sebutkan. Yang jelas, banyak sekali yang sukses. Dan yang jelas lagi, dari yang sukses itu ada juga wartawan. Tapi jangan tersinggung lho, Mas!” Tutur juru kunci dengan nada setengah bercanda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih menurut cerita Mbah Miran, walau tempat itu sering didatangi para pencari pesugihan yang menginginkan uang tunai, baik itu yang pinjam milyaran rupiah maupun yang diberi secara cuma-cuma, tapi dana yang bersedia di Bank Gaib Punden Boja, takkan habis dalam waktu dekat ini. Pasalnya, menurut Mbah Miran, di tempat tersebut, tersedia uang tunai sebanyak tiga kontainer besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hingga kini, yang dibuka baru satu kontainer. Itupun belum ada sepersepuluh dari isi container itu yang telah dipinjamkan kepada para nasabah,” tandas Mbah Miran yang mengaku bisa melihat keberadaan uang tersebut dengan kekuatan mata batinnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan, menurutnya lagi, di bank gaib tersebut juga ada sistem seperti juga layaknya ada sistem administrasi yang berlaku di sebuah bank di alam manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bank gaib itu juga punya karyawan. Para karyawan itu umumnya adalah mantan pelaku pesugihan yang telah dis waktunya, dan harus mengabdi di alam gaib Punden Boja. Nah, mereka inilah yang mendata besarnya pinjaman serta kapan waktu pengembaliannya bagi para nasabah baru,” cerita Mbah Miran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Yang jadi karyawannya adalah mantan nasabah yang sudah meninggal. Mereka yang kemudian disuruh mendata para nasabah baru. Termasuk mencatat kapan waktu pengembaliannya. Kalau masalah pencairan, Eyang sendiri yang mengantar ke rumah nasabah.” Jelas Mbah Miran ketika Misteri mendesaknya lagi. Yang disebutnya sebagai Eyang adalah penguasa gaib tempat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti halnya tempat pesugihan ditempat lain, pesugihan Bank Gaib Punden Boja juga meminta tumbal nyawa. Namun menurut juru kunci, penguasa gaib tempat itu, tidak mau diberi tumbal nyawa orang lain, walau itu keluarga si pelaku. Yang diinginkan oleh sang penguasa, nyawa pelaku sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Namun hal ini berlaku jika pelaku tak mampu mengembalikan pinjaman tepat waktu!” Tandas Mbah Miran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut perkiraan Misteri, sebenarnya ada perbedaan yang signifikan antara tumbal nyawa di tempat pesugihan lain dengan Bank Gaib Punden Boja. Jika di tempat lain biasanya pelaku akan menjadi abdi sang penguasa gaib sebelum takdirnya tiba, tapi tidak demikian di tempat ini. Menurut juru kunci, biasanya pelaku diberi kesempatan hingga usia pelaku maksimal 90 tahun untuk mengembalikan pinjaman. Dalam kurun waktu itu, jika pelaku mampu mengembalikan dengan utuh pinjamannya yang tanpa bunga, maka akan bebas. Atau dengan kata lain, pelaku takkan menjadi abdi sang penguasa gaib.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Namun menurut kejadian yang sudah-sudah, semua pelaku tak ada yang mampu mengembalikan dengan utuh,” terang Mbah Miran lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Menurutnya, walau ketika dari rumah uang yang akan dikembalikan di hitung genap sesuai besarnya pinjaman semula, tapi sesampainya di areal Bank Gaib Punden Boja, uang itu pasti sudah berkurang jumlahnya. Hemat Misteri, barangkali inilah cara para iblis yang bersemayam di sana untuk menjerat para korbannya agar menjadi hamba-hamba sesat dan menghuni alam kegelapan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Selama saya jadi juru kunci kurang lebih 30 tahun, tak seorangpun nasabah yang mampu mengembalikan pinjaman dengan utuh. Memang saat dihitung di rumah nilainya genap sejumlah pinjaman awal. Tapi setelah sampai di sini, jumlahnya pasti berkurang,” terangnya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena setelah dihitung kembali jumlahnya tidak sesuai dengan pinjaman semula, maka sang penguasa gaib tidak mau menerima pengembalikan. Walau begitu, sang penguasa gaib tidak langsung serta merta mengambil nyawa pelaku dalam waktu dekat. Karena penguasa gaib hanya mau mengambil nyawa pelaku dan dijadikan abdi jika takdir pelaku telah tiba. Maksudnya, kontrak umurnya memang sudah sampai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Enaknya ya…itu. Pelaku hanya diambil oleh Eyang jika takdinya sudah tiba. Kalau belum takdinya, ya dibiarkan. Tapi biasnya, para pelaku pencari pesugihan di tempat ini, umurnya justru panjang. Bahkan ada yang mencapai 90 tahun. Karena itu merupakan batas akhir yang diberikan oleh Eyang.” Papar Mbah Miran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita Mbah Miran, jika benar, barangkali memang bisa menggiurkan mereka yang punya keinginan cepat kaya tapi dengan pikiran pendek dan sesat. Sebenarnya,  dari mana saja para pelaku pencari pesugihan di tempat ini? Menurut Miran, rata-rata pelaku berasal dari luar daerah setempat. Ada yang dari Jakarta, Bandung, serta luar Jawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;RADEN SUBAKIR – DEWI AMINI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa sebenarnya sosok gaib penghuni pohon kamboja yang telah berusia kurang lebih 450 tahun itu? Menurut juru kunci, yang menjadi penguasa gaib Bank Gaib  Punden Boja adalah Raden Subakir dan isterinya yang bernama Dewi Amini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semasa hidupnya, mereka merupakan keturunan darah biru. Mereka juga dikenal sebagai saudagar yang kaya raya pada zamannya. Suatu ketika mereka pergi merantau ke tanah Jawa untuk berdagang. Setibanya di tanah Jawa, mereka kemudian menetap di kerajaan Pajang yang saat itu dipimpin oleh rajanya bernama Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah sekian lama menikmati kemakmuran kerajaan Pajang lewat kegiatan bisnisnya, di tempat mereka menetap terjadi huru-hara besar, yakni pertempuran antara Pajang melawan Mataram, yang ketika dipimpin oleh rajanya bernama Panembahan Senopati. Padahal sebelumnya, Panembahan Senopati yang mempuyai nama kecil Sutawijaya, pernah menjadi seorang abdi di Pajang. Kemudian dia mendirikan kerajaan sendiri, dan Jaka Tingkir yang telah membesarkannya. Kemudian justru di serang. Ketika masih di Pajang, Panembahan Senopati diangkat sebagai putera angkat oleh Jaka Tingkir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyerangan tersebut dilakukan oleh Panembahan Senopati, semata-mata untuk memenuhi ambisi politiknya untuk memperluas wilayah kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena situasi yang kurang mendukung, kemudian Raden Subakir beserta isterinya memilih untuk mengungsi ke arah timur. Perjalanannya kali ini bersama para bangsawan Pajang yang tidak mau mengakui kekuasaan Panembahan Senopati. Salah satu pangeran dari Pajang yang menyingkir bersama keduanya yakni seorang bernama Pangeran Timur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konon, sesampainya di Madiun, Jawa Timur, mereka sudah tidak bersama lagi. Raden Subakir dan isterinya memilih menetap di Ngawi, sementara Pangeran Timur memilih menetap di Madiun. Bahkan, Pangeran Timur kemudian menjadi Bupati Madiun yang pertama dengan gelar Adipati Ronggo Jumeno.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak lama setelah menjadi bupati, Ronggo Jumeno kemudian memberontak kepada Mataram. Konon, pemberontakan Ronggo Jumeno kepada Mataram ini terjadi karena masalah suplai logistic yang tidak adil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, Raden Subakir dan isterinya saat mengungsi membawa serta seluruh harta berharga yang mereka miliki. Terutama barang-barang yang terbuat dari emas. Bahkan disebut-sebut, barang yang terbuat dari emas milik keduanya, jumlahnya mencapai puluhan peti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak jarang, selain menyuplai logistik untuk pasukan Ronggo Jumeno dalam perang melawan Mataram, Raden Subakir dan Dewi Amini turut serta di dalam medan pertempuran. Karena memang sebenarnya keduanya juga orang sakti. Apalagi, jarak antara Madiun-Ngawi di mana keduanya tinggal, hanya terpaut sekitar 25 Km.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walau bisa dikatakan sebagai rekan seperjuangan, ketika meninggal, keduanya tidak mau dimakamkan di komplek pemakaman para bangsawan Madiun. Ketika wafat, keduanya dimakamkan di Ngawi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikisahkan, mereka dikubur bersama harta bendanya yang melimpah itu. Makam mereka tanpa batu nisan, kecuali sebuah pohon kamboja yang tertanam di atas pusaranya. Pohon kamboja inilah yang kemudian oleh warga disebut Bank Gaib Punden Boja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimana kedua sosok yang telah dimakamkan ini kemudian membuka bank gaib? Masih menurut juru kunci, walau secara kasat mata keduanya telah meninggal, tapi pada hari-hari tertentu mereka muncul di toko-toko emas yang ada di wilayah Ngawi dan sekitarnya, termasuk Madiun, Magetan serta Ponorogo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemunculan kedua sosok ini, hanya untuk menjual emas miliknya ketika masih hidup. “Menurut pengalaman saya, Raden Subakir dan isterinya telah menjual emas ke toko-toko sejak era tahun 40-an atau ketika Indonesia belum merdeka. Uang hasil penjualaan emas inilah, yang kemudian di simpan dalam tiga gedung besar seperti kontainer dan kemudian dipinjamkan kepada para nasabah dari bangsa manusia, dengan persyaratan khusus,” papar Mbah Miran dengan bersungguh-sungguh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau benar begitu, bukankah uang hasil penjualan zaman dulu sekarang sudah tidak berlaku lagi? Padahal, yang dipinjamkan ke para nasabah, tentu adalah uang yang masih harus berlaku saat ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Eyang juga punya tabungan di bank bangsa manusia. Karena itu, uangnya juga mengikuti zaman yang ada!” Jawab Mbah Miran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat Misteri yang kebingungan, dia lalu menambahkan, “Namanya juga sosok gaib. Apa yang tidak mungkin bagi kita, sangat mudah bagi Eyang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, Misteri tidak memperoleh informasi bagaimana cara pinjaman dikembalikan. Kalau harus dalam bentuk uang chas, lantas dikemanakan uang tersebut?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal lagi, Mbah Miran enggan menceritakan mengapa dirinya tetap hidup miskin, padahal dia sudah puluhan tahun diangkat sebagai penghubung Bank Gaib Punden Boja. Hanya, sekali waktu dia menyela dengan nada kurang suka, “Kalau saya mau kaya, itu mudah bagi saya. Tapi, saya lebih suka hidup seperti ini.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benarkah? Semuanya memang terbungkus misteri…!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-588632182326249250?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/588632182326249250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/588632182326249250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/syarat-dibayar-uang-tunai-langsung.html' title='SYARAT DIBAYAR,  UANG TUNAI LANGSUNG DIDAPAT'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-7326352254999831551</id><published>2011-02-19T16:29:00.001+07:00</published><updated>2011-02-19T16:30:20.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>bank Gaib Yang Nyata</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0303/18/sm1sesat18.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://www.suaramerdeka.com/harian/0303/18/sm1sesat18.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah Anda mendengar istilah bank gaib?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bank yang ini konon dipercaya mampu mendatangkan uang secara gaib. Beberapa paranormal menyatakan bahwa keberadaan bank gaib itu memang benar-benar ada. Namun, untuk dapat mengaksesnya, diperlukan perantara yang mumpuni dan dapat dipercaya oleh pengelola bank gaib ini.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, beberapa paranormal lain juga berpendapat bahwa uang yang kita dapat melalui bank gaib pada saat ini sebenarnya merupakan pinjaman yang harus dibayar oleh anak cucu kita di masa depan. Dengan kata lain, sebenarnya kita sedang mencuri rezeki milik anak cucu kita di masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada macam-macam cara yang bisa dipergunakan untuk dapat mengakses dana dari bank gaib. Namun, beberapa paranormal menawarkan cara paling praktis, yaitu dengan menyediakan mahar tertentu dan klien tinggal menunggu hasilnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua tatacara ritual dan lelaku akan dijalankan oleh sang paranormal. Banyak sedikitnya dana yang diinginkan bergantung jumlah mahar yang diserahkan. Begitu juga dengan cepat atau lamanya proses pencarian dana, itu juga bergantung besar kecilnya mahar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dana yang diperoleh dari bank gaib ini bisa didapat melalui dua cara, yaitu pinjaman dan hibah. Skema ini konon dimiliki oleh bank gaib yang dikelola oleh penguasa gaib Gunung Merbabu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pinjaman dan Hibah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Eyang Syech Jagat Maulana dipercaya sebagai penguasa gaib Gunung Merbabu. Dari sosok gaib inilah, konon dana bank gaib bisa diakses oleh masyarakat luas, melalui perantara tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangka waktu pencairan dana gaib bervariasi, mulai 7 hari hingga 41 hari. Semuanya bergantung besar kecilnya mahar yang diserahkan kepada paranormal yang jadi perantaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dana yang disediakan tidak terbatas. Adapun jangka waktu pengembaliannya maksimal selama 15 tahun. Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana cara mengangsurnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Eyang Syech Jagat Maulana sudah memiliki mekanisme skema pengembalian pinjaman. Proses pengembalian bisa dilakukan oleh nasabah bank gaib dengan cara menyembelih sapi kurban setiap tanggal 10 Muharram. Banyaknya sapi yang dikurbankan bergantung besar kecilnya pinjaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk setiap 1 milyar rupiah dana yang dipinjam dari bank gaib, nasabah harus membayarnya dengan cara menyembelih 5 ekor sapi untuk dikurbankan. Sapi yang dikurbankan harus sapi dewasa yang sehat dari jenis sapi bali atau sapi merah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, selama masa kredit 15 tahun, nasabah harus menyembelih 75 ekor sapi. Jika harga sapi 14 juta rupiah tiap ekornya, nilai keseluruhannya sudah setara dengan besar pinjaman yang didapatnya, yakni 1 milyar rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana layaknya bank umum, bank gaib ini juga memiliki debt collector untuk menagih paksa nasabah yang mangkir dalam membayar angsuran. Namun, debt collector bank gaib ini tidak memiliki rasa belas kasih apalagi toleransi. Dia berpegang pada komitmen yang telah diperjanjikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara bertahap, debt collector bank gaib akan mengambil paksa satu persatu anggota keluarga nasabah yang mangkir dari kewajibannya untuk dijadikan kurban pengganti sapi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain memberikan dana dalam bentuk pinjaman, bank gaib milik Eyang Syech Jagat Maulana ini juga siap memberikan dana kepada nasabahnya dalam bentuk hibah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persyaratan untuk mendapatkan dana hibah ini hampir sama dengan persyaratan untuk mendapat pinjaman. Yaitu dengan cara membayar sejumlah mahar kepada paranormal yang jadi perantaranya. Namun, besar uang mahar yang harus dibayarkan 10 kali lebih besar dari jumlah mahar untuk mendapat pinjaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui skema ini, Eyang Syech Jagat Maulana tidak menuntut nasabahnya untuk melakukan ritual apapun yang dimaksudkan sebagai pengembalian dana yang telah diterimanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hibah ini diberikan secara murni, tidak ada kewajiban untuk mengembalikannya. Jadi, cukup aman bagi nasabah dan keluarganya serta tanpa efek samping.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana, Anda berminat untuk mengaksesnya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-7326352254999831551?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7326352254999831551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7326352254999831551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/bank-gaib-yang-nyata.html' title='bank Gaib Yang Nyata'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-3574561056861012288</id><published>2011-02-14T08:36:00.000+07:00</published><updated>2011-02-14T08:36:54.659+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Pesugihan Hantu Cekik di Semarang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://q-bonk.com/wp-content/uploads/2010/04/hubble_j-tm.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://q-bonk.com/wp-content/uploads/2010/04/hubble_j-tm.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Heboh Hantu Cekik jelas bukan isyu isapan jempol. Ternyata, ada ilmu   hitam yang memang bisa mengubah sosok manusia menjadi hantu jenis ini.   &lt;br /&gt;Ini  masih berhubungan dengan teror Hantu Cekik yang melanda beberapa  daerah  di Kabupaten Demak, atau yang kemudian juga menyebar ke sejumlah   daerah lain di Jawa Tengah. Menurut dugaan, apa yang disebut Hantu Cekik   itu sesungguhnya adalah manusia setengah siluman yang gemar memangsa   korbannya dengan cara mencekik leher dan menghirup sukmanya. Para pelaku   ritual sesat ini kemudian dikenal dengan sebutan Dhamar Colok.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Istilah  Dhamar Colok ini memang sudah tak asing lagi di telinga orang  Jawa,  khusunya daerah Jawa Tengah bagian utara. Kuat dugaan, kemunculan   manusia setengah siluman ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintah   atas dikeluarkannya ketetapan hemat energi listrik dan BBM.&lt;br /&gt;Seperti  diketahui, di Demak mata pencaharian penduduk di dapat dari  bertani,  sehingga rata-rata orang Demak, khususnya yang tinggal di  pedesaan  adalah keluarga yang kurang mampu. Di daerah ini kita akan  sering  mendengar kata pepatah seperti ini; "Yen rendeng ora biso dodok,  yen  tigo ora bisa cewok." Arti dari pepatah ini, ialah: "Jika musim  hujan  turun tidak dapat duduk, jika musim kemarau tidak dapat cebok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang  benar, di Demak jika musim hujan turun tiap tahunnya sudah dapat   dipastikan banjir akan melanda di setiap daerah se-Kabupaten Demak.   Begitu pula jika kemarau tiba, akan sangat sulit mencari air akibat   banyak sungai kekeringan, bahkan tanah retak-retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak  penduduk mengikuti anjuran pemerintah untuk menghemat energi  listrik  dan BBM, beberapa desa di Demak mulai sekitar jam 20.00 WIB,  keadaannya  sudah nampak sangat sunyi, dan gelap gulita. Bahkan, jarang  sekali  penerangan listrik atau lampu minyak yang dihidupkan di setiap  rumah  maupun jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin keadaan yang seperti ini merangsang  hasrat penganut Dhamar  Colok, alias manusia setengah siluman ini untuk  melakukan aksinya.  Menurut penuturan psikolog dan paranormal Ki Ageng  Quthub Melati, pada  umumnya, ciri-ciri manusia Dhamar Colok ialah  seperti manusia biasa.  Namun, ada hal-hal spesifik yang bisa kita  perhatikan sebagai ciri  dominan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, manusia Dhamar  Colok tingkah lakunya seperti orang bodoh, suka  menyamar seperti orang  gila, penampilannya kotor dan lusuh, serta  wajahnya suram. Hal yang  paling khusus, biasanya dia lebih suka memilih  tidur di kuburan. Hanya  saja ketika berubah menjadi siluman, ada banyak  keanehan pada bentuk  fisiknya. Di antaranya, raut mukanya bercahaya  hijau, tubuhnya berubah  kekar hitam legam, tubuhnya sulit ditangkap  maupun diraba, tapi bisa  dirasakan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk Dhamar Colok ini bisa ditangkap.  Ini sangat mungkin terjadi jika  kebetulan saat naasnya tiba. Atau bisa  juga karena dia melanggar  pantangan, sehingga akan luntur daya  kekuatan gaibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya, kisah Dhamar Colok berasal dari  tempat-tempat pesugihan. Ilmu  hitam ini merupakan ilmu dari Bhuto Ijo.  Bhuto Ijo tidak akan keberatan  meladeni permintaan serta memberkan ilmu  kepada manusia-manusia yang  menghambakan diri kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada  setiap pengikut-pengikutnya, Bhuto Ijo menjanjikan akan  memberikan  kesaktian ataupun kekayaan yang melimpah ruah. Asalkan si  pengikut  menyepakati sejumlah perjanjian khusus dan dapat memenuhi  syarat-syarat  yang menjadi ketetapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat dimaksud salah satunya  biiasanya berupa tumbal nyawa manusia,  yang jumlahnya ditetapkan oleh  si Bhuto Ijo sesuai dengan tingkat  kesaktian, maupun kekayaan yang  diminta. Konon, sukma manusia yang  dijadikan tumbalnya itu akan diambil  oleh makhluk tersebut untuk  dijadikan budaknya di alam lelembut sampai  dengan akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena erat hubungannya dengan makhluk  siluman, kemunculan manusia  Dhamar Colok biasanya malam hari. Di saat  hari gelap barulah dia akan  beraksi. Dengan kesaktiannya, maka serapat  apapun jendela dan pintu  dikunci, makhluk aneh ini dengan mudah bisa  memasuki rumah calon  korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal manusia aneh ini bisa  memasuki rumah, konon karena dia bisa  merubah diri menjadi cahaya  hijau, sehingga bisa melalui celah-celah  sempit jendela atau pintu.  Setelah leluasa memasuki rumah, lalu di saat  korbannya tidak sadar,  manusia Dhamar Colok akan langsung mencekik leher  korbannya, dan  menghirup sukma si korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada orang yang dicekik oleh  Dhamar Colok tapi dia selamat,  misalkan saja karena tertolong atau  ketahuan warga, biasanya akan ada  bekas cekikan di leher korban. Tak  hanya itu, badannya juga akan  mengalami panas, dingin, mata dan  pikirannya kosong, bahkan selalu  trauma dan ketakutan. Jika tidak  diobati, maka orang tersebut bisa  meninggal dunia secara tragis dan  mengenaskan. Sungguh suatu pemandangan  yang menyayat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih  menurut penuturan Ki Ageng Quthub Melati, untuk mengusir pengaruh   kekuatan hitam Dhamar Colok, korban dapat disembuhkan dengan dibikinkan   ramuan untuk mengobati dan menetralisir energi negatif yang tersisa di   tubuh si korban. Ramuan ini sudah dipercaya sejak zaman nenek moyang   silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula ritual lain lagi yang dipercaya ampuh untuk  menangkal keganasan  Dhamar Colok. Ritual yang terbilang unik ini lebih  mudah dijalankan,  tapi juga menggelikan, karena orang yang menjalankan  ritual harus  telanjang bulat sambil membawa syarat. Di antara syarat  tersebut adalah  kacang hijau, merica, garam dan tanah. Kesemua syarat  tersebut  sebelumnya sudah digoreng tanpa minyak (disangrai), bisanya  alat untuk  menggoreng bahan-bahan ini adalah apa yang disebut sebagai  ngaron, yakni  alat semacam gerabah yang terbuat dari tanah liat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  semua syarat tersebut dipersiapkan, segeralah mengelilingi  pekarangan  rumah sambil telanjang bulat. Nah, dalam memutari pekarangan  ini  biasanya ditutup dengan bilangan ganjil. Dengan ritual telanjang  bulat,  dipercaya sejak zaman para leluhur dahulu, dapat membuat manusia   Dhamar Colok akan mengalami naas. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, melihat orang  telanjang bagi manusia Dhamar Colok adalah suatu  larangan. Disamping  itu, banyak juga orang tua yang menyarankan, bila  ingin terhindar dari  kejahatan pengaruh ilmu hitamnya, dianjurkan untuk  membiasakan tidur di  lantai. Konon, tanah mempunyai energi positif,  karena itu makhluk  jenis ini tidak berani memangsa korban yang sedang  tidur di lantai,  sebab terasa panas baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis Dhamar Colok sangat takut  sekali dengan berbagai ritual dan azimat  penangkal di atas. Setiap kali  setan ini beraksi, dan dia melihat  azimat penangkal, maka dia akan  segera kabur meninggalkan tempat yang  diincarnya. Jika dia sampai  melewati benda tersebut, sudah dipastikan  seluruh kekuatan energinya  akan musnah, dan dia akan berteriak keras  sekali karena badannya terasa  sakit semua seperti terbakar api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhamar Colok memangsa  korbannya biasanya ditandai dengan berkelebatnya  cahaya berwarna hijau.  Dan sang calon korban seringkali akan merasakan  capai, pegal linu,  nyeri, dan kantuk yang sangat dahsyat. Suhu badannya  juga naik turun,  keringatpun bercucuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu jika ada orang merasakan  tanda-tanda seperti itu  diharapkan agar segera mengumpul dengan warga  lain dan membaca doa. Jika  tidak mengumpul dengan warga lain, maka  ditakutkan dia akan langsung  meninggal dunia akibat pengaruh hirupan  penarik sukma ilmu hitam Dhamar  Colok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djoeminati, warga Kopen,  Brambang, Demak, menduga Dhamar Colok sedang  meneror desanya. Hampir  setiap malam warga meronda. Jika melihat  bayangan hitam atau cahaya  hijau berkelebat, maka dengan spontanitas  warga segera beramai-ramai  menabuh kentongan, lesung dan mengumandangkan  azan sekeras-kerasnya  untuk membangunkan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah banyak sekali yang menjadi  korban keganasan manusia siluman  ini, bahkan hampir setiap hari orang  mati akibat ulah Dhamar Colok,  maka warga daerah Demak trauma melihat  dan mendengar kematian warga.  Tentu saja kejadian ini meresahkan  masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paranormal di Demak dan sekitarnya akhirnya turun  tangan untuk mengatasi  teror gaib ini. Salah satunya seperti dilakukan  Ki Ageng Quthub Melati,  ketua Bait Pacerahan Agung Sasmitaning Sukmo  Sejati, dari Kahuripan,  Demak. Semangat memerangi teror tersebut dia  tunjukkkan dengan  kegigihannya menyebarkan azimat penangkal kepada  warga masyarakat di  daerah TKP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat akhirnya mengadakan  musyawarah, para tokoh agama, tokoh adat,  paranormal, dan warganya,  sepakat menyelenggarakan upacara Ritual  Wilujengan Tolak Balak  pengusiran manusia Dhamar Colok, yang dipimpin  langsung oleh Ki Ageng  Quthub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual yang diselenggarakan dilengkapi menyan, bunga, dan  umbo rampe  lainnya. Setelah upacara Wilujengan Tolak Bala, pengusiran  itu  dilaksanakan, dan terpasangnya setiap pintu rumah serta  gapura-gapura  jalan dengan azimat-azimat penangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya,  makhluk itu menghentikan terornya. Entah daerah mana lagi yang  akan  menjadi korban keganasan Dhamar Colok. Namun, dengan kalimat  majasinya  Ki Ageng mengatakan, sejak diadakannya upacara pengusiran,  manusia  siluman itu lalu menjelma menjadi kenaikan BBM. "Bahkan tidak  hanya  warga Demak saja yang tercekik lehernya, namun rakyat se-Tanah  Air,"  seloroh Ki Ageng.&lt;br /&gt;Memang, banyak orang yang tidak percaya akan  keberadaan Hantu Cekik,  bahkan menganggapnya sebagai isyu yang terlalu  dibesar-besarkan. Namun,  kenyataannya makhluk ini, setidaknya dalam  kajian kaum Paranormal,  memang sungguh-sungguh ada. Setidaknya, cerita  hantu satu ini juga telah  melegenda di lingkungan masyarakat kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-3574561056861012288?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3574561056861012288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3574561056861012288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/pesugihan-hantu-cekik-di-semarang.html' title='Pesugihan Hantu Cekik di Semarang'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-3485045497284297805</id><published>2011-02-14T08:31:00.000+07:00</published><updated>2011-02-14T08:31:57.474+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Pesugihan Pandan Segegek pantai depok</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ufkNNipqZQQ/SWd2lrPXYsI/AAAAAAAAAA8/wfQD1LLFXz0/s320/2.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/_ufkNNipqZQQ/SWd2lrPXYsI/AAAAAAAAAA8/wfQD1LLFXz0/s200/2.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesugihan, satu kalimat yang sudah teramat akrab di sebagian besar   masyarakat Nusantara. Tak heran, jika hampir di seluruh daerah selalu   ditemui tempat tempat mistis untuk ritual pesugihan itu. Misalnya di   Pandansegegek, Kulonprogo, Jogjakarta. Bagaimana prosesi ritual dan   tanggapannya dari tokoh spiritualis? Berikut liputannya.&lt;br /&gt;Pantai  Pandansegegek adalah kawasan di sepanjang barat Pantai Trisik.  Sebagai  daerah wisata alam, Pantai Pandansegegek nyaris tak dikenal.  Selain  pemandangannya jauh dari kesan indah, kawasan itu juga cukup  terpencil  dan terpisah dari penduduk asli setempat. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pandansegegek, kini  merupakan  desa transmigran lokal di wilayah kabupaten Kulonprogo. Karena  belum  memenuhi persyaratan sebuah desa, pemukiman trans-lokal itu  secara  administratif menginduk atau masuk wilayah desa Karangsewu,  kecamatan  Galur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak dikenal dan jauh dari kesan indah, Pandansegegek  menjadi  terkesan asing. Tetapi, rasa asing itu bisa memudar, ketika  seseorang  mengetahui sebuah lokasi gumuk atau dataran tinggi yang  menyerupai  gunung, di ujung barat pemukiman Trans-lokal Ring II. Gumuk  itulah titik  pusat dari yang disebut Pandansegegek, tempat ritual  mencari pesugihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, Gumuk Pandansegegek tak nampak  sebagai tempat ritual.  Sebab, kawasan itu dikepung gundukan kotoran  binatang, yang sengaja  ditimbun untuk keperluan pupuk. Tak urung,  tempat ritual itu pun  dikerubungi jutaan lalat, kontras dengan bayangan  orang tentang sebuah  tempat ritual yang seharusnya bersih dan keramat.  Ada dua gubuk reyot di  puncaknya, yang sengaja dibuat untuk para  pelaku tirakat yang hendak  bertapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di puncak Gumuk  Pandansegegek, suasana angker lebih terasa karena  adanya sejumlah  sesaji dan tungku tempat pembakaran dupa. Selebihnya,  situasi angker  tercipta karena rimbunnya pepohonan yang didominasi oleh  ilalang yang  tumbuh liar. Tak ada benda keramat di tempat itu, kecuali  sebuah batu  cadas yang terlihat sengaja dipasang sekedar tanda tempat  menaruh  sesaji. Sulit mempercayai tempat itu sebagai tempat ritual, bila  tak  melihat langsung seseorang yang sedang laku tirakat di tempat itu.   Beruntung, belum lama ini kami mendapati seorang perempuan usia 30-an   tahun yang sudah 3 hari bertapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujub Kepada Ibu Ratu Kidul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  berbagai penelusuran yang dilakukan, Pandansegegek tak memiliki  juru  kunci baku. Para pelaku tirakat lebih sering datang dari jauh, dan  atas  petunjuk guru spiritualnya. Sugondo (30), warga asal Cepogo,  Boyolali,  yang kami temui di lokasi ritual mengatakan, kedatangannya ke   Pandansegegek hanya untuk mengantar seorang teman. Kepada posmo, jujur   Sugondo mengakui, temannya yang ketika itu sedang bertapa di dalam   gubuk, bertujuan untuk mencari kekayaan. Teman Sugondo itu adalah   perempuan, pedagang sayuran di pasar Giwangan, Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman  saya itu dulu kaya. Tapi mendadak bangkrut. Lalu, dia nekat   bertirakat. Sudah tiga hari ini teman saya puasa pati geni. Tidak makan   tidak minum dan tidak boleh terkena ataupun melihat cahaya. Rencananya,   empat hari ritual itu baru selesai. Tapi, tergantung apa sudah dapat   wisik atau belum”, kata Sugondo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugondo menyambung, permintaan  di Pandansegegek ditujukan kepada Ibu  Ratu Kidul alias Nyai Loro Kidul,  penguasa Laut Selatan. Dari berbagai  cerita pengalaman, kata Sugondo,  godaan laku tirakat di Pandansegegek  sangat berat. Misalnya, melihat  mayat digotong secara berulang-ulang.  Penampakan kepiting sebesar  sepeda motor dan beberapa penampakan lain  yang mengerikan. Jika sudah  berhasil, menurutnya, pelaku akan mendapat  wisik atau pesan gaib  melalui mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandansegegek ternyata tak hanya dikenal sebagai  tempat ritual pesugihan  tuyul. Tapi, juga pesugihan jenis lain seperti  Genderuwo atau Buto Ijo.  Untuk pesugihan tuyul, warga sekitar  mengatakan, pelaku tirakat yang  berhasli akan bisa melihat wujud tuyul  dan harus segera memasukkannya ke  dalam sebutir batu atau kerikil.  Dengan cara itu tuyul kemudian dibawa  pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika laku dan  godaan ritual mencari pesugihan di Pandansegegek teramat  berat, apakah  hasil yang diperoleh cukup sepadan? Sugondo mengatakan,  dari pengalaman  beberapa orang hasilnya memang sangat memuaskan. Lantas,  bagaimana  dengan resikonya? Sugondo mengaku tidak tahu. “Setahu saya,  jika gagal  hanya pulang tanpa hasil. Itu saja”, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguhkah laku  ritual di Pandansegegek itu luput dari resiko? Jangan  gegabah. Sebuah  ritual pastilah ada sejumlah mahar yang harus dibayar.  Berhasil maupun  tidak, mahar dalam bentuk apapun tetap harus diberikan.  Ibarat harus  memilih, pelaku tirakat hanya punya dua pilihan, mukti atau  mati. Ki  Santoso Sejati, spiritualis di Jogjakarta yang kebetulan  berasal dari  Kulonprogo, mengaku sering mengobati pasien lumpuh yang  diakibatkan  oleh kegagalan laku tirakat di Pandansegegek. Menurutnya,  laku ritual  di Pandansegegek tergolong musyrik. “Meminta kepada selain  Alloh itu  berarti menyekutukan Tuhan. Dosanya tidak terampuni ”,  tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki  Santoso Sejati menyambung, berhasil atau tidak, seseorang yang sudah   mencoba ritual itu secara otomatis namanya langsung tercatat di alam   gaib sebagai pengikut syetan. Jika gagal ritual, dampak negatif langsung   bisa dirasakan. Misalnya, hidup menjadi tambah susah dan tidak jarang   mengalami sakit berat yang tak bisa disembuhkan secara medis. Kalau   berhasil, akibatnya setelah mati akan menjadi budak syetan. “Alam gaib   itu memang ada. Demikian pula Ratu Kidul. Tapi perilaku manusia terhadap   alam gaib yang tidak tepat, justru membawa pada kesesatan. Ibu Ratu   Kidul tidak salah, manusianya yang salah. Lagi pula setelah saya   deteksi, di Pandansegegek ini hanya ada beberapa Jim anak buah Ratu   Kidul.”, pungkasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-3485045497284297805?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3485045497284297805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3485045497284297805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/pesugihan-pandan-segegek-pantai-depok.html' title='Pesugihan Pandan Segegek pantai depok'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ufkNNipqZQQ/SWd2lrPXYsI/AAAAAAAAAA8/wfQD1LLFXz0/s72-c/2.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-8312286138581152180</id><published>2011-02-14T08:27:00.000+07:00</published><updated>2011-02-14T08:27:38.621+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Gara-gara Sate Gagak aku jadi Kaya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3lestarey.files.wordpress.com/2010/10/sate_full.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="147" src="http://3lestarey.files.wordpress.com/2010/10/sate_full.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di kalangan pelaku spritual, ada teknik khusus untuk mengais rupiah di   tengah kuburan. Caranya, dengan berjualan sate gagak kepada arwah   gentayangan. Konon, penghuni makam di lereng Gunung Bugel, Rembang   pernah membeli sate gagak sampai Rp. 30 juta dalam semalam.&lt;br /&gt;Untuk  menjadi pedagang sate bagi arwah gentayang, yang diperlukan adalah   burung gagak hitam yang masih hidup, minyak Arrohman, serta kemenyan.   Dan syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah keberanian untuk bertemu   dengan para lelembut dari berbagai rupa.&lt;br /&gt;Pada tengah malam yang telah  ditentukan, burung gagak harus dibawa ke  makam yang akan dijadikan  lahan berdagang. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sesampainya di tempat yang  dituju, baca doa-doa khusus  untuk membuka alam gaib, sambil membakar  kemenyan. Tunggu sampai gagak  yang dibawa berkoak-koak.&lt;br /&gt;Ketika burung itu berbunyi, pada saat  itulah momen yang paling tepat  untuk menyembelih burung gagak itu.  Bersihkan bulu-bulu yang menghiasi  tubuhnya, lalu olesi dengan minyak  Arrahman. Kemudian potong daging  burung sesuai degan ukuran yang  dikehendaki. Bakarlah daging itu  layaknya sate biasa.&lt;br /&gt;Pada saat  bersamaan, para pembeli sate akan berdatangan. Mereka adalah  arwah  gentayangan dengan wujud yang beraneka rupa. Ada yang kakinya  patah  atau remuk, wajahnya rusak dengan darah yang mengalir deras, atau   kakinya tinggal sebelah karena kaki yang lain terlepas. Pendeknya, wujud   mereka sangat menakutkan dengan bau anyir darah yang mrenyengat.&lt;br /&gt;Mereka  berdatangan untuk merebut sate gagak yang dijual. Berapa pun  harganya  mereka akan membeli sate yang dijual itu. Kabarnya, seorang  pedagang  sate gagak di sebuah makam di lereng Gunung Bugel, Rembang  pernah  mengantongi uang sebanyak Rp. 30 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berdagang dengan  bantuan seorang paranormal yang mengetahui  seluk-beluk perdagangan sate  gagak. Syarat utama untuk meraup rezeki  gaib itu adalah keberanian.  Pasalnya, paranormal yang akan menjual sate  itu dan Anda yang bertugas  menerima uang dari para arwah. Tentunya, Anda  pun harus berhadapan  dengan arwah-arwah itu yang wajahnya amat  menyeramkan&lt;br /&gt;Jual Sate di Tengah Kuburan&lt;br /&gt;PERILAKU  supranatural tidak seluruhnya positif, kendati masuk kategori   alternatif. Misalnya, untuk menjadi kaya, orang mencari pesugihan dengan   makhluk halus untuk disuruh mencuri, jelas negatif nilainya. Sedang   melantunkan doa untuk melancarkan rizki, termasuk alternatif positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini  ada satu lagi yang meragukan kriterianya. Positif atau negatif,  tidak  jelas hukumnya. Kiat itu adalah, jual sate gagak di tengah  kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon,  seorang pemburu kekayaan berhasil mengumpulkan uang 30 juta  rupiah  semalam sepulang dari jualan sate gagak di lereng Gunung Bugel,   Rembang. Pada tengah malam, ia menjadi pedagang sate bagi arwah   gentayangan. Bahannya cukup seekor burung gagak hidup, bumbunya minyak   Arrohman dan kemenyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku yang dikerjakan, tengah malam membawa  burung gagak ke makam. Sampai  tujuan, pawang baca doa sambil bakar  kemenyan untuk membuka alam gaib  sampai burung gagak yang dibawa  berkaok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu terdengar kaok, burung gagak disembelih. Setelah  bulu-bulunya  dibersihkan, olesi dengan minyak Arrahman dan dipotong  seukuran kemasan  sate dan dibakar sebagaimana membuat sate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu  asap mengepul, konon para pembeli berdatangan. Rumusnya, dilarang   takut karena yang datang adalah arwah gentayangan dengan wujud beragam,   persis seperti saat mereka mati. Ada yang kakinya remuk, wajah rusak   dengan darah bertebaran dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berebut sate gagak  dengan melambai-lambaikan rupiah. Berapa  tingginya harga yang  ditentukan, mereka pasti setuju dan langsung  menyerahkan uang. Sebab,  sate gagak merupa-kan makanan nomor wahid bagi  arwah gentayangan. Dari  cerita masyarakat sekitar. konon seorang  pedagang sate gagak di makam  kawasan lereng Gunung Bugel, Rembang  berhasil mengantongi uang sebanyak  30 juta rupiah dalam waktu semalam.&lt;br /&gt;Tentu saja, untuk menjadi  pedagang sate ga-gak, harus didampingi  paranormal yang mengetahui  seluk-beluk kiat alternatif itu. Syarat utama  untuk meraup kekayaan  dalam sekejap adalah keberanian. Sebab,  paranormal yang dimintai tolong  bertugas menjual sate, sedang klien  bertugas menerima uang dari para  arwah yang penampilannya mengerikan.  Ini halal atau haram, entah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,  kalau ingin lebih aman, untuk berburu harta secara alternatif,  tak  harus dengan kiat memanfaatkan arwah penasaran. Tapi, memanggil jin   muslim yang memiliki ilmu mengambil uang halal yang berasal dari bank   jin alias uang yang bagi manusia merupakan harta yang tidak diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma,  kiat itu hanya dapat dilakukan pemeluk Islam, karena untuk  mencapai  hasil maksimal, diperlukan pembacaan wirid yang harus  dilantunkan pasca  shalat fardlu selama seminggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-8312286138581152180?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8312286138581152180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8312286138581152180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/gara-gara-sate-gagak-aku-jadi-kaya.html' title='Gara-gara Sate Gagak aku jadi Kaya'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-3275585918989124290</id><published>2011-02-14T08:21:00.000+07:00</published><updated>2011-02-14T08:21:45.418+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Pesugihan Makam Ngujang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs436.snc3/25099_1273132191206_1316963424_30660717_1847966_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs436.snc3/25099_1273132191206_1316963424_30660717_1847966_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NGUJANG TULUNG AGUNG.jika kamu memasuki kota Tulungagung dari arah utara   maka pasti kamu akan melewati desa Ngujang. Jika ada orang yang  menyebut  desa Ngujang maka yang terbayang pertama kali di benak orang  yang  mendengarnya adalah “kompleks” dan “”. “Kompleks” di sini adalah   kompleks lokalisasi tempat para PSK (maaf) “menjajakan” dirinya.   Sedangkan “kethekan” adalah sebuah tempat pemakaman umum yang menjadi   tempat tinggal populasi beberapa ekor “kethek” atau monyet. Oleh sebab   itulah tempat ini biasa disebut “kethekan” yang artinya tempat hidup   monyet.&lt;b style="color: red;"&gt;&lt;a href="http://www.masterbungkang.blogspot.com/"&gt;MAU KAYA KLIK DISINI&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kethekan” berada tepat di sebelah  selatan sungai Brantas, di ujung  utara desa Ngujang. Di sebelah selatan  sungai Brantas sebenarnya ada dua  tempat pemakaman umum, di sebelah  timur jalan raya adalah makam orang  Cina. Tempatnya agak tertutup  karena di sekeliling makam dipagari hingga  orang tak bisa masuk ke  dalamnya. Pancen yo kuburan cino. Cino…. Cino….  Sedangkan di sebelah  barat adalah makam umum, tapi kebanyakan adalah makam orang Jawa. Nah,  makam inilah yang biasa orang sebut “kethekan”.  Biasanya pada hari raya  Idul Fitri, tempat ini ramai dikunjungi orang.  Ibarat pasar, ada  penjual makanan, mainan, dsb. Sekedar untuk berwisata  atau geren. Tapi  kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang ingin  berwisata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarahe Kethekan (Sumber dari : Juru Kunci Makam Desa Ngujang)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu  kala, di desa ngantru ada sebuah pondok pesantren yang letaknya  tak  jauh dari desa ngujang. Sekarang pun, pondok itu masih ada dan masih   eksist. Pada suatu hari, ada dua orang santri, laki-laki dan perempuan   dari pondok tersebut yang bemain-main di sekitar makam. Dahulu tempat   tersebut bukanlah makam, hanya tempat biasa yang rindang karena banyak   pohon-pohon besar yang tumbuh di tempat itu. Sekarang pun pohon-pohon   besar masih bisa kita jumpai di situ. Dua santri itu sengaja membolos   dari pengajian untuk bermain-main di situ. Mereka bermain sambail   memanjat pohon yang ada di situ.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena asyik bermain mereka lupa  kalau ada pengajian pada hari itu.  Mereka tidak datang dalam acara  pengajian yang rutin diadakan pondok.  Tiba-tiba seorang kyai dari  pondok tersebut datang ke tempat tersebut  dan bertemu dua santri  tersebut. Kedua santri itu sedang memanjat pohon  ketika pak kyai  datang. Melihat ada dua santrinya yang tidak mengikuti  pengajian, sang  kyai pun menegur dua santrinya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nduk.. le.. kowe opo ora  ngaji to le? Kae lho deloken konco-koncomu  podo ngaji neng pondok. Kowe  kok malah penekan neng kene. Kayak kethek  ae!” (Nak, kamu tidak ikut  ngaji? Lihat teman-teman kamu sedang mengaji  di pondok. Kamu kok malah  memanjat pohon di sini. Seperti monyet saja!)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut legenda,  kata-kata kyai itu adalah kutukan bagi dua santrinya  itu. Kedua santri  itu konon menjadi monyet yang hidup di sekitar makam  desa Ngujang.  Monyet yang sering kita jumpai di sekitar makam desa  Ngujang adalah  keturunan dari dua santri yang dikutuk menjadi monyet  oleh kyai pondok  tersebut. Sejak saat itu, desa itu disebut sebagai desa  Ngujang yang  berasal dari kata pawejangan yang artinya tempat menuntut  ilmu  (pondok).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Deso Pesugihan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut cerita penduduk sekitar,  desa ngujang mempunyai tempat untuk  mencari pesugihan. Tempat itu  adalah “kethekan”. Konon, barang siapa  yang meminta juru kunci  untuk membantu mencari pesugihan maka ia akan  diberi seekor monyet  yang dijadikan sebagai ingon atau peliharaan untuk  dapat mendatangkan  rezeki. Tapi sebelum kamu diberi seekor monyet kamu  akan diminta untuk  melakukan suatu ritual terlebih dahulu. Dan setiap  tahun pada tanggal 1  Suro, semua orang yang pernah mencari pesugihan di  sini akan dimintai  sumbangan tertentu untuk mengadakan ritual semacam  selamatan. Semua  orang yang pernah mencari pesugihan di sini akan  diundang dalam acara  selamatan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-3275585918989124290?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3275585918989124290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3275585918989124290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/pesugihan-makam-ngujang.html' title='Pesugihan Makam Ngujang'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-6238783753109653140</id><published>2011-02-14T08:14:00.001+07:00</published><updated>2011-02-14T08:15:05.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>Semalam diKeraton Dewi Lanjar</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_94snh9yp8bk/TTKO1E9MbbI/AAAAAAAAAHs/mdmLkqjhy6c/s1600/kanjeng-nyi-roro-kidul.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://3.bp.blogspot.com/_94snh9yp8bk/TTKO1E9MbbI/AAAAAAAAAHs/mdmLkqjhy6c/s200/kanjeng-nyi-roro-kidul.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiap  bulan pada setiap malam bulan Purnama adalah malam kemulyaan dan  malam  penuh kasih bagi bangsa jin. Mereka bersenang2 dan bahkan memberi   ampunan bagi para tumbal2. Ampunan tersebut adalah istirahat tanpa   siksaan selama bulan purnama. yang akan dilanjutkan dengan siksaan   berlipat ganda setelah Purnama usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bulan Suro menjadi hari  kewajiban manusia untuk mengadakan ritual  bagi para lelembut ini, maka  malam bulan purnama adalah malam yang  sangat spesial. Mereka berpesta  pora dan melakukan hal2 kegiatan seperti  layaknya gambar2 BB22 yang  fotonya selalu dihapus oleh momod di server  kaskus.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bulan  Purnama, adalah malam bagi para jin membagi2kan sesuatu di  bumi. tentu  saja tidak ada yang gratis bila berhubungan dengan mereka.  karena  sejatinya mereka memberikan sesuatu hanya secara lahiriah saja,  tidak  secara ikhlas seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan bagi Anda yang berada di pantai Utara / pantai selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang2 jin memberikan sesuatu, seperti makanan, atau emas, setelah  mengambil benda tersebut Anda tidak dapat pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang2  jin menyerupai wanita cantik, atau pria ganteng (bagi kaum hawa  dan  kaum ) untuk mengajak anda berjalan2 menyusuri pantai. tapi setelah   Anda sadar Anda telah tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan pun sering menangkap ikan yang lebih dari biasanya, tapi  kapalnya tak bisa kembali kepantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM BULAN PURNAMA BAGI MANUSIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  cerita-cerita rakyat, termasuk juga tradisi2 di berbagai belahan  dunia  yang tercipta karena momentum ini. Ada juga kebiasaan2 tertentu di   beberapa agama dan kebudayaan untuk melakukan puasa selama tanggal 13,   14, 15 dalam kalender bulan. Orang jawa menyebut malam terang bulan   sebagai “Padhang Mbulan”. Saat dimana anak2 mereka bermain-main   berkumpul bersama keluarga dan teman2 di bawah cahaya purnama, melepas   kangen. Suku Indian, penduduk native amerika, malah menamai setiap   purnama yang terjadi dalam suatu siklus. Mereka mempunyai berbagai mitos   tentang purnama ini. Dalam kalender China, setiap bulan ke 1 tanggal  15  juga ada festival lentera. Di masyarakat batak, mereka menyebut   peristiwa ini poltak bulan purnama. Para pemuda-pemudi berkumpul,   basanya dijadikan ajang mencari jodoh, nama acara di bulan purnama ini   disebut gondang naposo. Pokoknya ada banyak kebudayaan dan legenda yang   terbentuk karena peristiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan beberapa orang  tua yang pernah saya jumpai, konon saat  terang bulan adalah saat2 daya  gravitasi dan kerinduan memuncak. Saat2  terjadi puncak romantisme  berbagai mahluk dan benda yang bisa merasakan  dan terpengaruh  frekuensinya. Biasanya orang2 yang saling mengalami  resonansi frekuensi  getaran hati bisa saling merasakan perasaan rindu.  Binatang2 juga  katanya terpengaruh. Itu konon loh… ^ ^ … Dan puasa atau  ritual  tertentu yang dilakukan konon salah satu fungsinya adalah untuk   membantu pengendalian diri agar tidak terlalu mabuk kepayang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-6238783753109653140?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6238783753109653140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6238783753109653140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/semalam-dikeraton-dewi-lanjar.html' title='Semalam diKeraton Dewi Lanjar'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_94snh9yp8bk/TTKO1E9MbbI/AAAAAAAAAHs/mdmLkqjhy6c/s72-c/kanjeng-nyi-roro-kidul.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-1376634913294148442</id><published>2011-02-14T08:05:00.000+07:00</published><updated>2011-02-14T08:05:49.917+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>Rahasia Nyai Roro Kidul ( Ratu pantai Selatan )</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_3Duv6hYXn7w/TNoAHcKmX8I/AAAAAAAAABI/sBtqDHUvEz4/s1600/bintangin_nyai-roro-kidul.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="141" src="http://4.bp.blogspot.com/_3Duv6hYXn7w/TNoAHcKmX8I/AAAAAAAAABI/sBtqDHUvEz4/s200/bintangin_nyai-roro-kidul.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fenomena gaib Kanjeng Ratu Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan sangat   terkenal di jagat mistik Nusantara. Beragam versi cerita sudah banyak   dikemukakan. Bahkan diangkat ke layar lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah saksi yang  pernah melihat sosoknya banyak dipaparkan. Tetapi  siapakah sebenarnya  perempuan yang ditahbiskan sebagai Penguasa Laut  Selatan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Legenda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  2 versi cerita/legenda mengenai keberadaan Kanjeng Ratu Roro Kidul   yaitu: Pertama, cerita tentang Kanjeng Ratu Roro Kidul yang berasal dari   manusia, kemudian masuk ke alam gaib (jin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa  Kanjeng Ratu Roro Kidul adalah puteri seorang raja dari  isteri pertama.  Suatu ketika terjadi intrik dalam kerajaan yang dipicu  oleh  kecemburuan isteri-isteri raja yang lebih muda. Akibatnya, Kanjeng  Ratu  Roro Kidul dan ibunya diserang suatu penyakit aneh (teluh/santet)  dan  diusir dari kerajaan. Si ibu menemui ajal, sedangkan Roro Kidul  mencari  kesembuhan dengan berdiam di kawasan pantai selatan. Disini, ia   berjumpa dengan jin penguasa laut yang menjanjikan kesembuhan   penyakitnya tetapi dengan syarat Roro Kidul harus ikut ke dalam kerajaan   lautnya. Roro Kidul menyanggupinya. Selanjutnya, Kanjeng Ratu Roro   Kidul diangkat menjadi ratu setelah penguasa sebelumnya meninggal.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya,  asal usul daerah Roro Kidul itu juga beragam. Ada yang  mengisahkan,  Roro Kidul berasal dari tanah Jawa. Tetapi ada juga cerita  Kanjeng Ratu  Roro Kidul itu adalah kakak dari Saribu Raja yang merupakan  keturunan  Raja Batak. Nama asli Kanjeng Ratu Roro Kidul adalah Biding  Laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,  cerita rekaan buatan manusia. Cerita ini berkaitan dengan kisah  Sultan  Agung, penguasa Kerajaan Mataram. Dikisahkan, ketika Sultan Agung   berkuasa, dia berharap agar rakyatnya hidup tentram dan tidak berniat   melakukan pemberontakan sebagaimana pernah dialami kerajaan-kerajaan   pendahulunya seperti Singosari, Majapahit, Demak, dll. Didorong untuk   mencegah terjadinya pemberontakan itulah Sultan Agung mengeluarkan   maklumat seputar kebesaran Kerajaan Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Agung  mengklaim bahwa kekuasaannya bukan hanya meliputi tanah  Jawa melainkan  mencakup lautannya. Agar supaya klaimnya menjadi logis,  maka Sultan  Agung memaklumkan pula bahwa dia menjalin kerjasama dengan  Kanjeng Ratu  Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini cukup jitu  mengingat budaya dan tradisi Jawa yang kental  dengan aroma mistik.  Bahkan beredar pula cerita bahwa pada bulan Suro  (Muharram), masyarakat  tanah Jawa dilarang mengadakan pesta atau  hajatan, karena di bulan itu  Kanjeng Ratu Roro Kidul sedang  menyelenggarakan hajatan di kerajaan  lautnya. Padahal alasan  sesungguhnya karena di bulan Suro itu penguasa  Mataram mengadakan pesta,  seperti pernikahan kerabat kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penuturan beberapa orang saksi yang pernah bertemu Kanjeng Ratu Roro  Kidul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Pengalaman seorang Ibu Rumah Tangga di Kec. Ciemas Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita  ini tiada lain datang dari seorang ibu rumah tangga yang sekarang  di  kenal menjadi seorang dukun (Tabib) yang berdasarkan beberapa  penuturan  bahwa kekuatan yang menjadikan dirinya menjadi seorang dukun  adalah  berkat bantuan dari Kenjeng Ratu Roro Kidul. Kebanyakan orang  telah  mengakui kesaktiannya sehingga tak heran banyak kalangan pejabat  yang  telah meminta bantuannya untuk kelangsungan karirnya. sehingga tak   pelak kekayaan dari seorang ibu separuh baya ini telah melimpah ruah   hasil dari menajdi tabibnya ini. Karena setiap yang datang kesana selalu   memberikan materi yang jumlahnya yak sedikit, bahkan pemberianya itu   bisa langsung berwujud mobil mewah dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau ini  adalah memiliki nama KUJUN, Penulis sering memanggilnya Bi  Kujun tempat  tinggalnya masih satu kecamatan dengan penulis namun  berbeda Desa.  Dahulu kala, sekitar tahun 70-an yang lalu saat itu  dirinya merupakan  gadis desa yang disaat usianya yang masih muda dirinya  udah di nikahkan  oleh kedua orang tuanya sama laki-laki tetangga  kampugnya. Khidupan  rumah tangganya tidak se indah yang mungkin di alami  oleh pasangan  suami-istri yang lainnya, namun rumah tangganya selalui  di hiasi oleh  percekcokan dan tak pelak dengan pertengkaran yang hebat  serta mendapat  perlakuan yang kasar dari suaminya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari tepatnya sore  hari saat itu siang sudah menuju malam yang di  tandai oleh mulai  berkomandangnya adzan magrib dari setiap penjuru  masjid di berbagai  kampung yang letaknya lumayan berjaihan antara  kampung yang satu dengan  yang lainnya, jalanan sepi dan mulai gelap  karena waktu itu belum ada  yang namnya listrik apalagi alat komunikasi  dan informasi seperti  televisi dan yang lainnya, tiap keluarga hanya  mengandalkan lampu  cempor untuk penerangan setiap rumah panggungnya  apabila malam tiba.  kala itu, Bi KuJun ini sudah mendapatkan perlakuan  yang buruk dan  diusir oleh suaminya. Sehingga dengan hati yang pedih,  mata yang terus  berlinang dan pikiran yang tak tentu tujuan memaksakan  diri keluar  meninggalkan rumah menggunakan pakaian seadanya melangkahkan  kaki  hendak menuju rumah orang tuanya yang lumayan jaraknya cukup jauh   apalagi malam mulai gelap sementara kendaraan umum belum ada waktu itu.   Dengan pikiran yang kalut, dirinya mencoba menyusuri jalan,  melangkahkan  kakinya selangkah demi selangkah walaupun dirasanya cukup  berat untuk  di langkahkan. Lamaunan &amp;amp; pikiran yang semerawutnya  membawanya  sampai kealam bawah sadar, dan waktu itu tiba-tiba seperti  melihat  arak-arakan ratusan aneka mobil yang membawa berbagai macam  kebutuhan;  beberapa mobil truk membawa beras, kelapa, sayur-mayur, daun  pisang dan  janur serta banyak lagi yang lainnya. Percisnya rombongan  itu seperti  membawa barang-barang yang mau mengadakan pesta  besar-besaran. Tiba-tiba  diantara gerombolan antrian mobil itu terdapat  sedan mewah yang  didalamnya terduduk seorang putri nan cantik yang  kemudian sengaja  berhenti di depan Bi Kujun ini, kemudian putri ini  mengajaknya untuk  masuk kedalam mobilnya. Akhirnya Bi Kujun pun masuk  dan ikut diantara  rombongan itu. Sepanjang perjalanan putri itupun  meminta penjelasan  kepada dirinya kenapa dia ada terlunta di jalan  dikala hari menjelang  malam seperti itu dan Bi Kujunpun menjelaskan  semuanya. Kemudian putri  itu mengajaknya untuk ikut ke Keratonnya dan  tinggal bersama dirinya.  Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Bi  Kujunpun mengikuti semua ajakan  dari putri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikiran  setengah sadarnya, Bi Kujun ini melihat rombongan mobil  setelah  menempuh perjalan panjangnya tiba-tiba mulai masuk satu persatu  ke  dalam laut tepatnya di Pelabuhan Ratu dan seteleh mendapat penjelasan   dari putri itu ternyata dirinya mengaku adalah Nyi Roro Kidul yang saat   itu mau mengadakan pesta besar-besaran di dalam kerajaanya. Pantas saja   karena waktu memang lagi musim kemarau dan daedaunan semua kena ulat   dan hasil panen masyarakat kurang hasil. Sehingga masyarakat meyakini   memang saat itu hasilnya sebagian di bawa oleh penguasa laut kidul itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama  3 bulan dia dianggap hilang oleh keluarganya sampai dicara ke   mana-mana dan ditanyakana k beberapa dukun yang bisa melacak   keberadaannya. Hamper semua dukun mengatakan bahwa dia memang masih ada   dan dalam waktu tertentu dia akan kembali dengan keistimewaanya.   Kemudian tepat 3 bulan dari sejak dia menghilang, diapun di antar   kembali oleh pihak keratin nyi Roro Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di keratin nyi  roro kidul, ternyata dia di bekali berbagai ilmu  baik kanuragan, ilmu  sareat pnyembuh bagi orang sakit, ilmu peramal dan  banyak lagi yang  lainnya. Yang katanya kekuatannya itu di Bantu oleh  kekuatan dari nyi  Roro kidul itu sendiri. Sehingga Bi Kujunpun kini  telah berubah menjadi  seorang tabib sakti yang banyak diminta  pertolongnya oleh orang-orang  baik kelas ekonomi lemah bakan sampai  pejabat sekalipun, dan kini  seuaminyapun menjadi sangat dekat kembali  dengan dirinya. Dia  dipercayai bisa memenuhi segala apa yang saat itu di  pinta  pertolonganya baik kesembuhan sakit, minta naik jabatan dan yang   lainnya. Sehingga tak heran jika imbalan di terima pun sangat wah…..!!!   ada satu lagi yang menarik, pendapat dari beberap pasien yang pernah ke   rumahnya…. Mereka mengatakan bahwa, di rumah sang tabib ini memiliki   salah satu keanehan juga, dimana ketika kita minta sesuatu seprti minta   apel maka tiba-tiba apel itu udah ada di hadapan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya  atau tidak, tergantung orang yang mau mempercayainya. Untuk  sekedar  bertanya atau apa, Anda bisa bisa menemuinya mumpung biliau-nya  masih  ada. Datang dan temui dia di Kampung Cikira-Cibinong Desa Mekarja   Kecamatan Ciemas Kabuapten Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tidak menyuruh anda  percaya, tapi tergantung pada diri  masing-masing. Jika kita umat islam,  kita hanya percaya sama Allah SWT.  Mungkin jika Bi Kujun ini memiliki  keistimewaan, anggap saja itu suatu  kelebihan dia yang telah allah  rencanakan dan dia hanyalah sareat  perantara. Kesembuhan dari sakit itu  adalah atas ijin Allah, dan yang  lainnyapun atas ijin Allah. Maka  semuanya tergantung hanya pa Allah SWT,  sebagai tuhan yang maha kuasa  dan maha bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Adanya Kamar Nyi Roro Kidul di Hotel Samudra (Pelabuhan Ratu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  ceritra tentang keberadaan kamar yang di sediakan khusus untuk  nyi  Roro Kidul ini memang ada, yaitu tepatnya di salah satu hotel  terbesar  yang ada di Pelabuhan Ratu, tepatnya yaitu di Hotel Samudra.  Hotel  samudra memang hotel terbesar di Pelabuhan Ratu yang mungkin telah   banyak di kenal oleh para turis baik lokal maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar  khusus Nyi Roro Kidul ini memang di sediakan khusu oleh pemilik  hotel.  yang konon katanya Nyi Roro Kidul memang memintanya dan dia  sering  datang ke Hotel tersebut. Jika anda sebagai orang yang sering  penasaran  atau ragu, silahkan datangi Hotel Samudra (Samudra Beach  Hotel) di  Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kesaksian Abdul (20 thn), warga Lomanis, Cilacap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu  ketika, ia sedang bersantai di pantai pasir putih Pulau  Nusakambangan.  Menurutnya, dalam jarak sekitar 50 meter dari garis  pantai, ia melihat  Sang Ratu menaiki kereta kencana yang di iringi  ratusan pengawalnya.  Ia melihat gaun Sang Ratu sangat panjang yang  membentang dibelakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski  ia melihat mahkota di atas kepalanya Sang Ratu, tetapi wajahnya  hanya  terlihat dari samping. Penampakan yang ia saksikan sekitar jam  20.00  malam disusul dengan hilangnya kesadaran selama hampir satu  minggu.  Syukurlah, sejumlah Kyai berhasil menyembuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat,  kesaksian Ahmad Durriati (70 thn), warga kotagede, Yogyakarta.   Pengalaman pertama saat ia bersama putranya sedang mengadakan tirakat di   pantai Parang Tritis. Menjelang tengah malam, suatu penampakan luar   biasa ia saksikan yakni bangunan tembok setinggi sekitar 5 meter yang   membentang sepanjang pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaraknya kurang lebih 20 meter dari  garis pantai. Di beberapa bagian  bangunan tembok yang mirip benteng  itu, ia dan putranya melihat sejumlah  orang yang berada di atasnya,  seperti sedang dalam posisi berjaga.  Penjaga yang tegak berdiri dengan  tombak ditangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman kedua terjadi saat ia sakit keras  sehingga berada dalam  kondisi koma. Dalam ketidaksadarannya itu, ia  seolah berada dalam  kerajaan Roro Kidul. Disana, ia melihat orang-orang  yang sedang sibuk  bekerja mendirikan tembok-tembok bangunan layaknya  sedang ada  pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, para pekerja memiliki ekspresi  wajah memelas, seperti hendak  meminta tolong. Mereka seperti bekerja  dalam suasana keterpaksaan.  Mereka bertelanjang dada dengan hanya  mengenakan celana panjang lusuh.  Selain itu, sejumlah pria berwajah  bengis berdiri mengawasi para  pekerja. Boleh jadi para pekerja itu  adalah orang-orang yang ketika  hidupnya kerap meminta pesugihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya,  Ahmad Durriati menceritakan saat bertatap muka dengan Roro  Kidul.  Menurutnya, Sang Ratu duduk di atas kursi singgasana yang  lantainya  berkedudukan lebih tinggi dari tempat ia duduk. Sejumlah  dayang-dayang  berdiri sambil membawa kipas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Sang Ratu memberinya  sebuah nasehat yang bermakna tauhid.  ‘’Mintalah segala sesuatu kepada  Tuhanmu. Jangan meminta sesuatu apapun  kepada saya, karena saya tidak  berhak memberikannya. Apabila ada manusia  yang meminta sesuatu kepada  saya. Sebenarnya tidak pernah sekalipun  saya memberikannya. Kalau ada  manusia yang memuja saya dan meminta  sesuatu kepada saya, maka yang  memberikan permintaannya adalah dari  kalangan warga kerajaan yang  memang hendak menyesatkan manusia.’’  Demikian kata Kanjeng Ratu Roro  kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuh nasehat tauhid yang boleh jadi meruntuhkan semua  anggapan bahwa  Kanjeng Ratu Roro Kidul sering mengabulkan permintaan  manusia yang minta  berkah dan pesugihan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ahmad  Durriati, apa yang ia alami dalam kondisi koma itu seperti  sebuah  pemberitahuan bahwa pemujaan dan minta pesugihan hanya sebuah   kesia-siaan yang hanya menjatuhkan diri dalam kemusyrikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalapun  ada manusia yang berhasil memperoleh harta atau kedudukan dari  hasil  pesugihan, itu tidak lebih dari pemberian syetan yang memang  bertugas  menyesatkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam akhir perjumpaannya, Ahmad Durriati  diberi pilihan antara kembali  ke keluarganya atau tetap tinggal di  kerajaan Laut Selatan. Ahmad  memilih yang pertama. Kemudian Sang Ratu  mengangkat tongkat dan memukul  pundaknya. Seketika ia tersentak dan  sadar dari kondisi koma yang ia  alami selama beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  uraian di atas, dapat diambil kesimpulan: pertama, sosok Kanjeng  Ratu  Roro Kidul tidak pernah ada. Ia hanya dongeng yang beredar secara  turun  temurun. Sebuah cerita yang tentunya dihasilkan begawan sastra  yang  sangat mumpuni dalam mengolah bahan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Sosok Kanjeng  Ratu Roro Kidul benar-benar ada. Ia bisa saja  berasal dari jenis  manusia yang menjadi siluman atau termasuk bangsa  jin. Asal daerah pun  bisa dari tanah Jawa atau dari luar Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman  Ahmad Durriati, kemungkinan Kanjeng Ratu Roro  Kidul tergolong jin  Muslim yang meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="photo photo_none" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30675273&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=419688279187&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=419688279187&amp;amp;id=1316963424"&gt;&lt;img class="  img" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs579.snc3/31547_1279753076724_1316963424_30675273_650322_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-1376634913294148442?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/1376634913294148442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/1376634913294148442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/02/rahasia-nyai-roro-kidul-ratu-pantai.html' title='Rahasia Nyai Roro Kidul ( Ratu pantai Selatan )'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3Duv6hYXn7w/TNoAHcKmX8I/AAAAAAAAABI/sBtqDHUvEz4/s72-c/bintangin_nyai-roro-kidul.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-6221534745509426523</id><published>2011-01-18T08:18:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T08:18:00.454+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>PESUGIHAN BULUS NJIMBUNG DI KLATEN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT5Yv04kbELC-ta_HtAOr3UWIK_EK92xEaGORaqXFtOcnJFMSRkrQ" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT5Yv04kbELC-ta_HtAOr3UWIK_EK92xEaGORaqXFtOcnJFMSRkrQ" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sendang Bulus Jimbung&lt;br /&gt;Terletak di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes&lt;br /&gt;Jarak dari kota Klaten&amp;nbsp; 6 km&lt;br /&gt;Luas sendang 9m x 8m = 72 m2&lt;br /&gt;Kedalaman rata rata 1,5 m&lt;br /&gt;Manfaat Sebagai tempat pemandian &lt;input name="IL_MARKER" type="hidden" /&gt;dan rekreasi&lt;br /&gt;Ciri khas disebut &lt;input name="IL_MARKER" type="hidden" /&gt;juga sendang guwo, sebab dilokasi tersebut terdapat guwo.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Di Desa Wisata Jimbung ini banyak legenda ditengah masyarakat yang masih  terpelihara dengan baik,salah satunya adalah Obyek Wisata Sendang Bulus  Jimbung ini,yang menurut cerita yang ada dimasyarakat dihuni oleh  sepasang bulus/kura-kura yang bernama Kyai Poleng dan Nyai Poleng,yang  merupakan jelmaan dari abdi Dewi Mahdi yang telah disabda menjadi bulus  yang hingga kini masih mendiami sendang tersebut,Adapun sendang ini  dibuat oleh Pangeran Jimbung yang gagah perkasa dengan menancapkan  tongkatnya,dan beliau bersabda bahwa kelak dikemudian hari sendang ini  akan banyak didatangi orang yang akan memberi makan. Menurut legenda dan  banyak orang yang telah berhasil,barang siapa ingin mencari kekayaan  dengan jalan pintas/meminta bantuan Kepada Kyai Poleng dan Nyai Poleng  kelak jika berhasil badan orang tersebut akan menjadi poleng seperti  bulus jimbung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitanya dengan Obyek wisata Jimbung diatas dan  ada kaitan yang sangat erat kalau orang akan mencari kekayaan dengan  jalan pintas harus berjalan ke arah timur tepatnya di perbukitan  pegunungan kapur,dari jalan kearah waduk Jombor.Anda akan melihat rumah  tua yang berdiri dengan kokohnya diatas perbukitan kapur dan anda harus  berani berpuasa dan tidur di rumah tua tersebut. Orang menyebutnya  sebagai Rumah Demit karena memang tidak di huni oleh manusia,yang dalam  legenda masyarakat menyebut demikian karena rumah tua yang terletak  diatas bukit pegunungan kapur ini menjadi tempat bersemayamnya para  dedemit,sejak kapan rumah tua ini dihuni oleh para dedemit,masyarakat  tidak mengetahuinya secara pasti,dan juga tidak mengherankan kalau rumah  tua itu masih dikeramatkan oleh masyarakat desa karena menyimpan banyak  misteri yang sulit untuk kita buktikan dengan nalar dan akal  manusia,silahkan anda mencoba kalau ingin mempunyai sesuatu tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jenis pesugihan ini bisa mudah sekali dikenali "konon" karena tumbuhnya  penyakit kulit loreng seperti motip pada bulus jimbung di sendang  jimbung. ada yang pernah mencobakah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-6221534745509426523?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6221534745509426523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6221534745509426523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/pesugihan-bulus-njimbung-di-klaten.html' title='PESUGIHAN BULUS NJIMBUNG DI KLATEN'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-9040062412406228244</id><published>2011-01-18T08:07:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T08:07:02.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>JADI KAYA KARENA TUYUL</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTIsejercUlP5t4IrOZK187wvmRzf-KBCMF-WDCwJFwb8h8kvDJHg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTIsejercUlP5t4IrOZK187wvmRzf-KBCMF-WDCwJFwb8h8kvDJHg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;POHON KETOS ini berumur sekitar 500 tahun. Tumbuh di tengah pemukiman  warga dukuh Mbero, Palar, Trucuk. Berjarak sekitar 12 km dari Klaten  Jawa Tengah. Banyak didatangi peziarah untuk ngalap berkah, menyampaikan  keinginan. Pohon tersebut dikelilingi tembok dan bergapura. Tidak ada  larangan tertulis bagi siapa pun untuk mencari 'pesugihan tuyul' di  situ. Syaratnya sederhana, orang yang akan memasuki kompleks tersebut  harus waras (tak boleh stress) dan sopan. Rumah jurukunci, Mbah Kardikem  (75) tak jauh dari lokasi itu. Mereka yang ingin menjadi 'orangtua  asuh' tuyul seyogyanya melalui jurukunci. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Banyak orang terkabul keinginannya setelah nyenyuwun berperantara  pohon ketos, tapi paling gampang mencari tuyul," kata nenek itu. &lt;br /&gt;Mbak Kardikem mengaku tak tahu sejak kapan pohon itu ada. "Sejak saya  kecil pohon itu sudah sebesar itu. Saya hanya mewarisi tugas ibu saya  menjadi jurukunci," jelasnya. Dari cerita leluhurnya, pohon ketos  tersebut merupakan titisan Eyang Bondho. &lt;br /&gt;Beberapa saat setelah sukma Eyang Bondho lepas, raganya juga ikut  raib, lalu muncul pohon ketos. Sebagai tanaman langka, pohon ketos tak  dapat dicangkok. Juga tak dapat ditanam di tempat lain. Menurut Mbah  Kardikem, pernah diselenggarakan seminar tentang tuyul, hasilnya  membuktikan di pohon ketos tersebut banyak terdapat 'anak bajang',  berusia rata-rata 5 tahun. 'Anak bajang' tersebut adalah anak cucu Eyang  Bondho, yang oleh masyarakat lazim disebut tuyul. &lt;br /&gt;Karena jumlah tuyul amat banyak, lalu dinilai sebagai 'Keraton  Tuyul'. Seperti dikatakan Mbah Kardikem, Eyang Bondho termasuk cucu  Prabu Jayabaya, Kediri. Pada hari-hari tertentu, Eyang Bondho sering  menampakkan diri berbentuk 'rakit' (gethek) untuk dipakai menyeberang  sungai. &lt;br /&gt;Karena sering menampakkan diri, Eyang Bondho biasa disebut pula  'Gethek Bero'. Selain malam Jumat Kliwon dan Sabtu, 'Keraton Tuyul'  tersebut banyak dikunjungi peziarah dari luar Klaten. Misal dari Jawa  Barat, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Yogyakarta, Solo, Klaten, Ambarawa  dan Semarang. &lt;br /&gt;Pada umumnya, peziarah menginginkan penglarisan dan kehilangan barang  supaya kembali. Untuk mendapatkan semua itu dibutuhkan persyaratan  tertentu. &lt;br /&gt;Syarat itu antara lain dengan menyampaikan sesaji selama 7 malam  Jumat berturut-turut. Sesaji itu berupa kembang setaman, pisang raja,  teh manis, gecko (garang asem). Kemudian ditutup dengan selamatan  (kenduri). Berapa kali kenduri dilakukan, tergantung dari kepercayaan.  Pada umumnya dilakukan dua kali dekat pohon, sebab akan diikuti 2 anak  anak kecil, cucu Eyang Bondho. &lt;br /&gt;Untuk mewujudkan keinginan, sebagaimana diungkap Mbah Kardikem, ada  beberapa pantangan harus dipatuhi. Antara lain tak boleh berlaku kasar  dan emosional selama 7 Jumat. Setiap peziarah, diperkenankan masuk  kompleks pohon, tapi tak boleh memetik sembarang daun. Warga setempat  pun tak ada yang berani memetik daun pohon yang dikeramatkan itu. Setiap  1 Sura, sering digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk atau  klenengan. Dengan maksud mendapatkan keselamatan dan rezeki melimpah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-9040062412406228244?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/9040062412406228244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/9040062412406228244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/jadi-kaya-karena-tuyul.html' title='JADI KAYA KARENA TUYUL'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-4679636879355360430</id><published>2011-01-18T07:40:00.000+07:00</published><updated>2011-01-18T07:40:09.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>ANAK DIBUNUH  DEMI TUMBAL PESUGIHAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSVN_K7BwT3w3-Q6Zd4OzniOm4r1lNM6W2SxdIeAWZmPrvWX1H28WCWw7hz4Q" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSVN_K7BwT3w3-Q6Zd4OzniOm4r1lNM6W2SxdIeAWZmPrvWX1H28WCWw7hz4Q" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seorang gadis berusia 8 tahun dibakar untuk tumbal dewa pasugihan. Pelaku sadistis itu orang tuanya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;span id="more-7438"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Komisi Hak Asasi Manusia Asia. yang diterima dari  sebuah LSM Jaragan Media Center yang berbasis di Nepal menyebutkan,  gadis belia dimaksud bernama Manisha Harijan berusia 8 tahun.&lt;br /&gt;Ia ditemukan tewas pagi hari tanggal 4 Desember 2009, setelah  sebelumnya menghilang. Seorang pengusaha setempat bernama Birendra  Jayasawal dan 4 orang pembantunya telah ditahan oleh kepolisian setempat  sesuai laporan warga yang mencurigai gerak gerik mereka.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut penyidikan kepolisian menyebutkan mereka akhirnya mengakui  telah melakukan ritual membakar gadis tersebut di sebuah pembakaran  tungku bata sebagai upaya memohon pada dewa yang mereka sembah agar  diberikan kelancaran usaha dan kemakmuran hidup.&lt;br /&gt;Kepala Kepolisan setempat Nagendra Jha mengatakan kepada media  center di Rupandehi seperti dikutip ruanghati.com dari laporan Komisi  Hak Asasi Manusia Asia di situsnya akan berupaya menyelesaikan kasus ini  dengan adil. Polisi berencana melakukan tes DNA korban dan ceceran  darah di pembakaran untuk memastikan hasil yang akurat.&lt;br /&gt;Nepal melarang pengorbanan manusia pada tahun 1780 tetapi para pakar  mengatakan itu masih dipraktekkan oleh beberapa komunitas di daerah  pedesaan yang miskin.&lt;br /&gt;Beberapa orang masih percaya mengorbankan manusia akan menyenangkan  para dewa, memperbaiki nasib mereka dan meningkatkan status sosial  mereka, kata Chunda Bajracharya, profesor studi budaya di Universitas  Tribhuvan Kathmandu. &lt;em&gt;Ruanghati.com dari sumber : Komisi Hak Asasi Asia (AHRC) dan ahrchk.net serta lawu pos online&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-4679636879355360430?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/4679636879355360430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/4679636879355360430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/anak-dibunuh-demi-tumbal-pesugihan.html' title='ANAK DIBUNUH  DEMI TUMBAL PESUGIHAN'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-6757013976452838201</id><published>2011-01-16T23:36:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:36:27.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>RITUAL BANK GAIB</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTmBTkGYwE8624SSyjZrrz05tGByPcKRtWV04L909WHIo0Ys1S-" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTmBTkGYwE8624SSyjZrrz05tGByPcKRtWV04L909WHIo0Ys1S-" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bank Ghoib merupakan salah satu wahana  pesugihan yang paling banyak  dicari oleh orang-orang yg ingin cepat kaya  dengan jalan pintas. jenis  pesugihan ini tergolong sangat mudah untuk  memilikinya, yaitu cukup  dengan memiliki sebuh kotak ghoib berasal dari  alam ghoib yg setiap  bulannya dapat menghasilkan uang yg jumlahnya  mencapai ratusan juta. &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;jika  ingin mendapatkan bank ghoib .  syaratnya cukup mudah. sarana yang  harus disediakan oleh pelaku  pesugihan adalah ubo rampe&amp;nbsp; yg ditumbalkan  melalui upacara  ritual yg dilakukan oleh paranormal khusus yg mumpuni.  Konon, hanya Ki Hadi ( Nama Samaran ) paranormal yg menguasai khodam  bank ghoib, artinya hanya kepada  beliau anda bisa meminta pertolongan  untuk mendapatkan kekayaan yg  melimpah ruah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa  yang disebut sebagai Bank Ghoib  memang sangat berbeda dengan pesugihan  jenis lainnya. pelaku bisa  langsung mendapatkan uang tunai dalam  jumlah milyaran rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bank  Ghoib persisnya berupa pepunden  yang sudah sangat kuno. Jika dilihat  dari fisiknya, tempat pesugihan ini  hanyalah berbentuk sebuah pohon /  Kuburan tua yg berusia ribuan tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut  informasi yang berhasil dihimpun  majalah Supranatural, Bank Ghoib ini  sudah banyak memiliki nasabah yang  tersebar di berbagai tempat di  indonesia,. Konon, mereka yang berhasil  melakukan peminjaman uang bisa  mendapatkan uang dalam jumlah amat besar  mencapai milyaran rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ini  bukan dongeng, Mas..! saya sudah  membuktikannya. saya dapat pinjaman  uang tiga milyar lebih, dan sekarang  sudah memiliki show room mobil.  Makanya saya minta pertolongan dengan  ki Hadi kata Sadiman, salah  seorang yang berhasil memiliki bank ghoib  tanpa ragu dan malu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika  ditanya apakah dia tidak takut  dengan akibatnya di kelak kemudian  hari, maka jawabnya,” apa yg mesti  ditakutkan mas… Bang ghoib ini tidak  minta tumbal nyawa.., kita hanya  diharuskan rajin memberikan sumbangan  kepada ki Hadi sebagai juru kunci  setiap tahunnya guna dibelikan tUbo  rampe agar pesugihan ini  terus menghasilkan uang dan langgeng.&lt;/div&gt;sekarang saya sudah kaya raya. Capek jadi kere terus-terusan. Saya  juga ingin membahagiakan anak dan isteri.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;memang  banyak orang-orang yang  menggunakan berbagai cara agar bisa kaya raya  seperti Sadiman. Apalagi  di tengah situasi zaman yang serba sulit  seperti sekarang ini.&lt;/div&gt;UANG TUNAI DIDAPAT&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut  keterangan ki jitu, untuk  mendapatkan pesugihan ini, pelaku hanya  cukup menyiapkan uang sebagai  mahar/mas kawin sebesar 9 juta rupiah  untuk pelaku pesugihan yg sekedar  meminta uang ghoib,atau mas kawin  sebesar 17&amp;nbsp; juta bagi pelaku yg  meminjam uang di bank ghoib, uang  tersebut sebagai sesaji yang harus  dipenuhi oleh pelaku untuk membeli,  uborampe, minyak  jafaron,foniswalla, apel jin, kembang setaman,  kemenyan atau yosua, nasi  tumpeng,ayam panggang i, serta perlengkapan  lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah semua  sesaji lengkap, ki Hadi  akan melakukan ritual.dan ritual ini harus  dilakukan pada hari tertentu Akan lebih afdol, jika ritual dilakukan  pada malam Jum’at yang keramat,  yakni malam Jum’at Legi atau Kliwon.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Syarat-syaratnya  harus dipenuhi. Tidak  boleh lebih, tidak boleh kurang. Kalau kurang,  pasti tidak akan ada  respon dari pemilik bank ghoib di alam sana,”  tuturnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila semua  persyaratan sudah dilengkapi,  ki jitu akan melakukan ritualnya. pelaku  cukup menunggu dirumah dengan  tenang . setelah proses ritual selesai,  dalam 1 hari Ki Hadi akan  memberikan sebuah kotak kuno yang harus  disimpan dalam kamar khusus  dirumahnya .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Asal  sesaji yang dipersembahkan  diterima oleh sang penguasa ghoib, dalam  kurun waktu antara 1-3 hari,  maka uang tunai akan langsung masuk  kedalam kotak ghoib tersebut”  tandasnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih  lanjut dijelaskan olehnya, di Bank  ghoib, sesungguhnya ada dua pilihan  bagi pelaku yang ingin mendapatkan  uang tunai. Pilihan pertama adalah  dengan cara meminjam, dan yang kedua  adalah dengan cara meminta. Jika  meminta, biasanya maka yang didapat  oleh pelaku cuma sekedarnya saja.  Suatu misal, pelaku betul-betul  kepepet karena ditagih utang dan harus  segera membayar. maka pelaku akan  diberi oleh sang penguasa gaib  sebatas besarnya utang si pelaku. ini  tanpa tumbal apapun. Yang  penting, si pelaku benar-benar tengah dikejar  utang.&lt;/div&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;“Kalau berbohong, jangan harap akan diberi. Malahan bisa saja dia  celaka!”&lt;/b&gt; Tandas ki Hadi&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika  pelaku mengatakan ingin mendapat  pinjaman, maka akan lain lagi nilai  yang diperoleh. “Pelaku tinggal  menyebut angka nominal yang  diinginkannya,” ki Hadi akan menyebutkan  bahwa penguasa gaib dapat  memberikan pinjaman uang sesuai dengan  permintaan pelaku pesugihan  (tidak terbatas ).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“ jadi  pelaku dapat meminjam uang sesuai  dengan kebutuhan &amp;amp; keinginannya.  Masalah jumlah pencairannya, bank  ghoib akan mengirimkannya melalui  kotak ghoib setiap bulan, per bulan  paling sedikit sekitar 200 juta  dikirim. sampai mencukupi sesuai  kebutuhan pelaku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika  lebih lanjut ditanyakan tentang  orang-orang yang telah sukses dengan  bank ghoib , ki Hadid engan  blak-blakan mengatakan sudah ratusan orang  yang berhasil dan menyebut  beberapa nama. Di antaranya, Margono warga  Bodak, Purwodadi, Jawa  Tengah, Adji Saputro dari Jakarta serta seorang  berinisial SHB yang  menurut ki Hadi , berprofesi sebagai wartawan di  Jakarta.&lt;/div&gt;“Itu hanya sebagian yang saya sebutkan. Yang jelas,  banyak sekali  yang sukses. ada juga wartawan. Tapi jangan tersinggung  lho, Mas!” Tutur  ki Hadi dengan nada setengah bercanda.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih  menurut cerita, walau beliau  sering didatangi para pencari pesugihan  yang menginginkan uang tunai,  baik itu yang pinjam milyaran rupiah  maupun yang diberi secara  cuma-cuma, tapi dana yang bersedia di Bank  Gaib , takkan habis.  Pasalnya, menurutnya, tersedia uang tunai sebanyak  tiga ribu kontainer  besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hingga  kini, yang dibuka baru satu  kontainer. Itupun belum ada seper sepuluh  dari isi container itu yang  telah dipinjamkan kepada para nasabah,”  tandas ki Hadi yang mengaku bisa  melihat keberadaan uang tersebut  dengan kekuatan mata batinnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan,  menurutnya lagi, di bank gaib  tersebut juga ada sistem seperti juga  layaknya ada sistem administrasi  yang berlaku di sebuah bank di alam  manusia.“Bank ghoib itu juga punya  karyawan, mereka inilah yang mendata  besarnya pinjaman serta jumlah  nasabah yang meminjam,” cerita ki Hadi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti  halnya tempat pesugihan lain,  pesugihan Bank Gaib juga meminta tumbal.  Namun menurut ki jitu, penguasa  ghoib tidak mau diberi tumbal nyawa  orang, tumbalnya cukup setiap tahun  dengan menyediahkan Uborampe guna  dipersembahkan kepada  penguasa ghoib pemilik bank ghoib.hanya itu saja  persyaratannya, dan  tidak ada tumbal lain.&lt;/div&gt;Jika pesugihan  lain biasanya pelaku akan  menjadi abdi sang penguasa gaib sebelum  takdirnya tiba, tapi tidak  demikian dengan pesugihan bank ghoib.  Menurut ki jitu, pelaku pesugihan  ini tidak diharuskan mengembalikan  pinjaman kepada bank ghoib,tetapi  hanya diwajibkan untuk melakukan  ritual-ritual harian, ritual bulanan,  berpantang makanan  tertentu,bersedekah dengan orang yg telah ditentukan  goib serta  memberikan tumbal 1 ekor sapi bule setiap tahun kepada  pengusa ghoib,  apabila pelaku lalai melakukan kewajibannya &amp;amp; lalai  memberikan  tumbal, maka harta benda akan lenyap dalam sekejap  mata.tetapi apabila  rutin melakukan ritual serta rutin mempersembahkan  tumbal setiap tahun,  maka harta akan terus bertambah menjadi banyak  &amp;amp; melimpah ruah.&lt;br /&gt;demikian cerita singkat ki Hadi,apabila anda tertarik untuk memiliki  bank ghoib silahkan kirim e-mail ke alamat diatas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-6757013976452838201?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6757013976452838201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6757013976452838201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/ritual-bank-gaib.html' title='RITUAL BANK GAIB'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-2270855674074360431</id><published>2011-01-16T23:33:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:33:46.488+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>PESUGIHAN SENDANG TUA</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRm5AXWMBH3zlq0qDvpOKTg63ODcrV6JOGuHiDlMcW6tFBDTiT3_T3Ytk7LPg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRm5AXWMBH3zlq0qDvpOKTg63ODcrV6JOGuHiDlMcW6tFBDTiT3_T3Ytk7LPg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tempat keramat di Desa Kertamukti,  Kecamatan Weleri, Kendal menjadi perburuan para pencari pesugihan.  Tempat itu berada di lokasi wisata pantai Sendang Kuning. Konon,  belakangan pesugihan banteng ini semakin diminati kalangan pengusaha.  Orang datang kesana secara diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara  pintas mendapatkan harta kekayaan melalui wahana gaib ini memang banyak  mengundang resiko. Tergantung besar tidaknya harta kekayaan yang  diminta. “Pemuja pesugihan jumlah mereka bertambah banyak. Harta yang  diminta rata-rata biasa-biasa saja. Tidak ada yang berlebihan hingga  mengorbankan tumbal nyawa manusia. Paling-paling makhluk pesugihan hanya  minta disediakan sesaji,” tutur salah seorang paranormal asal Semarang.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak  ubahnya pemuja pesugihan Banteng yang kondang di Kendal yang setiap  waktu datang silih berganti untuk menemui makhluk halus pemilik harta  kekayaan. Kekayaan akan diberikan pada orang yang memuja kekuatannya  dapat dia datangkan sesuai dengan yang diinginkan. Disebutkan, makhluk  penguasa pesugihan Sendang Kuning tersebut disebut Den Bagus Banteng.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dirupakan  sosok makhluk halus itu tidak ubahnya manusia biasa. Dia bertubuh  tegap, berjenis laki-laki, punya kelamin, kaki dan tangan, namun  kepalanya berwujud kepala banteng. Dia dalam persyaratan minta setiap  selapan (35 hari) dilayani oleh istri peminta pesugihan sebagaimana  suami sendiri. Konon, sosok pesugihan ini sebenarnya dikenal sangat  ganas dan kejam. Tak segan-segan menghabisi para pemintanya sendiri  hanya karena tumbal nyawa yang diinginkan tidak dapat dipenuhi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita-cerita  mistis seputar keberadaan Den Bagus Banteng ini dengan orang yang  memuja kekayaannya sampai sekarang masih tetap menjadi buah bibir  masyarakat Kendal. Kabar yang berhembus pun menyebut peminta pesugihan  ini diyakni masih tetap ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun,  dari sekian banyak peminta itu berasal dari luar daerah. Mereka datang  secara diam-diam ke pantai Sendang Kuning. Jika tidak membawa wong  pinter sebagai pembuka alam gaib untuk berkomunikasi dengan Den Bagus  Banteng, kadang sebagian diantaranya ada yang melakoni sendiri dengan  bertapa. Tapi bagi yang berburu sendirian paling tidak harus memiliki  bekal ilmu supranatural yang cukup kuat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebab  riskan, bisa-bisa bukan arwah Den Bagus Banteng yang mereka temui.  Melainkan bangsa lelembut jahat yang menunggu kawasan keramat tersebut.  Pasalnya, di kawasan pantai ujung kota Kendal ini oleh para ahli  supranatural diterawang sebagai sarang berbagai jenis makhluk halus.  Paling banyak hantu berwujud wewe gombel. “Den Bagus Banteng adalah  penguasa alat lelembut kawasan pantai Sendang Kuning dan sekitar  Kendal,” ujarnya tidak mau disebutkan namanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa  saja bisa menebus alam kegaiban Den Bagus Banteng asalkan ketika datang  menghadapnya di Sendang Kuning sudah siap menghamba pada makhluk gaib  tersebut. Seperti disebutkan, salah satu persyaratan menarik yang dibuat  dengan peminta, adalah menjadikan istri peminta yang kedonyan itu  sebagai budak nafsu Den Bagus Banteng&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-2270855674074360431?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/2270855674074360431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/2270855674074360431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/pesugihan-sendang-tua.html' title='PESUGIHAN SENDANG TUA'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-6865564115237156090</id><published>2011-01-16T23:30:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:30:30.143+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>CARA MENCARI PESUGIHAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTx9ZqaHyVq8DD3L2zZ2fZUUxddS-dqiWSGUhsU3082w1TxarapwdRbKA_J7g" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTx9ZqaHyVq8DD3L2zZ2fZUUxddS-dqiWSGUhsU3082w1TxarapwdRbKA_J7g" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama tama ane mohon maaf kalo   terpaksa cerita  tentang berbagai pengalaman ane seputar pesugihan dari   yang tidak  beresiko hingga yang beresiko paling fatal bagi orang yang    menjalankannya dikarenakan TS&lt;br /&gt;ingin membantu sesama yang sedang  mengalami kesusahan dan sangat   memerlukan bantuan untuk memperoleh  modal khususnya bagi pengusaha yang   sedang mengalami masa resesi yang  berkepanjangan.DAN mereka yang   sedang dalam kesulitan keuangan&lt;br /&gt;Pesugihan ini kebanyakan berasal dari tanah jawa  dan sudah turun   temurun diwariskan kepada generasi sekarang, sudah  banyak yang berhasil   termasuk seorang syekh yang sangat populer  kontroversial karena   melanggar undang undang perkimpoian juga pernah  menggunakan salah satu   pesugihan yang ane jelaskan di bawah ini.:&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Mulai  dari yang terkecil  hingga yang terbesar resikonya :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Uang PP  ( Pulang pergi )&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Uang pinjaman dari bank  ghoib berupa mata uang rupiah pecahan 100ribu   yang digunakan untuk  belanja, tujuannya untuk memperoleh uang kembalian   dan hanya bisa  digunaka sampai kita mendapatkan uang kembalian  senilai  &lt;span style="color: red;"&gt;total 2miliar  rupiah&lt;/span&gt;, bisa  digunakan dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore&lt;br /&gt;setiap  hari. Uang PP itu harus dikembalikan kepada bank ghoib pada saat    kita telah mendapatkan uang 2 miliar dari hasil kembalian selama kita    belanja. Jadi yang dikembalikan yah hanya uang ghoib yang  100ribu  aja,  lainnya dah syah milik kita, tidak ada tumbal gan,  karena uang  yang  kita&lt;br /&gt;dapatkan adalah 100% uang dari hasil penarikan  dana orang2 kaya yang  tidak mau berzakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uang PP ada 2 jenis,  besar dan kecil, kalo besar maharnya 50juta  bisa mendapatkan &lt;span style="color: red;"&gt;hasil  2Miliar&lt;/span&gt;,  bisa dipakai dalam jam 7 pagi sampai jam 4 sore, setelah  hasil 2miliar  kita dapatkan maka uang ghoib yang 100ribu tadi &lt;span style="color: red;"&gt;HARUS  DIKEMBALIKAN&lt;/span&gt; kalo tidak bakal dapat  kesusahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uang  PP yang kecil  yaitu mahar 13juta, hasilnya sekali belanja hanya  bisa  untuk 30X  belanja dalam sehari. Hanya bisa digunakan dalam 1  bulan.  Setelah 1  bulan uang PP bisa balik sendiri ke bank ghoib tanpa  kita  repot2  balikin. Uang PP jenis ini biasanya untuk yang bermodal  kecil  tapi  yang jelas hasilnya luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Uang MT ( uang  meteng )&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah  satu metode pesugihan yang   menumbalkan janin dan bapak si janin,  biasanya yang dikorbankan  adalah  anak dari hasil hubungan gelap dan  juga si pelaku yang  menghamili gadis  dan tidak mau bertanggung jawab.  Dengan bantuan  penunggu alam ghoib,  mengorbankan nyawa si jabang bayi&lt;br /&gt;dan bapak yang  tidak bertanggung jawab. Hasil dari ritual ini adalah   mendapatkan  bantuan dari bank ghoib sebesar minimal 1 Miliar rupiah   hingga 10  Miliar rupiah, cara dan syarat dapat ditanyakan langsung&lt;br /&gt;Kalo  ada neh korban perkosaan, cewe hamil yang cowo tidak mau tanggung   jawab  daripada digugurkan secara sia sia, lebih baik dicarikan jalan   keluar  melalui ritual ini, modal ane siap bantu tapi ane cuma minta&lt;br /&gt;kompensasi  aja. Keterangan lebih lanjut bisa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Uang  JM ( jual musuh )&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode   ini biasanya dipakai hanya untuk  orang orang yang merasa dilecehkan   dan disakiti hatinya oleh orang  lain yang kita anggap musuh. Kita   mengorbankan musuh kita kepada bank  ghoib untuk sejumlah dana, musuh   yang kita korbankan haruslah benar  benar musuh yang sekiranya sudah   tidak termaafkan lagi, jangan sampai  kita menyesal setelah ritual  selesai  sudah tidak bisa dibatalkan.  Biasanya nilai minimal &lt;span style="color: red;"&gt;1Miliar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Uang  Jual Bojo&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi  para istri yang punya suami  suka  menyeleweng, menyengsarakan istri  dan anak, tidak bertanggung  jawab  pada keluarga maka bagi para istri  bisa menjual suaminya ke  bank ghoib  dengan nilai sebesar 1,5Miliar  hingga 4Miliar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Uang  Pinjaman (Utang Ghoib)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita  memperoleh  pinjaman dari bank  ghoib dengan jaminan orang yang kita  sayangi,  biasanya anak kita. Hanya  akan ada kejadian apabila kita  tidak mampu  mengembalikan pinjaman  setelah waktu yang ditetapkan  bersama selesaai.  Biasanya minimal  pinjaman itu &lt;span style="color: red;"&gt;besarnya 1,5Miliar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Buto  Ijo&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(pesugihan  untuk usaha)kan membuat   perjanjian dengan buto ijo dengan imbalan  jasa yang diminta adalah   mereka harus menyediakan kamar khusus untuk  ritual dan juga tidak  boleh  diganggau oleh siapapun. Mereka bisa  membuat perjanjian dengan  khodam  buto ijo kapan deadline pinjaman dari  buto ijo dan juga buto  ijo harus  diberi makan manusia setiap tahun.  Biasanya kita harus  mencarikan  tumbal setiap tahun sekali dan apabila  kita gagal maka  kita ato  keluarga kita yang akan menjadi santapan buto  ijo.  Penghasilan dari  buto ijo untuk kita adalah &lt;span style="color: red;"&gt;1,5Miliar  tiap tahun&lt;/span&gt; sampe  7 turunan apabila keturunan kita juga bisa  ngerawat.&lt;br /&gt;Buto ijo  itu jorok sekali karena kamar tempat tinggalnya tidak boleh   dibersihkan,  apabila rusak parahpun tidak boleh direhab, jika anda   melanggar maka  nyawa keluarga yang menjadi taruhannya. Sangat berbahaya   dan tidak  dianjurkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Jaran Penoleh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmu   pesugihan yang aman karena tidak  perlu disediakan tumbal oleh majikan   dan tidak perlu menyediakan  ruangan khusus bagi kita. Kita harus   membuka usaha angkutan umum bis,  dan diberi gambar kuda. Untuk  tumbalnya  jaran penoleh ini akan mencari  sendiri di jalan dengan cara  kecelakaan  lalu lintas.&lt;br /&gt;HAsilnya setiap tahun kita dapat bantuan&lt;span style="color: red;"&gt; sebesar  1,5Miliar&lt;/span&gt; setelah ada kecelakaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Bulus Putih&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini   satu satunya pesugihan yang tidak  pake tumbal tumbalan, tapi istri  kita  di bagian PIPI akan ada tanda  khusus berwarna putih seperti PANU,  kita  dapat uang tiap tahun &lt;span style="color: red;"&gt;sebesar 1,6 Miliar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Manuk  Dadali Putih&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini  sejenis dengan Jaran Penoleh  namun  biasanya di body bus berciri  gambar burung. Semua pesugihan  yang  tersebut di atas kecuali uang PP  membutuhkan mahar minyak dan  sebagian  daerah juga ada yang minta  tebusan kerbau 2 ekor ato kambing  putih yang  bagian perutnya ada  gelang warna hitam melingkar&lt;br /&gt;sebagai  persembahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Warning &lt;/span&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tulisan  ini  bersifat informasi saja Dan Tidak ada maksud  untuk mejerumuskan   Seseorang atau Memfitnah Seseorang.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt; &lt;span style="color: red;"&gt;BIAYA ( GANTI ALAT RITUAL) RATA – RATA ANTARA 10JT  SAMPAI 20 JT  TIDAK HASIL TIDAK BAYAR ( GRATIS )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-6865564115237156090?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6865564115237156090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/6865564115237156090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/cara-mencari-pesugihan.html' title='CARA MENCARI PESUGIHAN'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-3490022193107665429</id><published>2011-01-16T23:27:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:27:12.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>JADI KAYA KARENA PIARA JIN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSyL33KBayNp87-aUa2OWQFbFmC2FR1m6pgGbMwlP5vshuTkt-788iwJBtu1A" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSyL33KBayNp87-aUa2OWQFbFmC2FR1m6pgGbMwlP5vshuTkt-788iwJBtu1A" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam keadaan situasi bisnis  yang tak  menentu dan ekonomi yang dirundung krisis, maka mengharapkan  datangnya  order ibarat merindukan hujan dimusim panas, atau menunggu  datangnya  burung bangau ditengah kota metropolitan. Maka terfikirlah  untuk  menghubungi alam gaib / Jin yang kiranya bisa memberikan nasihat  atau  bantuan agar bisa hidup lebih sejahtera&lt;br /&gt;Setelah mohon petunjuk kepada Roh Suci, maka munculah salah  satu ayat  di surat Al-Jin yang harus dibaca untuk menghadirkan Jin, dan  saya  menghapalkannya…………  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PROSESI MEMANGGIL JIN KEKAYAAN&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat  itu malam Selasa Kliwon, udara sejuk dan rembulan  dilangit beberapa  hari menjelang purnama, diluar kamar terdengar  sayup-sayup suara  binatang malam seruing / tongeret. Setelah  melaksanakan sholat Isya,  saya berniat hendak mendatangkan Jin, maka  lampu dikamar saya matikan  hingga menjadi sangat gelap, kemudian saya  duduk mencari posisi yang  enak, ayat di surat al-Jin tersebut lalu saya  wirid. Beberapa saat  tidak terjadi apapun, suara seruing sayup masih  terdengar, hingga  tiba-tiba bertiup angin dingin aneh yang menggidikkan,  dan seruing  mendadak berhenti berbunyi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SALAH MEMANGGIL YANG DATANG TERNYATA JIN HADIRIN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemunculan  Jin ini diawali dengan datangnya angin yang  bertiup berputar-putar  kemudian terkumpul dan membentuk mahluk kecil  yang perlahan-lahan  menjadi besar, yang kemudian memperkenalkan dirinya  sebagai  Jin  Hadirin. Setelah memberi salam, kemudian menanyakan maksud  saya  memanggilnya datang. Saya katakan bahwa saya ingin minta  bantuan-nya  karena menginginkan bantuan keuangan. Jin Hadirin bersedia  membantu  dengan persyaratan yang sangat berat yang kalau-pun saya penuhi  mungkin  bisa membuat saya gila. Ciri dari Jin Hadirin, mukanya kasar  dan besar  serta agak persegi, berambut pendek dan tubuhnya setinggi  manusia  normal. Karena meminta persyaratan yang sangat berat, maka saya   mengurungkan niat saya minta bantuannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagi  pula maksud saya semula ingin memanggil Jin Nasibin,  tapi saya lupa  menyebutkan namanya sehingga yang datang Jin Hadirin.  Setelah merenung  sejenak maka saya kemudian konsentrasi mencoba  memanggil Jin Nasibin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;MENGULANGI PROSESI MEMANGGIL JIN KEKAYAAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kamar  sangat gelap karena lampu kamar masih dalam keadaan  mati, Surat al-Jin  tersebut saya wirid kembali, kali ini dengan  memanggil Jin Nasibin.  Suasana yang hening dan tenang, tiba tiba  dikejutkan dengan  terdengarnya suara berdebuk yang keras seakan-akan ada  sesuatu benda  yang sangat besar dan berat jatuh dari atas, dan munculah  Jin Nasibin  dihadapan saya, hanya kepalanya saja. Saya terkejut  setengah mati,  rasanya ingin lari masuk kedalam tanah, kalau bisa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak  semula saya sudah sangat terkejut mendengar suara  gedebuk yang keras  dan pemunculan Jin Nasibin yang dengan cara yang  tidak saya duga  sebelumnya, juga karena wujudnya yang besar, kepalanya  saja setinggi  kira-kira hampir 2 meter, matanya sebesar buah jeruk bali  menatap  kearah saya dan hidungnya sangat besar. Penampilannya  betul-betul  sangat mengerikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENAMPILAN JIN NASIBIN DENGAN KEKAYAAN DI DALAM MULUTNYA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah  memperkenalkan dirinya dan memberi salam maka Jin  Nasibin menanyakan  maksud saya menghadirkannya datang, dan saya  menjelaskan keinginan  saya. Jin Nasibin mengangguk-anguk tanda mengerti  dan kemudian membuka  mulutnya lebar-lebar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jin  Nasibin membuka mulutnya dan kemudian mengeluarkan  lidahnya yang  ujungnya berwarna merah basah, lebarnya tiga puluh  senti-meter dan  panjangnya lebih dari setengah meter, terlihat air-  liurnya  menetes-netes dan tercium anyir air liurnya yang sangat bau  menjijikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan  tetapi terlihat ada sesuatu bersinar didalam  kerongkongannya, dan itu  adalah berupa emas-emas balokan, permata dan  sebungkus ikatan kertas.  Silahkan ambil …… katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk  mengambilnya berarti saya harus masuk ke-mulutnya,  Sedangkan baunya  dari luar saja sudah sangat tak tertahankan (rasanya  mau muntah),  apalagi bila masuk, sehingga saya membatalkan niat saya  untuk mengambil  harta yang disediakan itu. Dan kemudian saya menyebut  Laila ha  illAllah berkali-kali. Dan terlihat Jin Nasibin menarik  lidahnya,  menutup mulutnya dan kemudian menelan kembali emas permatanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengetahui  saya membatalkan niat untuk memperoleh harta  yang sedianya akan  diberikan kepada saya, jika saja saya mau masuk  kemulutnya dan  mengambilnya, Kepala Jin Nasibin kemudian berputar-putar,  mulai  mengecil dan kemudian lenyap menjadi debu, begitu cepatnya  seperti  waktu datangnya tadi. Suasana kembali hening dan tenang, dan  beberapa  saat kemudian suara seruing terdengar berbunyi lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam  kegelapan saya terhenyak dengan rasa mual yang  memenuhi rongga dada  dan mulut, mencoba sebisanya untuk menahan muntah  yang hampir keluar  dan berfikir, bukan jalan saya untuk mendapatkan  harta dengan cara  itu…………….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-3490022193107665429?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3490022193107665429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3490022193107665429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/jadi-kaya-karena-piara-jin.html' title='JADI KAYA KARENA PIARA JIN'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-498604553177392189</id><published>2011-01-16T23:24:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:24:03.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>PESUGIHAN PANTAI SAMAS BANTUL</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ74f2cd8JoYC8ml7yO9p13N9SzxftgyaYNGAlxiuWwzlAJWxFW" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ74f2cd8JoYC8ml7yO9p13N9SzxftgyaYNGAlxiuWwzlAJWxFW" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Pesugihan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;,  satu kalimat  yang sudah teramat  akrab di sebagian besar masyarakat  Nusantara. Tak  heran, jika hampir di  seluruh daerah selalu ditemui  tempat tempat  mistis untuk ritual  pesugihan itu. Misalnya di  Pandansegegek,  Kulonprogo, Jogjakarta.  Bagaimana prosesi ritual dan  tanggapannya dari  tokoh spiritualis?  Berikut liputannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;pantai  Pandansegegek adalah kawasan  di sepanjang barat Pantai  Trisik.  Sebagai daerah wisata alam, Pantai  Pandansegegek nyaris tak  dikenal.  Selain pemandangannya jauh dari kesan  indah, kawasan itu juga  cukup  terpencil dan terpisah dari penduduk asli  setempat.  Pandansegegek,  kini merupakan desa transmigran lokal di  wilayah  kabupaten Kulonprogo. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Karena belum memenuhi persyaratan sebuah  desa,  pemukiman trans-lokal  itu secara administratif menginduk atau  masuk  wilayah desa Karangsewu,  kecamatan Galur.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski   tak dikenal dan jauh dari kesan indah, Pandansegegek menjadi  terkesan   asing. Tetapi, rasa asing itu bisa memudar, ketika seseorang   mengetahui  sebuah lokasi &lt;i&gt;gumuk&lt;/i&gt; atau dataran tinggi yang   menyerupai gunung,  di ujung barat pemukiman Trans-lokal Ring II. Gumuk   itulah titik pusat  dari yang disebut Pandansegegek, tempat ritual   mencari pesugihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari  kejauhan, Gumuk Pandansegegek tak nampak sebagai  tempat ritual.   Sebab, kawasan itu dikepung gundukan kotoran binatang,  yang sengaja   ditimbun untuk keperluan pupuk. Tak urung, tempat ritual  itu pun   dikerubungi jutaan lalat, kontras dengan bayangan orang tentang  sebuah   tempat ritual yang seharusnya bersih dan keramat. Ada dua gubuk  reyot   di puncaknya, yang sengaja dibuat untuk para pelaku tirakat yang   hendak  bertapa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berada  di puncak Gumuk  Pandansegegek, suasana angker lebih terasa  karena  adanya sejumlah sesaji  dan tungku tempat pembakaran dupa.  Selebihnya,  situasi angker tercipta  karena rimbunnya pepohonan yang  didominasi  oleh ilalang yang tumbuh  liar. Tak ada benda keramat di  tempat itu,  kecuali sebuah batu cadas  yang terlihat sengaja dipasang  sekedar tanda  tempat menaruh sesaji.  Sulit mempercayai tempat itu  sebagai tempat  ritual, bila tak melihat  langsung seseorang yang sedang  laku tirakat  di tempat itu. Beruntung,  belum lama ini kami mendapati  seorang  perempuan usia 30-an tahun yang  sudah 3 hari bertapa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ujub Kepada Ibu Ratu Kidul&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari   berbagai penelusuran yang dilakukan, Pandansegegek tak memiliki  juru   kunci baku. Para pelaku tirakat lebih sering datang dari jauh,  dan  atas  petunjuk guru spiritualnya. Sugondo (30), warga asal Cepogo,   Boyolali,  yang kami temui di lokasi ritual mengatakan, kedatangannya ke    Pandansegegek hanya untuk mengantar seorang teman. Kepada posmo,  jujur   Sugondo mengakui, temannya yang ketika itu sedang bertapa di  dalam   gubuk, bertujuan untuk mencari kekayaan. Teman Sugondo itu  adalah   perempuan, pedagang sayuran di pasar Giwangan, Jogjakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Teman   saya itu dulu kaya. Tapi mendadak bangkrut. Lalu, dia nekat   bertirakat.  Sudah tiga hari ini teman saya puasa pati geni. Tidak makan   tidak minum  dan tidak boleh terkena ataupun melihat cahaya.   Rencananya, empat hari  ritual itu baru selesai. Tapi, tergantung apa   sudah dapat wisik atau  belum”, kata Sugondo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sugondo  menyambung, permintaan di Pandansegegek  ditujukan kepada Ibu  Ratu  Kidul alias Nyai Loro Kidul, penguasa Laut  Selatan. Dari berbagai   cerita pengalaman, kata Sugondo, godaan laku  tirakat di Pandansegegek   sangat berat. Misalnya, melihat mayat digotong  secara berulang-ulang.   Penampakan kepiting sebesar sepeda motor dan  beberapa penampakan lain   yang mengerikan. Jika sudah berhasil,  menurutnya, pelaku akan mendapat   wisik atau pesan gaib melalui mimpi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandansegegek  ternyata tak hanya dikenal sebagai tempat ritual  pesugihan  tuyul.  Tapi, juga pesugihan jenis lain seperti Genderuwo atau  Buto Ijo.  Untuk  pesugihan tuyul, warga sekitar mengatakan, pelaku  tirakat yang   berhasli akan bisa melihat wujud tuyul dan harus segera  memasukkannya  ke  dalam sebutir batu atau kerikil. Dengan cara itu tuyul  kemudian  dibawa  pulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika  laku dan godaan ritual mencari pesugihan di  Pandansegegek  teramat  berat, apakah hasil yang diperoleh cukup sepadan?  Sugondo  mengatakan,  dari pengalaman beberapa orang hasilnya memang  sangat  memuaskan.  Lantas, bagaimana dengan resikonya? Sugondo mengaku  tidak  tahu.  “Setahu saya, jika gagal hanya pulang tanpa hasil. Itu  saja”,  ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguhkah  laku ritual di Pandansegegek itu luput dari  resiko?  Jangan gegabah.  Sebuah ritual pastilah ada sejumlah mahar yang  harus  dibayar. Berhasil  maupun tidak, mahar dalam bentuk apapun tetap  harus  diberikan. Ibarat  harus memilih, pelaku tirakat hanya punya dua   pilihan, mukti atau  mati. Ki Santoso Sejati, spiritualis di Jogjakarta   yang kebetulan  berasal dari Kulonprogo, mengaku sering mengobati pasien   lumpuh yang  diakibatkan oleh kegagalan laku tirakat di Pandansegegek.   Menurutnya,  laku ritual di Pandansegegek tergolong musyrik. “Meminta   kepada selain  Alloh itu berarti menyekutukan Tuhan. Dosanya tidak   terampuni ”,  tegasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ki  Santoso Sejati menyambung, berhasil atau  tidak, seseorang yang  sudah  mencoba ritual itu secara otomatis namanya  langsung tercatat di  alam  gaib sebagai pengikut syetan. Jika gagal  ritual, dampak negatif   langsung bisa dirasakan. Misalnya, hidup menjadi  tambah susah dan tidak   jarang mengalami sakit berat yang tak bisa  disembuhkan secara medis.   Kalau berhasil, akibatnya setelah mati akan  menjadi budak syetan.  “Alam  gaib itu memang ada. Demikian pula Ratu  Kidul. Tapi perilaku  manusia  terhadap alam gaib yang tidak tepat, justru  membawa pada  kesesatan. Ibu  Ratu Kidul tidak salah, manusianya yang  salah. Lagi  pula setelah saya  deteksi, di Pandansegegek ini hanya ada  beberapa Jim  anak buah Ratu  Kidul.”, pungkasnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-498604553177392189?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/498604553177392189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/498604553177392189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/pesugihan-pantai-samas-bantul.html' title='PESUGIHAN PANTAI SAMAS BANTUL'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-168278702814875087</id><published>2011-01-16T23:21:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:21:14.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>KAYA SETELAH KETIPU DUKUN PALSU</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSSK0NxCl_TIiDtJbeJN1Bf4CUYC9UMQ0n3YaLZI80jCf4DPW5JMjDi61Pe" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSSK0NxCl_TIiDtJbeJN1Bf4CUYC9UMQ0n3YaLZI80jCf4DPW5JMjDi61Pe" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;pesugihan&lt;/b&gt; , satu kalimat  yang dulu pernah aku dambakan yaitu  kaya dari sesuatu yang tidak  mungkin. ternyata itu ada dan bisa  dibuktikan dialam yang serba canggih  ini.&lt;br /&gt;setahun  yang lalu aku mencari yang namanya pesugihan itu mulai dari   juana,jogja ,malang, bahkan sampai kegunung kawi,semua sudah pernah aku   jalani ,dasar aku ini ingin cepat kaya semua saran orang aku turuti   mulai dari dukun,juru kunci sampai maaf yang mengaku haji bahkan   habib,bahkan aku juga pernah ditipu disebuah rumah kyai di   pasuruhan.tidak hanya juru kunci,dukun yang suka menipu .tidak bisa apa –   apa ngaku nya utusa kanjeng ratu kidul itu banyak sekali,tapi  &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;untunglah  nasibku ini aku ketemu seorang yang masih muda yang juga  pernah  menjalani pesugihan dan aku pun diajak kesana dan bisa langsung   diketemukamn dengan orang yang bisa mengantar ke pesugihan tersebut,dan   sampai saat ini aku masih menikmati harta dunia mungkin besuk atau  lusa  kalo aku mati akan dijadikan budak mereka,tapi semua itu sudah aku   niatkan .hanya aku dan alam gaib yang tau apa yang jadi jaminan harta   duniaku.kalo anda berminat cari pesugihan carilah orang yang pernah   mengalami atau setidaknya pernah tau soal bukti pesugihan itu ,jangan   cari,Dukun.Juru kunci ,Atau penipu yang berkedok kyai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-168278702814875087?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/168278702814875087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/168278702814875087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/kaya-setelah-ketipu-dukun-palsu.html' title='KAYA SETELAH KETIPU DUKUN PALSU'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-7769349919568373121</id><published>2011-01-16T23:18:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:18:42.351+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>TUMBAL PESUGIHAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRZtGgDqyHY-BZe_46bq0Yqo-YAhqwsV5EsyYyh8Y3BrJM4PghsE5AIt6L2" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRZtGgDqyHY-BZe_46bq0Yqo-YAhqwsV5EsyYyh8Y3BrJM4PghsE5AIt6L2" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapa yang akan dijadikan tumbal….&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Eko  tampak pucat menghadapi hari yang menegangkan. Ia selalu  tertekan jika  saat itu tiba. Resah karena ia mengetahui keberadaan  keluarganya yang  makan minum dari hasil pemujaan. Ayahnya memuja setan  dengan  mempersembahkan nyawa demi setumpuk harta. Ayahnya telah  mengambil  jalan sesat, membuat batinnya selalu tersiksa. Kini hari  permintaan  tumbal itu telah dekat, itulah yang membuat Fandi resah. &lt;br /&gt;Keresahan   Fandi memang sangat beralasan. Sudah banyak korban manusia yang telah   dijadikan tumbal oleh ayahnya. Termasuk kedua adik perempuannya yang   masih berusia belasan tahun. Fandi pun amat takut dirinya akan dijadikan   tumbal oleh ayahnya. Sementara di rumah itu, kini hanya tinggal ibunya   dan dia yang tersisa. Mereka hanya menunggu waktu untuk jadi tumbal   ayahnya. Celakanya, Fandi tak mungkin lari dari kenyataan itu. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ditengah lamunan Fandi, wajah Susi dan Yani  adiknya melintas dalam  ingatan. Wajah yang selalu menggoda dirinya bila  sedang bercanda.  Benar-benar menyiksa, bayangan itu tak mau pergi dari  pelupuk matanya.  Mereka terus membayangi sepanjang hari, seperti  mengajak Fandi untuk  ikut bersama mereka. Atau menyuruh Fandi untuk  menghentikan semua  penyengsaraan ini. &lt;br /&gt;Masih terbayang dalam ingatan  Fandi bagaimana kedua adiknya itu  meninggal. Tapi hanya tanda merah yang  berbentuk seperti bola di kedua  telapak tangan serta bercak-bercak  merah di kulit tubuh mereka sebagai  bukti kematian Susi dan Yani. Namun  kenapa kedua orang tuanya tidak  merasa heran atas kepergian kedua  adiknya yang hanya berselang beberapa  hari itu. Tuhan, apa sebenarnya  yang sedang menimpa keluarga kami. &lt;br /&gt;Lamunan Fandi pagi itu terhenti  oleh derap kaki yang mendekatinya.  Fandi langsung menoleh dan ternyata  langkah kaki itu milik ibunya.  Dengan membawa secangkir teh, Fitri  mendekati Fandi yang menyambutnya  dengan senyuman. Perlahan, Fitri,  ibunya, mengambil kursi dan duduk  berhadapan dengan Fandi.&lt;br /&gt;“Kenapa  pagi-pagi begini kamu melamun? Tidak kuliah?” Tegur Fitri.  “Atau kau  sengaja berangkat sama sopir? Ayahmu baru saja pergi?”  Sambungnya lagi.&lt;br /&gt;Tegur  sapa Fitri yang halus dan lembut, membuat Fandi tergagap. Tapi ia   berusaha menyembunyikannya. Fandi tak menjawab semua pertanyaan  ibunya,  ia malah balik bertanya.&lt;br /&gt;“Bu, apakah perkebunan kita tidak mengalami  perubahan? Kita sudah lama  tidak menjenguknya. Bila ibu mau, Fandi ingin  mengajak ibu kesana.  Sekaligus ada sesuatu hal yang ingin Fandi  tanyakan,” kata Fandi  mengajak ibunya.&lt;br /&gt;Fandi memberanikan diri  mengajak ibunya ke perkebunan dengan harapan  dapat mengetahui apakah  ibunya benar-benar belum mengetahui kalau  ayahnya seorang pemuja setan.  Tanpa diduga, ibunya gembira sekali  dengan ajakan Fandi.&lt;br /&gt;Fitri  sebenarnya sedikit was-was karena Fandi tidak biasanya mengajak  ke  perkebunan. Fandi lebih sering mengajak ibunya belanja ke toko untuk   mencari sesuatu. Tapi akhirnya Fitri mengiyakan ajakan anak sulungnya   itu. Ia masuk ke dalam dan mengeluarkan mobil dari garasi.&lt;br /&gt;Tak lama  kemudian berangkatlah mereka ke perkebunan. Perjalanan yang  memakan  waktu hampir satu jam membuat jantung Fandi berdebar-debar. Ia   membayangkan wajah ibunya nanti bila ia menanyakan tentang keberadaan   ayahnya. Reaksi seperti apa yang akan ditampakkan oleh ibunya. &lt;br /&gt;Tiba  di perkebunan, Fandi menggandeng tangan ibunya sambil mencari  tempat  untuk bernaung. Akhirnya mereka singgah di sebuah gubuk reyot  untuk  mengobrol. Perlahan-lahan Fandi memegang jemari ibunya dan  mencoba  memberanikan diri untuk bertanya.&lt;br /&gt;“Sudah berapa lama perkebunan ini  dimiliki oleh ayah Bu?” Tanya Fandi.  “Pada saat ayah membeli tanah ini,  Fandi tak mengetahuinya. Padahal  gaji ayah ‘kan cuma pas-pasan. Tidak  mungkin ayah memiliki uang  sebanyak itu. Apakah mungkin gaji seorang  pegawai Asuransi bisa membeli  perkebunan ini. Belum lagi ayah telah  membeli kendaraan dan semua  barang istimewa yang saat ini kita miliki?”  Tanya Fandi.&lt;br /&gt;Fitri terkejut mendengar pertanyaan yang diucapkan  Fandi. Ia hanya  menatap kedua mata Fandi dengan tajam. Tak lama kemudian  ia berdesah,  kekhawatirannya selama ini terbukti. Pertanyaan inilah  yang selalu  membuat dirinya resah sepanjang malam. &lt;br /&gt;“Sebenarnya ibu  telah lama menyimpan rahasia ini, dan baru kali ini ibu  membukanya.  Bagus sekali kamu mengajak ibu kesini. Kesempatan seperti  inilah yang  ibu tunggu-tunggu. Sekarang kamu sudah dewasa dan mampu  berpikir, mana  yang baik mana yang buruk. Kamu dapat membedakannya,”  jawab Fitri yang  merasa senang anaknya telah mengetahuinya.&lt;br /&gt;Fitri bicara sambil  menahan perasaannya yang tertekan. Betapa dirinya  selama ini menyimpan  rahasia suaminya di dalam batin. Tiga tahun  bukanlah waktu yang pendek  untuk menyimpan sebuah rahasia besar yang  telah dilalui oleh  keluarganya. &lt;br /&gt;Fandi semakin tegang melihat wajah ibunya yang menatap  dengan tatapan kosong. Akhirnya ia menepuk bahu ibunya sambil berdehem.&lt;br /&gt;“Bu….!  Ibu kenapa? Apakah pertanyaan Fandi menyinggung perasaan ibu?  Maafkan  Fandi bu. Fandi telah lancang, seharusnya Fandi tak boleh  begitu.”&lt;br /&gt;“Tidak  Fandi……!” Celetuk ibunya. “Ibu hanya ragu untuk mengatakan sesuatu  padamu,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Dengan cepat Fandi menyela ucapan ibunya sambil  mencium tangannya.  “Cepat bu, katakanlah! Fandi sudah lama sekali  menunggu jawaban ini.  Rasanya Fandi sudah tak sabar mendengarnya.  Masalah ayahkan bu?  Sekarang begini saja,  dari pada ibu sulit untuk  membukanya, biarlah  Fandi yang mewakili perasaan ibu.&lt;br /&gt;Mudah-mudahan  ibu dapat menerima apa yang akan Fandi katakan. Sebab  Fandi sudah  mengetahui apa yang telah menimpa keluarga kita. Bukankah  ayah itu  seorang pemuja bu? Susi dan Yani telah dijadikan tumbal oleh  ayah. Kini  giliran Fandi dan ibu yang saat ini tengah diincar ayah. &lt;br /&gt;Ketakutan  inilah yang membuat ibu sering sakit. Sebenarnya Fandipun  seperti ibu.  Tetapi apakah kita akan tinggal diam bu? Apakah kita tidak  secepatnya  minta pertolongan. Biarlah kita pergi diam.-diam selagi  masih ada  kesempatan dan belum terlambat,” jelas Fandi panjang lebar. &lt;br /&gt;Betapa  terkejutnya Fitri mendengar ungkapan Fandi. Ia tidak menyangka  anak  sulungnya telah mengetahui ayahnya seorang pemuja. Fitri segera  memeluk  Fandi sampai bercucuran air mata. Fitri menumpahkan semua  jeritan batin  yang selama ini menghimpit dadanya. &lt;br /&gt;Sementara itu Fandi terlihat  sangat lega karena ibunya sudah menerima  semua kalimat yang  diucapkannya. Keberadaan ayahnya sebagai seorang  pemuja setan, telah  terungkap. Dengan bersimbah air mata, Fitri  melepaskan pelukannya.  Perlahan ia mengusap kedua matanya lalu kembali  menatap wajah Fandi  dengan sayu.&lt;br /&gt;“Semua yang kau katakan adalah benar Fandi. Masalah  inilah yang selalu  mengganggu pikiran ibu. Saranmu akan ibu turuti, dari  pada kau dan ibu  dijadikan korban oleh ayahmu!” Jawab Fitri.&lt;br /&gt;“Mari  kita pulang Fandi. Takut ayahmu pulang lebih awal dari biasanya,” ajak  Fitri pada anaknya. &lt;br /&gt;Fandi mengangguk sambil bergegas melangkahkan  kakinya menuju mobil.  Sementara Fitri mengikutinya dari belakang. Tanpa  banyak bicara, Fandi  langsung menstater mobil dan segera meluncur  pulang.&lt;br /&gt;Sampai di rumah, Fitri menerobos masuk ke dalam rumah dan  langsung  berganti pakaian. Setelah itu ia segera beristirahat untuk  meninggalkan  jejak bahwa dirinya pulang dari bepergian. Sedangkan Fandi  duduk di  kursi tamu sambil membaca koran. Dalam hatinya berkecamuk  rencana yang  telah disepakati dengan ibunya. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian  Sasmito ayah Fandi tiba. Mendengar suara suaminya,  Fitri pura-pura  tidur. Sementara itu Fandi merasa bersyukur karena  ayahnya tidak  mengetahui bahwa ibu dan dia pulang dari perkebunan.&lt;br /&gt;Malam nampak  cerah, purnama bersinar terang. Tapi Fandi dicekam  ketakutan menyaksikan  purnama itu. Hatinya begitu gelisah. Siapakah  yang akan dijadikan  tumbal oleh ayahnya pada Purnama ini? Keringat  Fandi mengucur deras  membasahi kemeja yang ia kenakan. Ia beranjak dari  ranjangnya, Fandi  mengkhawatirkan keadaan ibunya. Perasaannya gelisah  seperti akan terjadi  sesuatu pada ibunya. Fandi bergegas mendatangi  kamar tidur ibunya dan  langsung mengetuk pintu kamar.&lt;br /&gt;“Bu, bu……! Ini Fandi bu! Tolong  bukakan pintunya bu. Fandi mau bicara. Apakah ibu tidak sholat Isya’  dulu?” &lt;br /&gt;Lama Fandi menunggu, tapi tak satupun pertanyaan dijawab.  Akhirnya ia  mengintip melalui lubang kunci. Tiba-tiba Fandi berteriak  nyaring  memanggil ayahnya.&lt;br /&gt;“Ayah…..! Ayah…..! Tolong ibu ayah!”  Teriak Fandi.&lt;br /&gt;Sasmito menghampiri Fandi sambil bertanya, “Ada apa  Fandi? Kenapa dengan ibumu?” &lt;br /&gt;“Lihat ayah! Pintu kamar ini terkunci  dari dalam. Saat Fandi  memanggil-manggil ibu, ia tak menyahut.  Sepertinya ibu sedang sakit  ayah.”&lt;br /&gt;Sasmito nampak panik. Ia segera  mendobrak pintu tersebut bersama Fandi  lalu berlari masuk ke dalam  kamar. Fandi bersama ayahnya langsung  menghampiri ranjang melihat Fitri  tergolek lemah di atasnya. Dan, semua  teriakan tak satupun didengar  Fitri. &lt;br /&gt;“Fitri, bangun Fitri! Ada apa denganmu Fitri!” Sasmito dan  Fandi menangis sambil menjerit-jerit.&lt;br /&gt;“Fitri jangan tinggalkan aku  Fitri. Aku tidak sanggup hidup tanpa kau  disisiku!” Sasmito terus  berteriak sambil memeluk tubuh istrinya. &lt;br /&gt;“Fandi…..! Ibumu sudah  tiada. Ibu sudah menghadap Tuhan. Ini memang salah ayah Fandi. Maafkan  ayah.”&lt;br /&gt;Sasmito berbicara sambil meratap, ratapan yang sangat  memilukan. Ia  menangis bagai bayi yang baru lahir. Hatinya hancur atas  kepergiaan  Fitri yang telah dijadikan tumbal olehnya. Isak tangis  Sasmito  terdengar sangat mengharukan. Tapi Fandi merasa muak dengan  sikap  ayahnya. &lt;br /&gt;Mendadak Fandi marah, ia sudah sekian lama memendam  kebencian terhadap  ayahnya. Kebencian itu muncul akibat perlakukan  ayahnya yang tega  menjadikan kedua adiknya sebagai tumbal. Apalagi kini  ibunya tewas  menyusul kedua adiknya. Ibunya telah menjadi korban atas  pemujaan  ayahnya.&lt;br /&gt;“Ayah benar-benar tega berbuat seperti ini. Kenapa  ayah lakukan pada  kami? Kami butuh kebahagiaan. Kami tidak butuh harta!  Beginilah jika  ayah tidak percaya dengan adanya Tuhan!”&lt;br /&gt;Makian Fandi  yang terdengar mengutuk, terlalu pedas bagi Sasmito. Namun  Sasmito tidak  sedikitpun membalas makian anak sulungnya itu. Sasmito  menyadari semua  kesalahannya. Akhirnya Fandi keluar dari kamar dan  segara memanggil para  tetangga untuk memberitahukan kematian ibunya.  Usai itu Fandi kembali  ke kamar menemui jenazah ibunya.&lt;br /&gt;Tubuh Fitri terbujur kaku, tergolek  di atas ranjang didampingi Sasmito.  Wajahnya tampak pucat dan keriput di  wajahnya semakin nampak jelas.  Beberapa orang tetangganya berdatangan  untuk melayat. Sasmito terlihat  shock, ia hanya termenung saat melihat  tubuh istrinya dibopong keluar  untuk dimandikan. Sementara itu Fandi  mengiringnya dari belakang sambil  melihat sebuah tanda yang sudah ia  kenal. Tanda yang menyebabkan  kematian ibunya. &lt;br /&gt;Esok harinya, setelah  Fitri dimandikan jasadnya segera dimakamkan.  Fandi, Sasmito dan seluruh  warga menghantarkan jasad Fitri hingga ke  pemakaman. Derai air mata  Fandi dan Sasmito mengiringi kepergian Fitri  hingga masuk ke liang  kubur.&lt;br /&gt;Selesai pemakaman, Fandi nampak shock dan frustasi. Semangat  hidupnya  kini sudah tiada lagi. Satu demi satu orang-orang yang  dicintainya  telah pergi meninggalkannya. Untuk apalagi dirinya bertahan  hidup.  Mungkin hanya untuk menunggu gilirannya dijadikan tumbal.&lt;br /&gt;Kegundahan  hati Fandi yang terlihat nyata dapat dipahami Sasmito.  Perlahan-lahan  Sasmito mendekati Fandi dan memeluknya sambil berkata,  “Kau akan kemana  Fandi? Apa kamu akan pergi meninggalkan ayah? Ayah  mengakui kesalahan  ayah membuat ibu dan kedua adikmu pergi. Tapi tolong  dengar kata-kata  ayah. Pada waktu itu ayah tergoda oleh harta. Tapi  semua itu ayah  lakukan demi kehormatan keluarga kita yang selalu dihina  karena hidup  dalam kemiskinan. Ayah sungguh khilaf waktu itu dan tidak  berpikir  panjang. Sekarang tolong bantu ayah untuk menyelamatkan ayah.  Ayah tak  ingin kaupun dijadikan tumbal bagi Raja Siluman itu. Kau  harus selamat,  biarlah ayah sendiri yang menanggung akibatnya.”&lt;br /&gt;Hati Fandi terketuk  juga oleh kata-kata ayahnya. Walau ayahnya telah  salah mengambil jalan,  ia tetap ayah kandungnya. Fandipun segera keluar  dari rumah tanpa mau  disertai ayahnya. Fandi akan berusaha mencari  solusi yang bisa  melindungi dirinya dan menyelamatkan nyawanya. Dengan  berat hati dan  perasaan tak kauran Fandi melangkahkan kakinya menembus  udara bebas  sambil terus berharap semoga nyawanya dapat terbebas dari  cengkeraman  Ratu Pemilik Harta.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-7769349919568373121?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7769349919568373121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7769349919568373121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/tumbal-pesugihan.html' title='TUMBAL PESUGIHAN'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-7521443921380165417</id><published>2011-01-16T23:15:00.001+07:00</published><updated>2011-01-16T23:15:19.642+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>TOBAT SETELAH MELARAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSWORJvuZWyEfWwoHZZK4TrYGB_7hc4-a6G0EkBEpUjYBEoiM8CF4cC-Oau" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSWORJvuZWyEfWwoHZZK4TrYGB_7hc4-a6G0EkBEpUjYBEoiM8CF4cC-Oau" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Banyak orang yang  tidak percaya  adanya makhluk halus seperti Genderuwo, Kuntilanak, Jin  dan sejenisnya.  Tapi banyak pula orang yang percaya dan yakin bahwa  mereka itu ada.  Dan salah satu orang yang percaya adanya makhluk halus  itu adalah aku  (Penulis)).&lt;br /&gt;Dulunya, aku tidak percaya sama sekali  tentang  kisah-kisah berbau hantu. Namun hal itu berubah setelah aku  sendiri  mengalami sebuah peristiwa yang sangat menyeramkan, sekaligus   mengerikan. Pengalaman ini pula yang sekaligus memberiku hidayah untuk   kembali menjalankan segala perintah Allah SWT. Ya, sejak peristiwa ini   aku kembali rajin menjalankan sholat baik wajib maupun sunnat, padahal   sebelumnya aku termasuk pemuda yang berandalan. Karena pengalaman ini   pula setiap malam aku kian rajin membaca Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.do" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kisah  mistisku  ini terjadi di bulan Mei tiga tahun silam. Tepatnya malam  Minggu Kliwon,  tanggal 23 Mei 2004 yang lalu. Dan sampai sekarang  kejadian ini masih  membekas jelas di ingatanku. Mungkin ini akan  menjadi sebuah pengalaman  mistis yang menakutkan sepanjang hidupku.&lt;br /&gt;Sebagai  pemuda yang masih  lajang, setiap malam Minggu, aku paling suka  menonton hiburan dangdutan,  yang ditanggap orang yang sedang mengadakan  pesta hajatan. Baik itu di  kampungku ataupun di kampung-kampung  tetangga. Selain sekedar mencari  hiburan, siapa tahu ada gadis yang mau  denganku untuk kujadikan pacar.  Biasanya kami selalu pergi berombongan  dengan mengendarai sepeda motor.&lt;br /&gt;Ceritanya,  malam itu terpaksa  aku pulang sendirian dari menonton acara dangdutan  di kampung seberang.  Jarak kampungku dengan kampung seberang kurang  lebih 2 Km. Jalan  penghubung satu-satunya dari kampungku ke kampung  seberang harus  melalui perkebunan karet.&lt;br /&gt;Entah mengapa kampung itu  disebut  kampung seberang. Menurut orang-orang tua, di kampungku karena  letaknya  di seberang sungailah, maka disebut kampung seberang.&lt;br /&gt;Semua   teman-temanku malam itu sudah pulang duluan. Sebenarnya salahku sendiri,   karena sebelumnya kami sudah sekapat, jam setengah dua belas malam   harus sudah berkumpul di satu tempat yang sudah disepakati untuk pulang   bersama-sama. Karena keasyikan menonton acara dangdutan, hingga aku  lupa  pada kesepakatan itu. Mungkin, karena ditunggu-tunggu sampai pukul  dua  belas aku belum muncul juga, akhirnya teman-temanku memutuskan  untuk  pulang saja. Semua teman-temanku mengira, aku sudah pulang  duluan.&lt;br /&gt;Sialnya,  malam itu aku tidak membawa kendaraan sendiri. Sewaktu pergi tadi, aku  dibonceng sepeda motor temanku.&lt;br /&gt;Dengan  perasaan jengkel, kuputuskan  pulang sendirian saja dengan berjalan  kaki. Apalagi jarak kampungku  tidak begitu jauh. Perasaan takut tak  jadi masalah bagiku. Dari kecil  aku tak pernah kenal dengan yang  namanya takut. Apalagi dengan hantu,  aku sama sekali tidak  mempercayainya.&lt;br /&gt;Suara jangkrik mengiringi  langkahku menyusuri  jalanan yang sunyi. Sesekali suara burung hantu  terdengar di kejauhan.  Pohon-pohon karet berdiri membisu berjajar di  kiri-kanan jalan. Untung  saat itu bulan sedang purnama, hingga keadaan  jalan tidak begitu gelap.&lt;br /&gt;Untuk  mengusir kesunyian, sengaja aku  bersiul-siul menyanyikan lagu  kegemeranku. Anehnya, begitu sampai di  tengah-tengah perkebunan karet,  entah mengapa tiba-tiba saja badanku  merinding. Kulihat jam di tanganku  menunjukkan pukull satu malam.&lt;br /&gt;Tiba-tiba  sebatang cabang kayu yang cukup besar jatuh tepat di depanku. Suaranya  mengejutkanku hingga jantungku hampir copot.&lt;br /&gt;"Satu langkah lagi,  habislah aku," batinku.&lt;br /&gt;Karena  menghalangi jalan, kucoba untuk  menyingkirkan cabang kayu itu  kesamping. Belum lagi cabang kayu itu  berhasil kusingkirkan, tiba-tiba  terdengar suara tawa cekikikan. Nyaring  sekali. Hati kecilku berkata,  "jangan-jangan ini Kuntilanak!"&lt;br /&gt;Kuperhatikan  sekelilingku tetapi  tidak ada apa-apa. Kembali suara tawa cekikikan itu  terdengar.  Kuperhatikan kembali sekelilingku. Tapi tetap tidak ada  apa-apa. Hanya  pepohonan karet yang berdiri mematung tertimpa cahaya  bulan.&lt;br /&gt;Lagi-lagi  suara tawa cekikikan itu terdengar. Kali ini malah  lebih keras dan  berulang-ulang. "Benar ini pasti Kuntilanak!" kataku  dalam hati.&lt;br /&gt;Karena  suara tawa itu terus saja terdengar, bukanya takut  malah timbul rasa  jengkelku. Dengan penuh emosi, aku berteriak  menantang.&lt;br /&gt;"Heiii...Kuntilanak!  Jangan ganggu aku. Kalau berani  jangan sembunyi-sembunyi, tunjukkan  wujudmu. Kau pikir aku takut, dasar  setan. Keluar kau!"&lt;br /&gt;Begitu  aku selesai berteriak, suara tawa itu pun  berhenti. Karena dari kecil  aku dikenal sebagai anak yang pemberani  menghadapi keadaan seperti ini,  tidak ada setitik pun rasa takut di  benaku. Malah timbul rasa  penasaranku. Seperti apa sih Kuntilanak itu.  Kutunggu beberapa saat,  tapi suara tawa itu tidak terdengar lagi.&lt;br /&gt;Dengan  perasaan jengkel  kembali aku bermaksud melangkahkan kakiku. Tapi belum  sempat kakiku  melangkah, tiba-tiba bahuku ada yang menepuk dari  belakang, diiringi  sapaan suara perempuan. "Baaang!"&lt;br /&gt;Dengan terkejut,  buru-buru kuputar badanku menghadap kebelakang.&lt;br /&gt;Seorang  perempuan  dengan wajah tertunduk berdiri tepat di belakangku. Entah  darimana  datangnya. Buru-buru aku mundur beberapa langkah ke belakang,  sambil  terus memperhatikan perempuan itu. Kulihat baju putih panjangnya   menutupi kaki dan tangannya.&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba saja tercium bau  bunga  kantil. Belum sempat aku bertanya pada perempuan itu, tiba-tiba  dengan  berlahan-lahan perempuan itu menengadahkan mukanya. Di  keremangan malam,  kulihat wajah perempuan itu pucat sekali. Kedua  matanya bolong. Dan  dari kedua lubang matanya, memancar sinar merah.  Rambutnya acak-acakan.&lt;br /&gt;Spontan  rasa takut menyergapku. Baru kali  ini aku merasakan ketakutan.  Jantungku berdebar kencang manakala secara  tiba-tiba perempuan itu  tertawa cekikikan sambil memperlihatkan  taringnya. Lalu kedua tangannya  diacungkan padaku, seolah ingin  mencekikku. Kembali aku dibuat terkejut.  Ternyata jari-jari tangannya  tinggal tulang semua.&lt;br /&gt;"Kun...Kun...Kuntilanak!!"  teriakku dengan tergagap. Tanpa pikir panjang lagi kuambil langkah  seribu.&lt;br /&gt;Melihat  aku lari, Kuntilanak itupun ikut berlari mengejarku.  Sekilas dapat  kulihat tubuhnya melayang-layang terbang, dengan suara  cekikikannya  yang mengerikan.&lt;br /&gt;Dengan sekuat tenaga kupercepat lariku.  Tapi  Kuntilanak itu terus saja mengejarku dengan disertai suara tawanya  yang  menakutkan. Sementara rasa takut yang kurasakan, semakin  menjadi-jadi.  Baru kali ini aku merasakan takut yang teramat sangat.&lt;br /&gt;Di  saat  genting itu, tiba-tiba ada cahaya lampu dari depanku. Begitu ada  cahaya  lampu, suara tawa Kuntilanak itupun hilang. Dengan terengah-engah   kuhentikan lariku. Kulihat ke belakang ternyata benar Kuntilanak itu   sudah menghilang. Mungkin karena takut dengan cahaya lampu itu, pikirku.&lt;br /&gt;Sambil   mengatur nafas, kutunggu cahaya lampu yang kukira lampu sepeda motor   itu mendekat. Kupikir mungkin salah seorang temanku yang ingin   menjemputku. Tapi semakin dekat cahaya lampu itu ke arahku, ternyata   bukan suara sepeda motor yang terdengar. Justru bau kemenyan dan bunga   kantil yang menusuk hidung. Kembali rasa takut mulai menjalariku.&lt;br /&gt;Begitu   cahaya lampu itu tiba di depanku, aku pun nyaris pingsan dibuatnya.   Astaga! Ternyata cahaya itu adalah rombongan hantu pengusung keranda   mayat. Mereka berjalan tanpa menginjak tanah. Badanku seolah tidak   berdarah lagi. Jantungku berdegup kencang.&lt;br /&gt;Keberanian yang dulu   kubangga-banggakan hilang sudah. Dengan amat jelas kulihat satu orang   tanpa kepala dengan leher berlumuran darah, membawa lampu berupa bulatan   cahaya yang sangat terang.&lt;br /&gt;Empat orang pengusung keranda mayat,   mukanya hancur semua. Dengan badan dipenuhi bercak-bercak darah di   sana-sini. Sementara orang-orang yang mengiringi di belakang, tubuhnya   juga tidak ada yang utuh.&lt;br /&gt;Mataku melotot tidak bisa dikedipkan.  Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengerikan sekali.&lt;br /&gt;Tiba-tiba,   rombongan pengusung keranda mayat itu berhenti saat lewat di depanku.   Lalu secara serentak makhluk-makhluk mengerikan itu memalingkan  wajahnya  dan menatap ke arahku.&lt;br /&gt;Rasa takut yang kurasakan semakin   menjadi-jadi. Nafasku memburu karena menahan takut. Wajah-wajah  makhluk  itu sangat mengerikan. Mereka menatapku dengan tajam. Lalu  salah seorang  datang mendekatiku. Wajah berlumuran darah mengerikan.  Salah satu  matanya menggantung keluar hampir copot. Isi perutnya  terburai keluar.  Dengan jalannya yang seperti robot, makhluk itu  mendekatiku.&lt;br /&gt;Ingin  rasanya aku lari, tapi kedua kakiku tidak  dapat digerakkan. Lalu dengan  cepat tangan makhluk itu mencengkeram  bahuku. Kucoba meronta melepaskan  cengkeramannya. Tapi tidak berhasil.  Tenaga makhluk itu sangat kuat  sekali. Tubuhku diangkatnya dengan  mudah. Lalu dengan cepat tubuhku  dilemparkan kearah keranda mayat.&lt;br /&gt;Tubuhku  melayang menuju keranda.  Dengan tiba-tiba pula, penutup keranda itu  terbuka sendiri. Lalu dengan  telak tubuhku jatuh ke dalam keranda itu.  Dengan cepat penutup keranda  itupun menutup kembali.&lt;br /&gt;Aku sudah di  dalam keranda, meronta-ronta  kesana kemari. Dengan sekuat tenaga  kucoba membuka penutup keranda itu.  Tapi sungguh sangat sulit.&lt;br /&gt;Aku  coba berteriak meminta pertolongan.  Tapi tak ada satu katapun yang  bisa keluar dari mulutku. Bagai tikus  terkena perangkap, aku terus saja  meronta-ronta kesana-kemari. Sambil  terus berusaha membuka penutup  keranda, tapi usahaku sia-sia.&lt;br /&gt;Lalu  dengan bersamaan,  makhluk-makhluk itu tertawa mengerikan. Kemudian  mereka mulai lagi  berjalan dengan membawaku, yang terus meronta-ronta.  Karena dicekam  rasa takut yang teramat sangat, ditambah tenagaku yang  semakin lemah,  akhirnya aku pun jatuh pingsan. Setelah itu aku tak ingat  apa-apa lagi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-7521443921380165417?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7521443921380165417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7521443921380165417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2011/01/tobat-setelah-melarat.html' title='TOBAT SETELAH MELARAT'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-5793710255802683950</id><published>2010-12-16T16:10:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:25:35.727+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>CIRI-CIRI TUMBAL PESUGIHAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://velayatriders.files.wordpress.com/2009/03/dsci0234.jpg?w=367&amp;amp;h=489" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://velayatriders.files.wordpress.com/2009/03/dsci0234.jpg?w=367&amp;amp;h=489" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Susi dan Yani tewas dengan sebuah  tanda merah di telapak tangannya. Kini tinggal Fandi dan ibunya yang  tersisa. Siapa yang akan dijadikan tumbal….&lt;/span&gt; Fandi tampak pucat menghadapi hari yang menegangkan. Ia selalu  tertekan jika saat itu tiba. Resah karena ia mengetahui keberadaan  keluarganya yang makan minum dari hasil pemujaan. Ayahnya memuja setan  dengan mempersembahkan nyawa demi setumpuk harta. Ayahnya telah  mengambil jalan sesat, membuat batinnya selalu tersiksa. Kini hari  permintaan tumbal itu telah dekat, itulah yang membuat Fandi resah. &lt;br /&gt;Keresahan  Fandi memang sangat beralasan. Sudah banyak korban manusia yang telah  dijadikan tumbal oleh ayahnya. Termasuk kedua adik perempuannya yang  masih berusia belasan tahun. Fandi pun amat takut dirinya akan dijadikan  tumbal oleh ayahnya. Sementara di rumah itu, kini hanya tinggal ibunya  dan dia yang tersisa. Mereka hanya menunggu waktu untuk jadi tumbal  ayahnya. Celakanya, Fandi tak mungkin lari dari kenyataan itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ditengah lamunan Fandi, wajah Susi dan Yani  adiknya melintas dalam ingatan. Wajah yang selalu menggoda dirinya bila  sedang bercanda. Benar-benar menyiksa, bayangan itu tak mau pergi dari  pelupuk matanya. Mereka terus membayangi sepanjang hari, seperti  mengajak Fandi untuk ikut bersama mereka. Atau menyuruh Fandi untuk  menghentikan semua penyengsaraan ini. &lt;br /&gt;Masih terbayang dalam ingatan  Fandi bagaimana kedua adiknya itu meninggal. Tapi hanya tanda merah yang  berbentuk seperti bola di kedua telapak tangan serta bercak-bercak  merah di kulit tubuh mereka sebagai bukti kematian Susi dan Yani. Namun  kenapa kedua orang tuanya tidak merasa heran atas kepergian kedua  adiknya yang hanya berselang beberapa hari itu. Tuhan, apa sebenarnya  yang sedang menimpa keluarga kami. &lt;br /&gt;Lamunan Fandi pagi itu terhenti  oleh derap kaki yang mendekatinya. Fandi langsung menoleh dan ternyata  langkah kaki itu milik ibunya. Dengan membawa secangkir teh, Fitri  mendekati Fandi yang menyambutnya dengan senyuman. Perlahan, Fitri,  ibunya, mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Fandi.&lt;br /&gt;“Kenapa  pagi-pagi begini kamu melamun? Tidak kuliah?” Tegur Fitri. “Atau kau  sengaja berangkat sama sopir? Ayahmu baru saja pergi?” Sambungnya lagi.&lt;br /&gt;Tegur  sapa Fitri yang halus dan lembut, membuat Fandi tergagap. Tapi ia  berusaha menyembunyikannya. Fandi tak menjawab semua pertanyaan ibunya,  ia malah balik bertanya.&lt;br /&gt;“Bu, apakah perkebunan kita tidak mengalami  perubahan? Kita sudah lama tidak menjenguknya. Bila ibu mau, Fandi ingin  mengajak ibu kesana. Sekaligus ada sesuatu hal yang ingin Fandi  tanyakan,” kata Fandi mengajak ibunya.&lt;br /&gt;Fandi memberanikan diri  mengajak ibunya ke perkebunan dengan harapan dapat mengetahui apakah  ibunya benar-benar belum mengetahui kalau ayahnya seorang pemuja setan.  Tanpa diduga, ibunya gembira sekali dengan ajakan Fandi.&lt;br /&gt;Fitri  sebenarnya sedikit was-was karena Fandi tidak biasanya mengajak ke  perkebunan. Fandi lebih sering mengajak ibunya belanja ke toko untuk  mencari sesuatu. Tapi akhirnya Fitri mengiyakan ajakan anak sulungnya  itu. Ia masuk ke dalam dan mengeluarkan mobil dari garasi.&lt;br /&gt;Tak lama  kemudian berangkatlah mereka ke perkebunan. Perjalanan yang memakan  waktu hampir satu jam membuat jantung Fandi berdebar-debar. Ia  membayangkan wajah ibunya nanti bila ia menanyakan tentang keberadaan  ayahnya. Reaksi seperti apa yang akan ditampakkan oleh ibunya. &lt;br /&gt;Tiba  di perkebunan, Fandi menggandeng tangan ibunya sambil mencari tempat  untuk bernaung. Akhirnya mereka singgah di sebuah gubuk reyot untuk  mengobrol. Perlahan-lahan Fandi memegang jemari ibunya dan mencoba  memberanikan diri untuk bertanya.&lt;br /&gt;“Sudah berapa lama perkebunan ini  dimiliki oleh ayah Bu?” Tanya Fandi. “Pada saat ayah membeli tanah ini,  Fandi tak mengetahuinya. Padahal gaji ayah ‘kan cuma pas-pasan. Tidak  mungkin ayah memiliki uang sebanyak itu. Apakah mungkin gaji seorang  pegawai Asuransi bisa membeli perkebunan ini. Belum lagi ayah telah  membeli kendaraan dan semua barang istimewa yang saat ini kita miliki?”  Tanya Fandi.&lt;br /&gt;Fitri terkejut mendengar pertanyaan yang diucapkan  Fandi. Ia hanya menatap kedua mata Fandi dengan tajam. Tak lama kemudian  ia berdesah, kekhawatirannya selama ini terbukti. Pertanyaan inilah  yang selalu membuat dirinya resah sepanjang malam. &lt;br /&gt;“Sebenarnya ibu  telah lama menyimpan rahasia ini, dan baru kali ini ibu membukanya.  Bagus sekali kamu mengajak ibu kesini. Kesempatan seperti inilah yang  ibu tunggu-tunggu. Sekarang kamu sudah dewasa dan mampu berpikir, mana  yang baik mana yang buruk. Kamu dapat membedakannya,” jawab Fitri yang  merasa senang anaknya telah mengetahuinya.&lt;br /&gt;Fitri bicara sambil  menahan perasaannya yang tertekan. Betapa dirinya selama ini menyimpan  rahasia suaminya di dalam batin. Tiga tahun bukanlah waktu yang pendek  untuk menyimpan sebuah rahasia besar yang telah dilalui oleh  keluarganya. &lt;br /&gt;Fandi semakin tegang melihat wajah ibunya yang menatap  dengan tatapan kosong. Akhirnya ia menepuk bahu ibunya sambil berdehem.&lt;br /&gt;“Bu….!  Ibu kenapa? Apakah pertanyaan Fandi menyinggung perasaan ibu? Maafkan  Fandi bu. Fandi telah lancang, seharusnya Fandi tak boleh begitu.”&lt;br /&gt;“Tidak  Fandi……!” Celetuk ibunya. “Ibu hanya ragu untuk mengatakan sesuatu  padamu,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Dengan cepat Fandi menyela ucapan ibunya sambil  mencium tangannya. “Cepat bu, katakanlah! Fandi sudah lama sekali  menunggu jawaban ini. Rasanya Fandi sudah tak sabar mendengarnya.  Masalah ayahkan bu? Sekarang begini saja,  dari pada ibu sulit untuk  membukanya, biarlah Fandi yang mewakili perasaan ibu.&lt;br /&gt;Mudah-mudahan  ibu dapat menerima apa yang akan Fandi katakan. Sebab Fandi sudah  mengetahui apa yang telah menimpa keluarga kita. Bukankah ayah itu  seorang pemuja bu? Susi dan Yani telah dijadikan tumbal oleh ayah. Kini  giliran Fandi dan ibu yang saat ini tengah diincar ayah. &lt;br /&gt;Ketakutan  inilah yang membuat ibu sering sakit. Sebenarnya Fandipun seperti ibu.  Tetapi apakah kita akan tinggal diam bu? Apakah kita tidak secepatnya  minta pertolongan. Biarlah kita pergi diam.-diam selagi masih ada  kesempatan dan belum terlambat,” jelas Fandi panjang lebar. &lt;br /&gt;Betapa  terkejutnya Fitri mendengar ungkapan Fandi. Ia tidak menyangka anak  sulungnya telah mengetahui ayahnya seorang pemuja. Fitri segera memeluk  Fandi sampai bercucuran air mata. Fitri menumpahkan semua jeritan batin  yang selama ini menghimpit dadanya. &lt;br /&gt;Sementara itu Fandi terlihat  sangat lega karena ibunya sudah menerima semua kalimat yang  diucapkannya. Keberadaan ayahnya sebagai seorang pemuja setan, telah  terungkap. Dengan bersimbah air mata, Fitri melepaskan pelukannya.  Perlahan ia mengusap kedua matanya lalu kembali menatap wajah Fandi  dengan sayu.&lt;br /&gt;“Semua yang kau katakan adalah benar Fandi. Masalah  inilah yang selalu mengganggu pikiran ibu. Saranmu akan ibu turuti, dari  pada kau dan ibu dijadikan korban oleh ayahmu!” Jawab Fitri.&lt;br /&gt;“Mari  kita pulang Fandi. Takut ayahmu pulang lebih awal dari biasanya,” ajak  Fitri pada anaknya. &lt;br /&gt;Fandi mengangguk sambil bergegas melangkahkan  kakinya menuju mobil. Sementara Fitri mengikutinya dari belakang. Tanpa  banyak bicara, Fandi langsung menstater mobil dan segera meluncur  pulang.&lt;br /&gt;Sampai di rumah, Fitri menerobos masuk ke dalam rumah dan  langsung berganti pakaian. Setelah itu ia segera beristirahat untuk  meninggalkan jejak bahwa dirinya pulang dari bepergian. Sedangkan Fandi  duduk di kursi tamu sambil membaca koran. Dalam hatinya berkecamuk  rencana yang telah disepakati dengan ibunya. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian  Sasmito ayah Fandi tiba. Mendengar suara suaminya, Fitri pura-pura  tidur. Sementara itu Fandi merasa bersyukur karena ayahnya tidak  mengetahui bahwa ibu dan dia pulang dari perkebunan.&lt;br /&gt;Malam nampak  cerah, purnama bersinar terang. Tapi Fandi dicekam ketakutan menyaksikan  purnama itu. Hatinya begitu gelisah. Siapakah yang akan dijadikan  tumbal oleh ayahnya pada Purnama ini? Keringat Fandi mengucur deras  membasahi kemeja yang ia kenakan. Ia beranjak dari ranjangnya, Fandi  mengkhawatirkan keadaan ibunya. Perasaannya gelisah seperti akan terjadi  sesuatu pada ibunya. Fandi bergegas mendatangi kamar tidur ibunya dan  langsung mengetuk pintu kamar.&lt;br /&gt;“Bu, bu……! Ini Fandi bu! Tolong  bukakan pintunya bu. Fandi mau bicara. Apakah ibu tidak sholat Isya’  dulu?” &lt;br /&gt;Lama Fandi menunggu, tapi tak satupun pertanyaan dijawab.  Akhirnya ia mengintip melalui lubang kunci. Tiba-tiba Fandi berteriak  nyaring memanggil ayahnya.&lt;br /&gt;“Ayah…..! Ayah…..! Tolong ibu ayah!”  Teriak Fandi.&lt;br /&gt;Sasmito menghampiri Fandi sambil bertanya, “Ada apa  Fandi? Kenapa dengan ibumu?” &lt;br /&gt;“Lihat ayah! Pintu kamar ini terkunci  dari dalam. Saat Fandi memanggil-manggil ibu, ia tak menyahut.  Sepertinya ibu sedang sakit ayah.”&lt;br /&gt;Sasmito nampak panik. Ia segera  mendobrak pintu tersebut bersama Fandi lalu berlari masuk ke dalam  kamar. Fandi bersama ayahnya langsung menghampiri ranjang melihat Fitri  tergolek lemah di atasnya. Dan, semua teriakan tak satupun didengar  Fitri. &lt;br /&gt;“Fitri, bangun Fitri! Ada apa denganmu Fitri!” Sasmito dan  Fandi menangis sambil menjerit-jerit.&lt;br /&gt;“Fitri jangan tinggalkan aku  Fitri. Aku tidak sanggup hidup tanpa kau disisiku!” Sasmito terus  berteriak sambil memeluk tubuh istrinya. &lt;br /&gt;“Fandi…..! Ibumu sudah  tiada. Ibu sudah menghadap Tuhan. Ini memang salah ayah Fandi. Maafkan  ayah.”&lt;br /&gt;Sasmito berbicara sambil meratap, ratapan yang sangat  memilukan. Ia menangis bagai bayi yang baru lahir. Hatinya hancur atas  kepergiaan Fitri yang telah dijadikan tumbal olehnya. Isak tangis  Sasmito terdengar sangat mengharukan. Tapi Fandi merasa muak dengan  sikap ayahnya. &lt;br /&gt;Mendadak Fandi marah, ia sudah sekian lama memendam  kebencian terhadap ayahnya. Kebencian itu muncul akibat perlakukan  ayahnya yang tega menjadikan kedua adiknya sebagai tumbal. Apalagi kini  ibunya tewas menyusul kedua adiknya. Ibunya telah menjadi korban atas  pemujaan ayahnya.&lt;br /&gt;“Ayah benar-benar tega berbuat seperti ini. Kenapa  ayah lakukan pada kami? Kami butuh kebahagiaan. Kami tidak butuh harta!  Beginilah jika ayah tidak percaya dengan adanya Tuhan!”&lt;br /&gt;Makian Fandi  yang terdengar mengutuk, terlalu pedas bagi Sasmito. Namun Sasmito tidak  sedikitpun membalas makian anak sulungnya itu. Sasmito menyadari semua  kesalahannya. Akhirnya Fandi keluar dari kamar dan segara memanggil para  tetangga untuk memberitahukan kematian ibunya. Usai itu Fandi kembali  ke kamar menemui jenazah ibunya.&lt;br /&gt;Tubuh Fitri terbujur kaku, tergolek  di atas ranjang didampingi Sasmito. Wajahnya tampak pucat dan keriput di  wajahnya semakin nampak jelas. Beberapa orang tetangganya berdatangan  untuk melayat. Sasmito terlihat shock, ia hanya termenung saat melihat  tubuh istrinya dibopong keluar untuk dimandikan. Sementara itu Fandi  mengiringnya dari belakang sambil melihat sebuah tanda yang sudah ia  kenal. Tanda yang menyebabkan kematian ibunya. &lt;br /&gt;Esok harinya, setelah  Fitri dimandikan jasadnya segera dimakamkan. Fandi, Sasmito dan seluruh  warga menghantarkan jasad Fitri hingga ke pemakaman. Derai air mata  Fandi dan Sasmito mengiringi kepergian Fitri hingga masuk ke liang  kubur.&lt;br /&gt;Selesai pemakaman, Fandi nampak shock dan frustasi. Semangat  hidupnya kini sudah tiada lagi. Satu demi satu orang-orang yang  dicintainya telah pergi meninggalkannya. Untuk apalagi dirinya bertahan  hidup. Mungkin hanya untuk menunggu gilirannya dijadikan tumbal.&lt;br /&gt;Kegundahan  hati Fandi yang terlihat nyata dapat dipahami Sasmito. Perlahan-lahan  Sasmito mendekati Fandi dan memeluknya sambil berkata, “Kau akan kemana  Fandi? Apa kamu akan pergi meninggalkan ayah? Ayah mengakui kesalahan  ayah membuat ibu dan kedua adikmu pergi. Tapi tolong dengar kata-kata  ayah. Pada waktu itu ayah tergoda oleh harta. Tapi semua itu ayah  lakukan demi kehormatan keluarga kita yang selalu dihina karena hidup  dalam kemiskinan. Ayah sungguh khilaf waktu itu dan tidak berpikir  panjang. Sekarang tolong bantu ayah untuk menyelamatkan ayah. Ayah tak  ingin kaupun dijadikan tumbal bagi Raja Siluman itu. Kau harus selamat,  biarlah ayah sendiri yang menanggung akibatnya.”&lt;br /&gt;Hati Fandi terketuk  juga oleh kata-kata ayahnya. Walau ayahnya telah salah mengambil jalan,  ia tetap ayah kandungnya. Fandipun segera keluar dari rumah tanpa mau  disertai ayahnya. Fandi akan berusaha mencari solusi yang bisa  melindungi dirinya dan menyelamatkan nyawanya. Dengan berat hati dan  perasaan tak kauran Fandi melangkahkan kakinya menembus udara bebas  sambil terus berharap semoga nyawanya dapat terbebas dari cengkeraman  Ratu Pemilik Harta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-5793710255802683950?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/5793710255802683950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/5793710255802683950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2010/12/ciri-ciri-tumbal-pesugihan.html' title='CIRI-CIRI TUMBAL PESUGIHAN'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-8793240879525193443</id><published>2010-12-16T16:02:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:26:13.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia misteri'/><title type='text'>KAROMAH AYAT KURSI</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://q-bonk.com/wp-content/uploads/2010/04/hubble_j-tm.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="153" src="http://q-bonk.com/wp-content/uploads/2010/04/hubble_j-tm.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BapakKiai&amp;nbsp; Bercerita tentang karomah ayat kursy, tentunya pembaca sekalian  sedikitnya sudah mengenal lewat ulasan terdahulu yang memuat tentang doa  dan segala, juga tentang keakuratan makna tawassul dan faedah yang  terkandung di dalam ayat Kursy sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini Penulis akan mengulas lebih dalam lagi salah satu doa ayat Kursy  yang bersumber dari bangsa Malaikat. Tentunya ulasan ini akan menjadi  suatu faedah untuk pembaca sekalian, sebab doa ini akan membawa manfaat  dunia akherat bagi si Pengamal, khususnya bagi yang suka istikomah.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah Rincian khususiah dari Al Mukarrom Al Magfurulloh Mindarojatil  atmaniah Bihudurizzaman, yang di ijazahkan langsung oleh hawatif Mbah  Kuwu Cakra Buana, dan beliau mengijazahkannya pula pada 40- santrinya,  termasuk salah satunya adalah Penulis sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah kisah doa yang diambil dari makna ayat Kursy, yang didalamnya  sarat manfaat dan faedah, doa ini para ahlulkhosois menamakannya dengan  sebutan “Hizib ayatul Kursy/ Hizib Kandayas. Yang mana hizib ini  didalamnya telah dijaga oleh khodam bangsa Malaikat bernama, Hailan,  Jaulan dan Malakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" class="mceWPmore mceItemNoResize" src="http://mystys.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" title="Selebihnya..." /&gt;Dari  salah satu hizib yang diunggulkan, doa ayat kursy, sangat terkenal  manfaatnya sebagai wasilah penghancur jin hitam, namun tentunya doa ini  juga sarat manfaat yang akan Penulis&amp;nbsp; bedarkan nanti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, untuk lebih jelasnya Penulis akan tuliskan terlebih dahulu doa  hizib ayat Kursy, inilah bacaanya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“ Bismillahirrohmanirrohiim. Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, wassolatu  wassalamu ‘Ala saiyidina Muhammadin Wa’ala alihi wasohbihi wasallam.  Allohumma inni as aluka wa atawussalu ilaka (ya Alloh 3x) ( ya Rohman  3x) (ya Rokhim 3x) ( Yah 3x) (ya Robbah 3x) (ya Saedah 3x) (ya Hu 3x) ya  ghoiyani ‘innda syiddati ya anisi ‘inda wahdati ya mujibi ‘inda da’wati  (ya Alloh 3x) (Allohulaa ilaha illa hual khaeyul Qoyyum) ya khaeyu ya  qoyyumu ya man takumus samawatu wal ardu bi’amrihi ya jami’al makhlukoti  tahta luthfihi wakohrihi, as’aluka Allohumma antusakkhiroli ruhaniyati  hadidzil ayatis syarifah. Watu’inuni ‘ala qodo’i hawaiji. Yaman  (Lata’khuduhu sinatuwwala naum) Ihdina ilal hakki waila thorikil  mustaqim. Hatta ‘astari’a minal laumi lailaha illa anta subhanaka inni  kuntu minaddzolimin. Yaman (Lahuu maafissamaawaati wamaa fil Ardi  mandzalladzi yasyfa’u ‘indahu illa biidznih) Allohumma ‘Isfa’li wa  arsyidni fima uridu min qodo’i hawaiji. Yaman ( Ya’ lamu maa baena  aediihim wamaa kholfahum walaa yukhituuna bisyaeim min ‘ilmih) Yaman  ya’lamu dhomiro ‘ibadihi sirron wajahron, ‘As aluka Allohumma  antusyakkhiroli ruhaniyati hadzihil ayatil ‘adzimah, wadda’watil  munifati yakunu nanli ‘aunan ‘ala qodo’I hawaiji (Haelan 3x) (Jaulan 3x)  ( Malakan 3x) Yaman layatasorrof fimulkihi (Illa bimaasyaa’ Wasi’a  Kursiyyuhussamaawaati wal ard) Syakkhirli ‘abdaka kandayas, hatta  yukallimani fi hali yaqodoti wayu’inuni fi jami’I hawaiji. Yaman ( Walaa  Yauuduhu Khifduhumaa Wahual ‘Aliyyul ‘Adziim) Ya khamidu ya majidu ya  ba’itsu ya syahidu ya hakku ya wakilu ya qowiyyu ya matiin. Kunli ‘Aunan  ‘ala qodo’i hawaiji. Bialfi alfi Lahaula wala kuwwata illa billahil  ‘aliyyil ‘adziim. Syakkhirli abdaka kandayasi ahbibni anta wakhoddamuka  wa’ainuni fijami’i umuri bihakki maata’takidunahu minal adzomatii  walkibriaya’ wabisaiyidina alaihis solatu wassalam, walhamdu lillahi  robbil ‘alamin.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seiring keterbatasan yang ada, Penulis hanya bisa menuliskan 15-  manfaat doa hizib ayat Kursy diantaranya sebagai berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;SARANA PENDERES REJEKI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bacalah hizib ayat kursy sehabis sholat fardhu sebanyak 7x, secara  istikomah, niscaya Alloh akan menurunkan rejekiya hingga tujuh turunan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;DITAKUTI GOLONGAN JIN HITAM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah kekuatan dahsyat akan datang ketubuh anda apabila mau menebus  hizib ayat Kursy, dengan cara berpuasa 7 hari mutih. Cara ini akan  membawa anda ditakuti bahkan sekaligus bisa menghancurkan bangsa jin  hitam apabila dalam melaksanakan puasa ini disertai dengan istikomah  membaca hizib ayat Kursy disetiap pukul 23WIB, sebanyak 11x, semasa  puasa berlangsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;SARANA PENYEMBUHAN ORANG KESURUPAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila disekililing kita ada orang kesurupan, bacalah hizib ini 1x, sambil  telapak tangan kanan kita ditempelkan kejidat orang kesurupan tersebut,  niscaya dengan ijin alloh, orang tadi akan segera sadar. Tapi bila cara  ini masih dianggap sulit, cukup anda baca hizib ini 1x, diatas air  mineral/ aqua, dan sesudahnya usapkan air tadi kewajah si sakit, fainsya  Alloh dengan hitungan detik, orang tadi akan pulih ingatannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;PAGAR RUMAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapkan kembang setaman dan masukkan dalam satu wadah, masukkan pula air  mineral secukupnya dan bacakan hizib ayat Kursy sebanyak 5x, taburkan  kembang beserta air tadi kesekeliling rumah (memutar) niscaya dengan  cara seperti ini, Malaikat Malakan, akan mengutus seluruh abdul jumud  dan lainnya untuk terus menjaga rumah anda dari gangguan yang bersifat  marabahaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;TAMENG BADAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi yang ingin badanya dijauhkan dari serangan ilmu hitam dan  sejenisnya, siapkan satu gelas air putih dan bacakan hizib ayat Kursi  sebanyak 3x, minumlah air ritual tadi dengan dimulai membaca”  Bismilllahi allohu akbar 3x” Dengan cara seperti ini, Malaikat Jaulan  akan terus mendampingi keselamatan badan kita hingga ajal menjemput.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;KESELAMATAN BEPERGIAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bacalah hizib ayat Kursy- 1x, disaat akan bepergian jauh, niscaya Alloh  akan menjaga keselamatan anda hingga pulang kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;7.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;SARANA PENAKLUK&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila anda ingin nyaman dalam menghadapi seseorang, bacalah hizib ayat  Kursy 1x, sebelum menemuinya, niscaya Malaikat Haelan akan menjaga anda  dari amukan, amarah maupun emosi dari orang yang dituju. Cara ini bisa  juga anda praktekkan saat menghadapi penagih hutang dan lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;8.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;MENETRALISIR GANGGUAN PADA BAYI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentunya kita sering melihat bayi menangis tiada henti dan orang tua  bilang, bayi ini sedang diganggu oleh sebangsa makhluk tak kasat mata,  disini kita tidak usah panik, siapkan segelas air putih dan bacakan  hizib ayat Kursy 1x, lalu cipratkanlah air tadi disekeliling tempat  bayi, coba anda perhatikan selanjutnya, bayi tadi akan tertidur pulas  dan tidak akan diganggu kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;9. MEMBAKAR JIN HITAM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila kita atau keluarga sering diganggu oleh sebangsa makhluk tak kasat  mata, coba anda berani sedikit untuk melawannya. Caranya, ambil tanah  secukupnya dan bacakan hizib ayat Kursy sebanyak 3x, lalu taburkan tanah  tadi keberapa penjuru yang dianggap wingit atau dirasa ada jin  hitamnya, coba perhatikan bila jin tersebut sampai kena, bersitan api  akan terus berkelebat kesana kemari yang menandakkan jin tadi hangus  terbakar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;10. SARANA URUT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila anda berprofesi sebagai tukang urut, ini sangat bermanfaat sekali  untuk anda&amp;nbsp; ketahui, sebelum anda melaksanakan pengurutan kepada salah  satu pasien, tentunya anda sudah mempersiapkan sejenis minyak urut,  bacakanlah minyak urut tadi dengan hizib ayat Kursy 1x, niscaya apapun  penyakit yang diderita oleh pasien tadi akan mudah teratasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;11. INGIN MENANG ARISAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Arisan adalah salah satu hobbi para ibu yang suka keluar rumah, namun  sebagai kebutuhan pokok yang terkadang kian membelenggu kehidupannya,  arisan acapkali dinanti kemunculannya, terkadang disini kita harus  kecewa karena yang keluar bukan nama kita melainkan orang lain. Nah,  untuk bisa memenangkan arisan ini Misteri punya satu cara yang diambil  dari salah satu manfaat ayat kursy, dan cara ini sangat mudah kita  lakukan yaitu dengan membaca ayat didepan dari hizib ini ” &lt;i&gt;Ya  Alloh3x, Ya Rohman3x, Ya Rohim3x, Yah 3x, Ya Robbah 3x, Ya Saidah 3x, Ya  Hu 3x&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; caranya cukup dibaca 1x sebelum arisan dimulai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;12. KUAT SEX&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapapun orangnya, tentunya semua ingin membahagiakan istri tercintanya,  namun tidak semua pria bertahan lama dalam hal yang satu ini, banyak  diantara saudara kita yang hilang kepercayaan karena impotent/ mani  encer. Disini anda gak usah bersedih hati, siapkan satu gelas air putih  dan bacakan hizib ayat kursy 1x, minumlah setengah dari air ritual tadi  dan setengahnya lagi siramkan keseluruh penis anda, coba lakukan cara  ini, anda akan semakin kuat dalam tugas mulia membahagiakan istri  tercinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;13. PENGHILANG ILMU PELET&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak diantara saudara kita yang gila akibat ganasnya teluh ilmu pelet,  dan untuk menghilangkan pengaruh ilmu ini, coba anda ikuti cara sebagai  berikut. Siapkan 3- buah pinang dan ambil isinya saja, parut hingga  lembut dan bacakan hizib ayat Kursy sebanyak 2x, balurkan parutan buah  pinang tadi keseluruh badan orang yang terkena ilmu pelet, niscaya satu  jam kemudian orang tadi akan pulih dari pengaruh yang membelenggu  pikirannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;14. MEMBUKA AURA DARI SIFAT SENGKOLO&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi anda yang merasa sulit jodoh, badan apes, rejeki terasa sumbat dan  mudah emosional, waspadalah ini semua gejala dari sifat sengkolo badan.  Nah, lambat laun sifat ini akan terus mengakar hingga menjadikan hidup  anda bagaikan kurang berarti, dijauhi masyarakat dan tentunya kurang PD.  Gunakanlah cara sebagai berikut. Carilah air zam zam 1- ltr, dan  bacakan amalan hizib ayat Kursy 3x banyaknya, campurkan air zam zam tadi  dengan air biasa, lalu mandilah, insya Alloh badan anda akan merasakan  enteng dan seterusnya anda akan mudah dalam membawa sikap yang bijak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;15. WASILAH SELAMAT DUNIA AKHERAT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk yang gemar beribadah dan zuhud kepada Alloh SWT, hizib ayat Kursy  akan mengantar anda menjadi seorang Khusnul khotimah dan mendapat  syafaat Rosululloh SAW, di yaumul Qiamah nanti, apabila dalam hidup anda  mengistikomahkan hizib ayat kursy 5x dalam sehari semalam dibaca secara  istikomah hingga ajal menjemput kita, maka semua isi alam akan  menjemput jasad kita dan mengiringi ruh kita menuju surga lapis tiga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga dengan pembedaran hizib ayat Kuursy yang sarat akan manfaat,  menjadikan hati kita tergugah untuk mengabdi kepada Al Halik, lewat  kezuhudan dan menjalankan segala perintahnya. Semoga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber// www.majalah misteri.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-8793240879525193443?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8793240879525193443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8793240879525193443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2010/12/karomah-ayat-kursi.html' title='KAROMAH AYAT KURSI'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-3983552509001336377</id><published>2010-12-03T20:12:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:26:55.539+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Kesaksian Peminjam bank Gaib 2</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_06GTvkqdgkQ/TAYU1rmG6pI/AAAAAAAAACQ/k6nAZig4ORs/s320/peluang_bisnis_online_100_masuk_akal_nggak_muluk_muluk_iklanads.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="191" src="http://1.bp.blogspot.com/_06GTvkqdgkQ/TAYU1rmG6pI/AAAAAAAAACQ/k6nAZig4ORs/s200/peluang_bisnis_online_100_masuk_akal_nggak_muluk_muluk_iklanads.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bank Ghoib merupakan salah satu wahana  pesugihan yang paling banyak dicari oleh orang-orang yg ingin cepat kaya  dengan jalan pintas. jenis pesugihan ini tergolong sangat mudah untuk  memilikinya, yaitu cukup dengan memiliki meminjam ghoib berasal dari  alam ghoib yang dapat menghasilkan uang yg jumlahnya  mencapai Milyaran rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;jika ingin mengajukan permintaan uang  dibank ghoib,syaratnya cukup mudah.sarana yang harus disediakan oleh  pelaku pesugihan adalah menyediakan minyak untuk ditumbalkan melalui upacara ritual yg dilakukan oleh  paranormal khusus yg mumpuni. Konon, hanya Ki Hadi paranormal yg  menguasai khodam bank ghoib, artinya hanya kepada beliau anda bisa  meminta pertolongan untuk mendapatkan kekayaan yg melimpah ruah  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang disebut sebagai Bank Ghoib  memang sangat berbeda dengan pesugihan jenis lainnya. pelaku bisa  langsung mendapatkan uang tunai dalam jumlah milyaran rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bank Ghoib persisnya berupa pepunden  yang sudah sangat kuno. Jika dilihat dari fisiknya, tempat pesugihan  ini&amp;nbsp; berbentuk sebuah makan keramat tua&amp;nbsp; angker yg berusia ribuan tahun.atau bahkan bisa langsung dirumah .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut informasi yang berhasil dihimpun  majalah Supranatural, Bank Ghoib ini sudah banyak memiliki nasabah yang  tersebar di berbagai tempat di indonesia,. Konon, mereka yang berhasil  melakukan peminjaman uang bisa mendapatkan uang dalam jumlah amat besar  mencapai milyaran rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ini bukan dongeng, Mas..! saya sudah  membuktikannya. saya dapat pinjaman uang tiga milyar lebih, dan sekarang  sudah memiliki show room mobil. Makanya saya minta pertolongan dengan  ki jitu kata Sadiman, salah seorang yang berhasil memiliki bank ghoib  tanpa ragu dan malu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika ditanya apakah dia tidak takut  dengan akibatnya di kelak kemudian hari, maka jawabnya,” apa yg mesti  ditakutkan mas… Bank ghoib ini tidak minta tumbal nyawa.., kita hanya  diharuskan rutin&amp;nbsp; memberikan sumbangan kepada anak - anak yatim piatu agar  pesugihan ini terus menghasilkan uang sampai dengan jumlah yang  dibutuhkan.&lt;/div&gt;sekarang saya sudah kaya raya. Capek jadi kere terus-terusan. Saya  juga ingin membahagiakan anak dan isteri.kata salah seorang sumber yang tidak mau disebut namanya (Red)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;memang banyak orang-orang yang  menggunakan berbagai cara agar bisa kaya raya seperti Saya. Apalagi  di tengah situasi zaman yang serba sulit seperti sekarang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;UANG TUNAI LANGSUNG DIDAPAT DIDAPAT&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut keterangan Ki Hadi, untuk  mendapatkan pesugihan ini, pelaku hanya cukup menyiapkan uang sebagai  mahar/mas kawin sebesar 15 juta rupiah untuk pelaku pesugihan yg sekedar  meminta uang ghoib&amp;nbsp; sebesar 1 milyard &amp;amp; mas kawin sebesar 20 juta  bagi pelaku yg meminta uang ghoib sebesar 2 milyard, permintaan uang  ghoib paling banyak bisa dikabulkan dalam jumlah 30 Milyard,uang  mahar/mas kawin tersebut sebagai sesaji yang harus dipenuhi oleh pelaku  untuk membeli alat ritual, minyak jafaron,foniswalla, apel jin,  kembang setaman, kemenyan atau yosua, nasi tumpeng,  serta perlengkapan ritual lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah semua sesaji lengkap, Ki Hadi  akan melakukan ritual.dan ritual ini harus dilakukan Setiap saat tapi.  Akan lebih afdol, jika ritual dilakukan pada malam Jum’at yang keramat,  yakni malam Jum’at Legi atau Kliwon.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Syarat-syaratnya harus dipenuhi. Tidak  boleh lebih, tidak boleh kurang. Kalau kurang, pasti tidak akan ada  respon dari pemilik bank ghoib di alam sana,” tuturnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila semua persyaratan sudah dilengkapi,  Ki Hadi akan melakukan ritual. pelaku cukup menunggu perintah dari&amp;nbsp; untuk melaksankan syarat-syarat yg diminta oleh penguasa  ghoib,setelah syarat-syarat telah dilaksanakan oleh sipelaku &amp;amp;  proses ritual selesai, dalam 1hari ,dan Ki Hadi akan memberikan&amp;nbsp; hasil semuanya kepada si peminjam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jika sesaji yang dipersembahkan  diterima oleh sang penguasa ghoib, maka goib akan mengajukan  syarat-syarat/perjanjian yang mesti dipenuhi/dilaksanakan oleh orang yg  mengajukan permintaan uang goib,apabila syarat-syarat&amp;nbsp; sudah  dilaksanakan dengan sempurna,maka penguasa ghoib akan memberikan uang tunai dengan jumlah uang yang dipinta terpenuhi” tandasnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih lanjut dijelaskan olehnya, di Bank  ghoib, permintaan di bank goib baru bisa dipenuhi asal alasannya jelas  &amp;amp; mendesak, misalnya pelaku betul-betul kepepet karena ditagih utang  dan harus segera membayar,rumah mau disita karena menunggak di  bank,keluarga yang sakit parah tetapi tidak ada biaya untuk  berobat,biaya sekolah anak,biaya pernikahan, serta kebutuhan yang memang  harus segera diselesaikan tetapi sudah tidak ada lagi jalan keluar  lain,ini tanpa tumbal apapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau berbohong, jangan harap akan  diberi. Malahan bisa saja dia celaka!” Tandas ki Hadi“ jadi pelaku  dapat meminta uang sesuai dengan kebutuhan &amp;amp; keinginannya. Masalah  jumlah pencairannya, bank ghoib akan mencairkan semuanya dilokasi dan bukan&amp;nbsp; dikirim. kerumah&amp;nbsp; pelaku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika lebih lanjut ditanyakan tentang  orang-orang yang telah sukses dengan bank ghoib , ki Hadidengan  blak-blakan mengatakan sudah ratusan orang yang berhasil dan menyebut  beberapa nama. Di antaranya, Margono warga Bodak, Purwodadi, Jawa  Tengah, Adji Saputro dari Jakarta serta seorang berinisial SHB yang  menurut ki Hadi, berprofesi sebagai wartawan di Jakarta.&lt;/div&gt;“Itu hanya sebagian yang saya sebutkan. Yang jelas, banyak sekali  yang sukses. ada juga wartawan. Tapi jangan tersinggung lho, Mas!” Tutur  ki jitu dengan nada setengah bercanda.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih menurut cerita, walau beliau  sering didatangi para pencari pesugihan yang menginginkan uang tunai,  baik itu yang pinjam milyaran rupiah maupun yang diberi secara  cuma-cuma, tapi dana yang bersedia di Bank Gaib , takkan habis.  Pasalnya, menurutnya, tersedia uang tunai sebanyak tiga ratus kontainer  besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hingga kini, yang dibuka baru satu  kontainer. Itupun belum ada seper sepuluh dari isi container itu yang  telah dipinjamkan kepada para nasabah,” tandas ki Hadi yang mengaku bisa  melihat keberadaan uang tersebut dengan kekuatan mata batinnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan, menurutnya lagi, di bank gaib  tersebut juga ada sistem seperti juga layaknya ada sistem administrasi  yang berlaku di sebuah bank di alam manusia.“Bank ghoib itu juga punya  karyawan, mereka inilah yang mendata jumlah&amp;nbsp; nasabah yang meminta,”  cerita nya juga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti halnya tempat pesugihan lain,  pesugihan Bank Gaib juga meminta tumbal. Namun menurut ki Hadi, penguasa  ghoib tidak mau diberi tumbal nyawa orang, tumbalnya cukup amal&amp;nbsp; kepada anak yatim piatu guna .hanya itu saja persyaratannya, dan  tidak ada tumbal lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika pesugihan lain biasanya pelaku akan  menjadi abdi sang penguasa gaib sebelum takdirnya tiba, tapi tidak  demikian dengan pesugihan bank ghoib. Menurut ki Hadi, pelaku pesugihan  ini diharuskan mengembalikan pinjaman kepada bank ghoib,tetapi  hanya diwajibkan untuk melakukan ritual-ritual penganti,&amp;nbsp; serta berpantang makanan tertentu,bersedekah dengan orang yg telah  ditentukan goib serta memberikan tumbal kambing hitam,putih kepada  pengusa ghoib, apabila pelaku lalai melakukan kewajibannya &amp;amp; lalai  memberikan tumbal, maka uang,harta benda akan lenyap dalam sekejap  mata.tetapi apabila rutin melakukan ritual serta rutin mempersembahkan  tumbal, maka harta akan terus bertambah menjadi banyak &amp;amp; melimpah  ruah sampai dengan jumlah yang di inginkan pelaku terpenuhi,jika sudah  terpenuhi semua kebutuhan,sebaiknya perjanjian&amp;nbsp; dengan pemilik bank goib  segera di akhiri dengan melakukan ritual pamungkas putus kontrak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila pelaku ingin terima jadi, Ki Hadi juga siap membantu ritual permintaan uang goib sampai tuntas,  tetapi pelaku tetap diharuskan untuk melakukan/melaksanakan,  syarat-syarat yang di pinta penguasa goib,apabila semua syarat telah  pelaku kerjakan /laksanakan dengan baik,artinya permintaan uang goib  telah disetujui, maka Ki jitu akan mengirimkan kotak goib hasil ritual  kerumah pelaku,selanjutnya pelaku tinggal merawat uang hasil gaib tsb  &amp;amp; melakukan ritual sesuai dengan petunjuk yang diberikan ki Hadi,  jika pelaku tidak ada waktu untuk ketempat pratek ki Hadi, ritual  permintaan uang goib tidak bisa dilakukan dengan di wakilkan kepada kiHadi ,pelaku Harus datang ke tempat pratek ki Hadi, hasilnya sama  saja, pelaku cukup membayar uang mahar setelah  uang diterima,ki Hadi akan membeli alat-alat ritual uang melakukan  ritual permintaan uang goib.dan kalau sampe tidak ada hasilnya ki hadi siap mengganti semua nya.tapi kalo ada hasil dan peminjam tidak mau mengambil hasilnya, uang untuk membeli alat ritual tidak dikembalikan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-3983552509001336377?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3983552509001336377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/3983552509001336377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2010/12/kesaksian-peminjam-bank-gaib-2.html' title='Kesaksian Peminjam bank Gaib 2'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_06GTvkqdgkQ/TAYU1rmG6pI/AAAAAAAAACQ/k6nAZig4ORs/s72-c/peluang_bisnis_online_100_masuk_akal_nggak_muluk_muluk_iklanads.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-8515242699531026677</id><published>2010-12-01T08:05:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:27:38.140+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Asal Usul Bank Gaib II</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_R-gDwkuWbvA/SsZd_wcCbiI/AAAAAAAAAFE/tV20x4mJg4w/s320/tumpukan+uang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_R-gDwkuWbvA/SsZd_wcCbiI/AAAAAAAAAFE/tV20x4mJg4w/s320/tumpukan+uang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Hingga  saat ini masih menjadi perdebatan mengenai asal usul dana ghaib. Namun  secara umum ada dua pendapat. Yakni, harta karun dari jin jahat (setan).  Cara mendapatkan dengan cara mencuri dari manusia. Dan dari jin baik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span id="more-21"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Keadaan  alam ghaib seperti dengan alam manusia. Lengkap dengan pasar, jalan  dsb. Tapi disana lebih indah. Entah sungguhan, atau rekayasa jin agar  dapat mempengaruhi manusia. Mereka juga punya mata uang sendiri. Juga  emas dan berlian. Disana jumlahnya lebih banyak. Namun sebagian berasal  dari bumi manusia. &lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;Karena harta yang terpendam memang akan di kuasai  jin. Karena &lt;b&gt;&lt;i&gt;jin adalah partikel yang tidak setabil. Sehingga mereka mencari “sesuatu” yang dapat membantu kesetabilan.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  Karena dengan kesetabilan, mereka dapat lebih eksis dg kekuatan yg  dimiliki. Disinilah hubungan mahluk ghaib dg benda-benda mulia. Secara  alamiah, benda mulia adalah benda yg memiliki akatan atom yg stabil,  satu benda mulia, akan dpt menarik ribuan mahluk halus disekitarnya.  Seperti manusia, mereka akan membentuk komunitas bila mana disekitarnya  terdapat sumber air.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Berbeda  dengan benda keramat seperti keris, akik, atau lainya. Mahluk yang  bersamanya lebih sedikit. Bahkan terkadang harus melakukuan ritual  pemanggilan khusus untuk menstabilkanya. Akibatnya, benda keramat /  sakti relatif lebih mudah ditarik dari pada logam mulia. (Emas, intan,  permata).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;AWAS PENIPUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Mengapa  paranormal yang mengaku bisa mendapatkan dana ghaib dari bang ghaib  tidak memngambilnya sendiri untuk keperluanya sendiri. Jawabnya sedikit  klise, yaitu karena dana tersebut hanya diperuntukan bagi yang  benar-benar memenuhi persyaratan atau yang berhak saja. Jadi sesakti  apapun, tidak akan berhasil kalau mmemang Tuhan menilai bahwa paranormal  tersebut tidak berhak mendapatkanya. Jadi paranormal hanya sebagai  perantara untuk memberikan ritual. Memohon rejeki ghaib tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Namun  akibat dari jawaban tersebut, banyak para normal atau yang berpura-pura  menjadi paranormal memanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan  cara berpura-pura memiliki khodam yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan  pengambilan dana ghaib. Karena memanggil khodam membuhtuhkan ubarampe,  nah uba rampenya inilah yang sangat mencenangkan. Misalnya membeli  minyak atau uang sebagai pemancing. Dan biasanya paranormal akan  mengatakan’Semakin banyak uang pemikat, semakin banyak pula hasil yang  diperoleh’&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kalo  toh dana itu bisa keluar, apakah benar dana itu dari Bank Gaib? Bisa  benar bisa tidak. Namun prosentase salah lebih besar dari kebenaranya.  Karena biasanya dana itu keluar dari dana yang dikumpulkan pasien baru,  dan diberikan ke pasien lama. Biasanya adalah yang sering kena tipu  adalah orang yang tamak. Karena orang ini selalu memimpikan kaya  mendadak tanpa usaha keras.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dana  Ghaib dari bank ghaib adalah dana yang didapatkan dari suatu alam yang  dihuni mahluk ghaib. Meski derajatnya tidak sama dengan kemulyaan  manusia, namun mahluk ghaib ini-Bangsa Jin- diberi oleh Tuhan kekayaan  yang berlimpah-limpah. Diantara Jin tersebut ada jin jahat yang memberi  berupa pesugihan, dan jin baik yang memberi dana tidak hitam, meski  tiadak seratus persen putih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Jika  yang dihubungi adalah jin baik namun salah ritual, bisa-bisa yang  datang adalah jin jahat yang akan memberinya dana hitam. Untuk  mengetahui apakah jin itu jahat atau baik, cara yang paling mudah adalah  dengan membaca surat Al Jin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Siapapun  bisa melakukan pemanggilan Jin. Namun apakah orang tersebut, mempunyai  jantung yang kuat, ketika menyaksikan penampakan Jin. Sebab kemunculan  Jin ini tidak bisa di duga. Demikian bentuknya, tidak bisa di prediksi.  Bisa jelek, seram, sangat menyerampan, bagus atau sangat bagus. Dan  untuk pemanggilanya dapat setiap saat dilakuakn tanpa ada waktu  tertentu. Namun bagi orang awam, minimal harus menguasai ilmu  terawangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;Contoh Jin&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt; &lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Jin  Hadirin.  Kemunculan Jin ini, biasanya diawali dengan datangnya angin  yang  bertiup berputar-putar kemudian terkumpul dan membentuk mahluk  kecil  yang berlahan-lahan menjadi besar dan kemudian memperkenalkan  dirinya  sebagai jin. Cirinya: muka kasar, besar, agak persegi.  Rambut pendek,  tingginya seperti manusia normal.  Jin ini memang  sering digunakan  untuk mencari dana, namun persyaratanya berat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Jin  Nasbin. Biasanya  kemunculanya dengan suara hening dan tenang, tetapi  biasanya terdengar  suara berdebuk yang keras. Suara berdebum itu  berasal dari bagian tubuh  jin yang jatuh. Biasanya yang jatuh  terlebih dahulu adalah kepalanya  dahulu. Jika sudah berbentuk,  tingginya dua kali ukuran manusia. Meski  menakutkan, namum jin ini  mempunyai harta yang disimpan dalam mulutnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;Untuk  mengambilnya, kita harus memasukan tangan di mulutnya. Padahal dari  luar saja baunya tidak sedap. Mungkin ini termasuk jin yang baik dan  tidak menetapkan suatu persyaratan. Namun, memasukan tangan kedalam  ke-rongkongan yang berlumur lendir, bukanlah suatu yang mudah bagi yang  suka kebersihan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-8515242699531026677?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8515242699531026677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/8515242699531026677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2010/11/asal-usul-bank-gaib-ii.html' title='Asal Usul Bank Gaib II'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_R-gDwkuWbvA/SsZd_wcCbiI/AAAAAAAAAFE/tV20x4mJg4w/s72-c/tumpukan+uang.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-2298135893604488596</id><published>2010-12-01T08:02:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:28:05.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Pengalaman Penggangkatan Harta Gaib</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://nugrozasik.files.wordpress.com/2009/06/uang-kuno1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="162" src="http://nugrozasik.files.wordpress.com/2009/06/uang-kuno1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;pengalaman pribadi&amp;nbsp; seseorang Pencari Harta Gaib:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cerita  ini di mulai pada 3 tahun yang lalu, dimana teman mamat mempunyai  saudara yang cukup mumpuni dalam bidang penarikan2 antara lain pusaka,  mustika, benda gaib, dll.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;kami bertiga pergi kesuatu bukit di daerah utara Jawa yang mana telah di deteksi kalo, bukit itu memang ada Harta Karunnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa sarana telah kami siapkan seperti jenis2 minyak, ubo rampe, dan segala macem ‘tetek bengek’ lainnya.&lt;br /&gt;Kalo dari penelusaran hasil terawang dan komunikasi kami ( WFC dkk ),  harta itu peninggalan zaman kerajaan Majapahit ( zaman Kerajaan ).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami disana setiap malam melakukan ritual dan baru hari ketiga ( 3 )  lah baru barang itu ( emas lantakan ) baru muncul sebanyak 25 batang  dengan gambar mantan presiden Sukarno dan tercantum angka 9999. WFC juga  ga ngerti kok di jaman prabu tajimalela telah ada gambar Sukarno.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah semua itu selesai kami pulang kerumah masing2 dan barang hasil ‘tarikan’ itu kami ‘pagari’ agar tidak hilang kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ke 2 setelah itu, kami pergi kesalah satu sesepuh yang ada di JATENG untuk menanyakan ke aslian barang tersebut. Tapi setelah sampai  disana dinyatakan barang tersebut memang kurang murni karena warna emas  lantakan tersebut sudah agak kehijau2an menurut sesepuh itu, barang yang  asli itu harus berwarna kuning murni dan ‘lembek’.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usut punya usut dalam dunia per goiban ternyata barang yang berwarna  agak kotor atau kusam seperti warna hijau, merah, coklat itu berada pada  lapisan yang paling atas jadi yang asli justru berada paling bawah… (  ghoibya ini dapat menggeser dan mengecoh kita ).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barang harta ghaib seperti ini memang ada tapi bagi kita yang kurang  paham atau mengerti sebaiknya jangan mengikuti atau ikut2an karena dalam  permainan ini atau pencarian ini diperlukan berbagai aspek pendukung  jadi kita ‘ga asal ikut2an orang (nanti malah kena tipu loh :p). Sekain  itu aspek mental dalam menghadapi berbagai kekuatan gaib dari lokasi  penarikan harus jadi yang utama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benda gaib yang berada dalam tanah tentu ada khodam penjaganya dan  untuk menimbulkan / menarik atau memancing benda gaib itu juga dengan  khodam. Macam2 ada yang dg tehnik menggunakan S45Pnya digabung dengan  kemampuan ayat suci al-quran, ada juga yang pake tehnik tenaga dalemnye  dan ada juga dengan bantuan pusaka yang di anggap lebih tua dari khodam  penjaga benda gaib tsb….&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan bisa memakan waktu berhari2 untuk mensetnya segala aspek&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Biasanya setelah isi khodam benda (harta dll ) dapat di tarik, maka secara otomatis wujud bendanya ikut tertarik…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali lagi penarikan Harta Karun ini resikonya sangat besar di  badingkan dengan penarikan lainnya seperti pusaka dll, karena khadam  penjaganya pun powernya tidak main2 disamping umur khodam itu juga sudah  tua2. Dan tentu saja yang menanam / menyimpang harta itu dahulunya juga  seorang yang sangat mumpuni dalam kebatinannya…jadi so kudu sangat2  berhati2…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;tapi kalo ada yang ajak mending ga usah karena goib juga pinter loh  dia bisa mengecoh kita dalam arti dapat menggerser posisi barang yang  akan kita angkat….tapi alhamdullilah kami akhirnya bisa juga merasakan hasil dari jerih payah kami.( di kisahkan langsung oleh pelaku pencari harta Gaib di Semarang.&amp;nbsp; )&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-2298135893604488596?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/2298135893604488596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/2298135893604488596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2010/11/pengalaman-penggangkatan-harta-gaib.html' title='Pengalaman Penggangkatan Harta Gaib'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-843962036155483363</id><published>2010-12-01T07:53:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:28:44.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia pesugihan'/><title type='text'>Rahasia Pencari Harta Karun Emas.</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://posmo.net/PNGs/PERISTIWA/427/cimremai-2.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="166" src="http://posmo.net/PNGs/PERISTIWA/427/cimremai-2.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harta karun gaib baik berupa emas, uang dll memang selalu menarik  perhatian banyak orang. Bukan rahasia lagi, dikalangan petinggi negara  pun kerap berburu harta yang tak tampak ini entah dengan tujuan  memperkaya diri ataupun untuk dengan niatan membantu keterpurukan  ekonomi negara. Nah, pertanyaan adalah benarkah harta karun gaib itu  benar-benar tersedia di alam sana?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jawabannya sebenarnya cukup mudah, yaitu memang harta karun tersebut  benar adanya karena sejumlah orang telah banyak yang berhasil  mengambilnya. Hanya saja mengambil harta tersebut tidaklah semudah  membalikan telapak tangan! &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saking banyaknya orang yang tergiur harta ini terlebih ditengah  kesulitan ekonomi&amp;nbsp; yang memuncak maka banyak pula bermunculan aksi  penipuan orang-orang yang mengaku paranormal yang mampu menarik harta  karun yang biasanya berupa uang atau emas. Padahal orang tsb bukanlah  paranormal sejati dan hanya penipu ulung saja yang akhirnya akan  memperburuk citra paranormal yang baik. Sindikat ini tidak hanya  dilakukan oleh seorang pelaku saja melainkan beberapa orang yang akan  berpura-pura sebagai pasien/klien yang mengaku berhasil menarik harta  karun tsb. Biasanya dalam menipu, mereka membawa mobil bagus untuk  ditunjukan kepada calon korbannya. Setelah korban terpengaruh maka ia  pun akan menyiapkan banyak uang sebagai biaya penarikan harta karun tsb.  Ujung-ujungnya adalah korban gagal mendapat harta karun dan para pelaku  pun raib entah kemana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil perbincangan dengan beberapa praktisi supranatural, dapat  diambil kesimpulan bahwa harta karun gaib itu sendiri dibagi 2 yaitu  yang berasal dari golongan hitam dan putih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Harta karun dari golongan hitam berasal dari mahluk halus sebangsa  jin kafir, siluman ataupun iblis. Ritual ini biasa dinamakan pesugihan,  biasanya mahluk yang ditemui berwujud menyeramkan atau ada unsur  hewannya meski ada juga yang menampakan diri dgn tidak menyeramkan. Para  pelaku harus memuja mereka dan sama sekali tidak boleh menyebut-nyebut  kata-kata kalimah-kalimah suci. Jika dalam ritual tsb misalnya  beristigfar ataupun mengucap subhanallah maka dipastikan akan gagal  ritualnya. Bagi yang berhasil mendapat harta dari jalan hitam ini maka  biasanya mereka harus 'memberi makan' kepada mahluk tersebut yang  disebut tumbal berupa nyawa keluarga, teman atau musuh mereka. Harta  karun dari golongan hitam relatif jauh lebih mudah didapat dibandingkan  harta dari golongan putih karena orang berhati jahat pun bisa  melakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Harta karun dari golongan putih berasal dari khodam malaikat  ayat-ayat tertentu dalam kitab suci Al Quran. Untuk mendapatkan harta  karun ini kesulitannya lumayan tinggi karena kita harus benar-benar  memiliki ahlak yang baik dan lebih utama lagi yang sedang terdesak  kebutuhan ekonomi. Bagi yang niatnya cuma ingin kaya raya jangan harap  berhasil melakukan ritual ini. Niatnya harus baik! misalnya untuk  membayar hutang-hutang yang menumpuk yang bisa mengakibatkan kehancuran  rumah tangga, agar terhindar dari putus asa/bunuh diri akibat tekanan  ekonomi, agar tidak menggadaikan iman ataupun untuk mendapat modal  bisnis guna membangun lapangan kerja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi niat baik saja juga belum cukup. 2.5% dari hasil penarikan harta  tersebut harus disumbangkan kepada yang yang berhak, selain itu  penggunaan harta tsb tidak boleh untuk kemaksiatan. Harta karun dari  golongan putih tidaklah memakai tumbal nyawa. Pengorbanan yang kita  lakukan hanyalah berupa perangkat ritual spt minyak tertentu dan  mewiridkan amalan tertentu (pengorbanan biaya, tenaga dan waktu). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amalan yang dilakukan semuanya meminta kepada Allah dan tidak ada  pemujaan kepada mahluk halus. Jika Allah mengijinkannya maka akan diutus  khodam untuk menemui orang yang membutuhkan tsb. Disebutkan pula oleh  banyak praktisi supranatural, dana ini berasal dari orang kikir yang  tidak berzakat atau bersedekah misalnya mereka akan kehilangan uang  sejumlah tertentu dengan berbagai cara yang kemudian akan berpindah ke  alam gaib. Hal ini disebabkan karena 2.5% kekayaan kita sesungguhnya  bukanlah hak kita melainkan harus diberikan kepada mereka yang  membutuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal penarikan dana gaib, besarnya uang ditentukan oleh  kebutuhan orang tersebut misalnya 100jt, 500jt, 1M dll. Jadi tidak boleh  rakus dalam meminta dana. Ketika bertemu khodam itulah kita  mengutarakan berapa kebutuhan kita sesungguhnya. khodam yang ditemui  biasanya berwujud orang yang nampak sangat berwibawa dan sorot mata yang  tajam. Ketika bertemu sama sekali tidak boleh takut/gentar apalagi lari  karena dipastikan ritualnya akan gagal. Ritual ini pun hanya berlaku  sekali seumur hidup saja. Bagi yang sudah pernah berhasil mendapatkan  dana maka tidak bisa lagi melakukan permohonan.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin diantara kita banyak yang bertanya, jika memang dana gaib itu  ada kenapa tidak paranormal itu saja yang mengambilnya sendiri?  jawabannya adalah karena dana tersebut hanya untuk mereka yang memenuhi  persyaratan atau berhak saja. Jadi sesakti apapun paranormal tsb, ia  tetap tidak akan berhasil jika memang Allah menilai paranormal tsb tidak  berhak mendapatkannya. Jadi biasanya paranormal hanya sekedar perantara  untuk memberikan jalan/ritual/tata cara memohon rejeki dana gaib  langsung ke Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari penjelasan ini maka semoga kita dapat membedakan mana yang haq  dan batil. Sebisa mungkin hendaknya kita berusaha mencari rejeki dengan  cara bekerja atau berbisnis, namun jika segala usaha kita menemui jalan  buntu atau bahkan kehancuran maka tiada guna berputus asa apalagi bunuh  diri atau menggadaikan iman karena sesungguhnya harapan masih selalu  akan ada dengan jalan memohon kepada-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-843962036155483363?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/843962036155483363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/843962036155483363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2010/11/rahasia-pencari-harta-karun-emas.html' title='Rahasia Pencari Harta Karun Emas.'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-7859796423599297622</id><published>2010-11-30T10:05:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:29:35.389+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia gaib'/><title type='text'>Pelaku Pesugihan Bukit Bawang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.rohhalus.com/img/gus_nur.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.rohhalus.com/img/gus_nur.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kisah ini dituturkan  langsung oleh pelaku&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; yang meminta nama aslinya   dirahasiakan. Sebut saja namanya Tarno.  Lelaki dengan seorang istri dan   dua anak anak ini menetap di sebuah  desa kecil yang cukup jauh di  ujung  Kabupaten Kubu Raya. Sebuah desa  yang sepi dari hiruk pikuk,  namun di  tempat itulah Tarno dilahirkan dan  dibesarkan sehingga dapat &lt;img alt="" src="http://wihans.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" title="More..." /&gt;&lt;span id="more-20388"&gt;&lt;/span&gt;menghantarkannya menduduki posisi  terhormat dengan menjadi seorang  suami  sekaligus ayah. Berikut kisah  mistik yang dituturkan Tarno   selengkapnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski hidup dalam keprihatinan, karena  hanya  mengandalkan  penghasilan dari menangkap ikan, namun rumah tangga  kami  terbilang  harmonis. Jika berselisih paham, kami selalu menempuh  jalan  musyawarah.  Hal itu wajib kami terapkan untuk menutupi aib dan  segala  bentuk  kekurangan yang ada dalam rumah tangga kami agar tidak  terdengar  oleh  orang luar. Karena begitulah pesan dari para orang tua  kami.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari  demi hari aku habiskan hanya untuk  bekerja dan bekerja. Hal itu  aku  lakukan, selain sadar akan tanggung  jawabku sebagai kepala rumah  tangga,  juga ingin menggapai harapan dan  cita cita. Yah, mungkin dengan  begitu  ekonomi keluargaku dapat berubah  dan aku bisa menyisihkan  sedikit uang  penghasilanku itu untuk masa  depan anak-anakku dikemudian  hari. Namun  semua itu menjadi sirna,  tatkala aku mulai mengenal yang  namanya judi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berawal  ketika rumahku kedatangan  seorang tamu laki-laki yang  ternyata adalah  Widianto sahabatku, yang  juga berasal dari kampung di  mana aku tinggal  saat itu. Namun dia tak  lagi tinggal di sana, karena  beberapa tahun yang  lalu, dua tahun kalau  tidak salah, bersama  keluarganya, Waidianto pindah  ke kota kecamatan  untuk merubah nasib.  Memang benar, dilihat dari  penampilannya saja,  dia tampak berbeda dari  sebelumnya, lebih rapi dan  perlente. Terlebih  usahanya yang mengalami  banyak kemajuan. Salah  satunya adalah lapak  ikan atau kios tempat  menjual ikan. Dan maksud  kedatangannya saat itu  adalah untuk mengajakku  bekerja sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maksudmu?” Tanyaku tak mengerti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jadi  begini Tar, selama ini kan aku  membeli ikan langsung dari para  nelayan,  yang kemudian ikan tersebut  aku jual kembali di lapakku. Nah,  aku juga  mau kau melakukan hal yang  sama, menangkap ikan dan  menjualnya padaku.  Memang harga yang aku  tawarkan tidaklah besar, namun  kau bisa rutin  menjualnya padaku.  Karena jika kau tetap bertahan  seperti itu, kapan kau  bisa maju,” ucap  Widianto.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku pun tertegun sesaat. Tak dipungkiri   hatiku berbunga-bunga  mendengar tawaran dari sahabatku itu. Namun apa   daya, aku tak sanggup  menjawabnya karena aku sadar akan ketiadaanku.   Yang dapat aku lakukan  hanya tertunduk diam sambil menghela nafas   panjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat itu Widianto melempar simpul ke  wajahku. Kemudian tangannya yang besar memegang pundakku dan  meremas-remasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku  tahu apa yang sedang kau pikirkan.  Masalah kapal motorkan? Kau  tak usah  khawatir, nanti kau bisa gunakan  kapal motorku untuk menangkap  ikan,”  ucap laki-laki berbadan besar  itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mendapat persetujuan  dari  istriku, hari itu juga aku dan  Widiantoberangkat ke kota kecamatan,   dengan membawa segudang harapan  untuk suatu perubahan. Dan sesampainya   di sana, aku langsung menuju  rumah Wahono yang terletak di belakang   pasar untuk mempersiapkan segala  perlengkapan, karena malam itu juga  aku  langsung memulai operasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari dami hari pun aku lalui, dan  tanpa  terasa sudah hampir tiga  bulan aku bekerja pada Wahono. Meski  sangat  sibuk, aku tak pernah lupa  akan janjiku pada istriku untuk pulang  dua  minggu sekali. Namun itu aku  wujudkan hanya pada bulan pertama  saja,  selanjutnya aku tak pernah  lagi menjenguknya. Bahkan tak pernah  lagi  memberikan hasil keringatku  pada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mulai terlena  dan terpengaruh pada  pola hidup bebas dan keras.  Bersama kawan-kawan  baruku, aku mulai suka  mabuk-mabukan, berhubungan  intim dengan wanita  nakal dan aku mulai  suka berjudi. Memang untuk  kebiasaan yang satu ini,  membuat aku  keranjingan. Tak peduli waktu dan  tempat, saat sibuk maupun  santai,  aku manfaatkan untuk bermain berjudi  bersama kawan kawanku.  Entah itu  di kapal motor dengan menggelar tikar,  atau di pelabuhan saat  kapal  motorku berlabuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal jika mau dipikir, pendapatanku   selama bekerja dengan Widianto sangat memuaskan. Berbeda jauh dengan   pendapatanku ketika aku masih  berjualan ikan di kampungku. Yah,   setidaknya jika aku sisihkan dan  kumpulkan, aku bisa membeli lapak   sendiri. Namun apa daya, aku telah  terjebak ke dalam harapan semu, yang   tanpa aku sadari perlahan-lahan  telah menggerogoti kenyataan yang   sesungguhnya telah aku raih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba pada suatu hari, ketika itu aku   kalah banyak. Tak ada lagi uang  yang tersisa di dalam dompet maupun di   dalam saku celana, semuanya  ludes. Demi membalas kekecewaan itu, aku   nekad mencari pinjaman pada  kenalan-kenalanku. Karena aku pikir bulan   depan aku dapat membayarnya  dari hasil keringatku, dan aku akan selalu   begitu setiap akan meminjam  uang dan mengalami kekalahan di meja judi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun  apa lacur, saat hutang semakin  menumpuk, Widianto mengetahui  kegilaanku  dan memutuskan hubungan  kerjasamanya denganku. Sehingga  hidupku pun  terkatung-katung, bahkan  terancam karena tak sanggup  membayar hutang  pada kenalan-kenalanku  itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tengah kebingunganku karena   terus-terusan dikejar hutang, aku pun  memutuskan kembali ke kampung   halamanku dan menjual rumahku beserta  tanahnya yang merupakan warisan   satu-satunya dari peninggalan orang  tuaku. Sementara istri dan  anak-anak  kukembalikan pada orang tuanya.  Selanjutnya aku pun kembali  ke kota  untuk melakukan kegilaan lagi.  Setidaknya ada sisa uang hasil  jual rumah  dan tanah untuk modalku  berjudi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun apes, aku kalah lagi.  Sehingga  saat itu aku benar-benar nekad  meminjam uang pada pak Suryo,  seorang  rentenir yang juga merangkap  sebagai kepala preman yang ditakuti  di  kota kecamatan itu. Tak kepalang  tanggung bunga yang ditawarkan  sangat  besar. Meskipun demikian aku  tetap saja meminjamnya. Namun karena  tak  sanggup membayarnya, aku pun  dikejar-kejar oleh orang suruhan pak   Suryo. Bahkan sampai babak belur  dihajar tukang pukulnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stres  dan bingung itu yang aku rasakan.  Ingin rasanya pulang  kampung, namun  aku malu, malu pada istri dan  kedua anakku, terlebih  malu pada mertuaku.  Di saat posisiku tengah  terjepit itulah, tiba tiba  datang Ruslan, teman  yang aku kenal di meja  judi. Melihat kondisiku  seperti itu dia prihatin  dan menyarankan  supaya aku melakukan ritual  minta kekayaan pada jin  penunggu Bukit  Bawang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa kau sudah gila Lan.  Sebigung-bingungnya aku, tapi masih bisa berpikir waras,” ucapku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Itu  hanya sebatas saran Tar. Karena  aku sangat prihatin dengan  kondisimu  sekarang ini. Sekarang terserah  kau, mau mengikuti saranku  atau memilih  dikejar-kejar tukang pukulnya  pak Suryo,” Ruslan mencoba  meyakinkanku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku  terdiam, namun otakku tak berhenti  berpikir. Mungkin ada  benarnya apa  yang dikatakan oleh Ruslan. Tapi  kedengarannya sangat  sulit dipercaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kau  tak usah khawatir Tar. Itu  tergantung bagaimana kau  meyakininya. Karena  sudah ada beberapa orang  yang berhasil nyegik di  sana,” ujar Ruslan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah  kemenyan sebagai alat ritual  didapat, esok paginya kami pun  meluncur ke  kawasan Bukit Bawang yang  ada di kabupaten tersebut. Satu  hari kurang  lebih jarak tempuhnya.  Sesampainya di sana, kami pun  langsung menemui  pak Suyad, selaku juru  kuncinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya hanya bisa mengantarkan  kamu  saja. Perihal apa yang kamu  lakukan nanti di atas sana, itu urusan   kamu dengan penunggu gaibnya,”  tutur pak Suyad.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum  melangkah, terlebih dahulu  dirinya memberitahukan padaku  bagaimana cara  menggelar ritualnya, yang  ternyata sangat mudah. Cukup  membakar  kemenyan, sembari mengucapkan  apa yang diinginkan, kemudian  bersemedi  selama tiga hari tiga malam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Memang kedengarannya sangat mudah,   namun cobaannya cukup berat.  Selama ini hanya ada dua orang saja yang   mampu menjalani semedi sampai  selesai,” terang laki-laki tua bertubuh   kurus dan kecil itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya kami pun melangkah menuju  bukit  yang tak jauh di  belakang rumah sang juru kunci. Kemudian  mendakinya  perlahan-lahan. Tak  lama sampailah kami pada sebuah batu  besar yang  menghampar membentuk  lempengan yang ukurannya sangat luas  pula. Orang  kampung menyebutnya  batu bendera dan letaknya tepat di  bagian sisi atas  bukit menghadap ke  perkampungan penduduk. Di tempat  inilah nantinya aku  akan melakukan  semedi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut cerita yang berkembang di   masyarakat, konon, pada batu yang  berdiri tegak tak jauh dari batu   bendera pernah ditemukan rambut dan  kulit kepala manusia yang menempel,   milik seorang tua yang puluhan  tahun melakukan tapa brata. Dan usai   mengantarkanku, Ruslan dan pak  Suyad segera kembali ke bawah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari  beranjak gelap. Tinggal aku  sendiri di tepi hutan itu.  Selanjutnya  lepas Maghrib aku segera  memulai ritual yang kuawali dengan  membakar  kemenyan. Sambil duduk  bersila, kuucapkan keinginanku pada  penguasa gaib  tempat itu, kemudian  bersemedi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam pertama aku sama sekali  tak  mengalami gangguan apa pun. Hanya  suara-suara binatang malam yang   terdengar dan itu kuanggap hal biasa.  Namun pada malam kedua, hal-hal   aneh mulai aku alami. Suara tawa wanita  dari dalam hutan, suara langkah   kaki yang tak henti-hentinya  mengitariku, dan kejadian-kejadian lain   yang menyeramkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun yang membuat aku sangat takut  ketika  sebuah benda jatuh di  atas pangkuanku. Lebih terkejut lagi saat  aku  merabanya ternyata sebuah  kepala. Tak ayal cepat-cepat benda  tersebut  kubuang. Tapi aneh, ketika  tanganku kembali kuletakan di atas  paha,  kepala tadi sudah ada lagi di  pangkuanku, setelah itu hilang  entah  kemana. Tak ada yang kupikirkan  saat itu kecuali pergi  meninggalkan  tempat itu. Namun ketika teringat  hutang-hutangku pada  pak Suryo, rasa  takut pun menjadi sirna. Sehingga  yang ada hanya  keinginan untuk tetap  bertahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampailah aku pada malam terakhir, yang  merupakan  bagian puncak dari  usahaku itu. Tak dapat kuprediksi apa  yang akan  terjadi. Mengingat pak  Suyad sendiri tak menceritakan pada  bagian itu.  Dia hanya berpesan,  jika di hadapanku muncul sesuatu,  utarakan langsung  semua  permasalahanku, namun jangan pernah membuka  mata, karena aku tak  akan  sanggup melihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku pun kembali membakar kemenyan   kemudian menyimpan pembungkusnya  yang terbuat dari kain ke dalam saku   celana. Selanjutnya aku hening.  Memang luar biasa, baru sejam aku   bersemedi, tiba-tiba aku mendengar  suara tawa wanita dari dalam hutan   yang seperti terbang mendekatiku.  Tidak satu, melainkan ramai dan   semakin malam semakin ramai. Terdengar  pula olehku raungan   binatang-binatang aneh yang menyebabkan seluruh  badanku berkeringat   menahan takut yang mulai merasukiku. Tak lama aku  merasa seekor ular   besar melilit tubuhku dan suara desisannya sangat  jelas terdengar di   telingaku. Jujur, keinginan untuk lari dari tempat  itu muncul kembali,   namun hutang-hutangku membuat aku kembali bertahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak lama  kemudian, dari dalam hutan  sayup-sayup aku mendengar suara  deru angin  yang perlahan-lahan  mendekat. Kemudian menghilang bersamaan  dengan  keanehan-keanehan tadi.  Dan suara tawa pun menggelegar di  depanku, berat  dan menyeramkan. Tak  ayal tubuhku menggigil dan keringat  dingin pun  bercucuran dari lubang  pori.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang dipesankan oleh pak  Suyad,  aku tak berani membuka mata.  Langsung saja aku utarakan maksud  dan  tujuanku kepada jin penguasa  Bukit Bawang yang tengah berada di   hadapanku itu dengan terbata-bata.  Tak banyak yang kupinta saat itu,   hanya meminta nomor buntut, dan  makhluk itu pun menyanggupinya dengan   syarat setiap malam Jumat Kliwon  aku harus menyembelih seekor ayam  hitam  di tempat aku bersemedi. Jika  tidak, dia akan mengambil kembali   kekayaanku dan aku pun  menyanggupinya. Selanjutnya makhluk itu lenyap   entah kemana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesampainya di rumah Ruslan, aku segera   mengeluarkan kain tempat aku  membungkus kemenyan sebelumnya. Pada kain   itu tertulis empat buah  angka yang nantinya harus aku pasang pada  bandar  kode buntut.&amp;nbsp; Benar  saja, percaya atau tidak, setelah aku  pasang angka  tersebut ternyata  keluar. Karena aku pasang besar, tak  kepalang tanggung  uang yang  kudapat pun berlimpah. Selain aku dapat  melunasi  hutang-hutangku plus  bunganya pada pak Suryo, aku pun bisa  membeli ruko.  Di situlah aku  tinggal dan membuka usaha jual beli emas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya  semua yang ku  miliki itu tak  bertahan lama. Dikarenakan aku terlalu  sibuk, sehingga  lupa akan  janjiku pada sang penguasa Bukit Bawang. Pada  akhirnya  kekayaan yang  kudapat itu pun berangsur menyusut. Dan aku pun  kembali  pada keadaanku  semula. Karena tak ada lagi yang dapat aku  lakukan di  kota itu, aku  memutuskan untuk kembali ke kampung halamnku,  dan memulai  kehidupan  dari nol lagi bersama istri dan kedua anakku. Aku   sungguh-sungguh  bertobat tidak akan melakukan hal itu lagi, semoga Allah   mengampuni  segala dosaku.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1752607228744287278-7859796423599297622?l=mbahgundul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7859796423599297622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1752607228744287278/posts/default/7859796423599297622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mbahgundul.blogspot.com/2010/11/pelaku-pesugihan-bukit-bawang.html' title='Pelaku Pesugihan Bukit Bawang'/><author><name>dunia lain</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04479168793300175949</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1752607228744287278.post-3435891435167937736</id><published>2010-11-27T14:15:00.000+07:00</published><updated>2011-01-16T11:16:44.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia gaib'/><title type='text'>PERTAMA KALI SOWAN KE-NYAI RORO KIDUL RATU LAUT SELATAN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://moeflich.files.wordpress.com/2008/01/dsc01570.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://moeflich.files.wordpress.com/2008/01/dsc01570.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;etelah            lilin itu dinyalakan, kemudian lampu kamar dimatikan, aku  diharuskan            memandangi nyala apinya selama beberapa menit sambil  berkonsentrasi,            kemudian memejamkan mataku.            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;           &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aneh, nyala api lilin seakan masih ada didepan  mataku,            padahal aku sudah memejamkan mata, terdengan guru pembimbing            spiritualku berkata : " sebutkan warna-warna nyala api lilin  yang kau            lihat ", memang kemudian muncul nyala lilin warna merah, biru,  kuning,            hijau, bergantian, ada yang dua-tiga kali muncul, malah warna  hitam            juga muncul, setiap kusebutkan dicatat dengan teliti oleh guru             pembimbingku.            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Setelah             nyala api lilin kemudian tidak muncul lagi maka lampu kamar  dinyalakan            dan diperlihatkan kepadaku catatan deretan warna-warna yang  muncul            saat aku memejamkan mata.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;                                                                               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;                                                                    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;                                           &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;                                           &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;                                           &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Setelah  mempelajari                                            catatan itu beberapa saat dan                                            membandingkannya dengan  beberapa                                            catatan sebelumnya, kemudian  dia                                            menganggukan kepalanya, "  Bagus ",                                            katanya, " Mulai malam ini  sudah bisa                                            dilakukan upacara meraga sukma  ". Aku                                            sangat gembira karena tak  sia-sialah                                            usahaku mempersiapkan segala                                            sesuatunya agar aku bisa  meraga sukma,                                            keluar dari tubuhku dan pergi  kealam                                            gaib yang sejak lama sangat                                            kudambakan.                                            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;           &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Tujuh             simpul gaib ditubuhku dibuka olehnya, agar roh-ku bisa  melepaskan diri            dari raga-ku dan pergi berpetualang kealam gaib. Setelah  beberapa kali            mengadakan peneropongan secara gaib maka aku disuruh meditasi,             menjalani ritual khusus, yaitu cara atau kunci agar bisa  melepaskan            diri dari kurungan raga, setelah sebelumnya berdoa minta  perlindungan            kepada Tuhan......... Allah SWT.                                                                               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;           &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px 15px 0pt 25px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;                                           &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;                                           &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;                                           &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;                                           Saudaraku  yang                                            dari Solo telah sejak lama  bisa meraga                                            sukma dan menceritakan banyak                                            pengalamannya yang fantastis                                            (menurutku), dan membuatku  sangat                                            takjub dan tertarik untuk  mempelajari                                            ilmu ini, apalagi setelah  dijelaskan                                            bahwa kalau telah menguasainya  dengan                                            sempurna, maka batas ruang dan  waktu                                            menjadi tidak ada. Maksudnya  adalah,                                            bisa melihat kejadian-kejadian  apa                                            saja dan dimana saja, kapan  saja, dari                                            kamar tempat kita meditasi  tanpa                                            dibatasi oleh ruang dan waktu,  selain                                            tentunya bertemu dengan  mahluk-mahluk                                            alam gaib yang kasat mata.                                                                                                               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;           &lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px 15px 0pt 25px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;                                           &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;                                           &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;                                           &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Setelah menjalani  ritual                                            yang disuruh oleh guru  pembimbingku,                                            kemudian aku disuruh melompat  keluar                                            melalui ubun-ubun kepalaku,  tentu saja                                            aku bingung, bagaimana  caranya, akan                                            tetapi kucoba untuk  melakukannya,                                            yaitu roh-ku melompat keluar  dari                                            raga-ku                                            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;           &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekali, dua kali gagal, yang ketiga kalinya  sepertinya            berhasil. Tiba-tiba aku sangat terkejut dan hampir berteriak  kaget            karena melihat diriku sedang duduk dengan serius dihadapanku  melakukan            meditasi. Lho koq bagaimana ini, aku bisa melihat diriku  sendiri            berada dihadapanku. Lalu aku sendiri yang sedang melihat  diriku ini            apa ?. Terdengar suara guru pembimbingku mengingatkan agar aku             janganlah takut atau terkejut dengan kejadian ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;           &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ternyata saat ini aku sedang berada dalam alam  yang            bersinar kebiruan, dan anehnya aku bisa melihat ketempat yang  gelap            sekalipun dengan jelas.            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: white; font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; margin: 0px 15px 0pt 25px; text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,Geneva,Swiss,SunSans-Regular; font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial Rounded MT Bold; font-size: xx-small;"&gt;&lt;span style="font-family: A
